PERISTIWA

Nobar Film “Pesta Babi” di Trenggalek Berlangsung Aman, Meski Sempat Ada Imbauan

×

Nobar Film “Pesta Babi” di Trenggalek Berlangsung Aman, Meski Sempat Ada Imbauan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pelaksanaan nobar film pesta babi di pondok pesantren al falah.
Inti Berita:
• Nobar film Pesta Babi di Trenggalek berlangsung aman tanpa pembubaran.
• Gus Zakki menegaskan kegiatan tersebut bukan tindakan makar dan tetap mendukung NKRI, TNI, serta Polri.
• Film dokumenter itu dinilai menjadi refleksi penting soal lingkungan, konflik agraria, dan perlindungan masyarakat adat.

SUARA TRENGGALEK – Puluhan santri Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi pada Senin (11/5/2026) malam.

Kegiatan yang berlangsung di halaman pondok tersebut berjalan aman hingga film selesai diputar tanpa adanya pembubaran.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Kedunglurah, Agus H Muh. Izuddin Zakki mengatakan, sebelum pemutaran film aparat keamanan sempat memberikan sejumlah imbauan dan rambu-rambu agar kegiatan berjalan kondusif.

Menurutnya, pihak pondok mengikuti seluruh arahan aparat demi menjaga keamanan selama acara berlangsung.

“Ya ada saran dan imbauan seperti itu. Kita turuti apa yang diinstruksikan dari aparat. Tentunya ini untuk kebaikan kami juga,” ujar Gus Zakki.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada aparat keamanan yang telah melakukan pengamanan selama kegiatan berlangsung.

“Kita apresiasi dan terima kasih kepada aparat yang sudah mengamankan jalannya nonton bareng acara ini sehingga aman dan terkendali,” imbuhnya.

Gus Zakki mengungkapkan, kegiatan nobar tersebut merupakan inisiatif pribadinya setelah melihat ilustrasi dan penjelasan film karya Dhandy Dwi Laksono di media sosial.

Selanjutnya, ia mengajak sejumlah komunitas pecinta lingkungan di Trenggalek untuk ikut terlibat.

“Akhirnya kami menghubungkan komunitas-komunitas yang ada di Kabupaten Trenggalek yang memang selama ini berkolaborasi mencintai alam,” katanya.

Menurut Ketua GP Ansor Trenggalek tersebut, persoalan lingkungan dan masyarakat adat di Papua juga perlu menjadi perhatian bersama.

Ia menilai masyarakat berhak mendukung upaya perlindungan alam dan keadilan sosial.

“Ketika ada sesuatu di Papua maka kita juga tergerak untuk ikut mendukung gerakan yang ada di sana,” ucapnya.

Meski demikian, Gus Zakki menegaskan kegiatan nobar tersebut tidak berkaitan dengan tindakan makar maupun upaya melemahkan kepercayaan kepada pemerintah, TNI, maupun Polri.

“Tidak usah khawatir. Kita tetap NKRI, tetap mendukung TNI dan Polri. Kita hanya ingin Indonesia menomorsatukan rakyat Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, pesan utama yang ingin ditanamkan kepada para santri adalah menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam.

“Kita menjaga hubungan kepada Allah, sesama manusia, dan yang paling penting jangan lupa menjaga hubungan kepada alam,” ujarnya.

Menurutnya, manusia tidak boleh merusak alam dengan alasan apa pun selama masih berada dalam koridor hukum yang berlaku.

“Kita negara hukum. Apa yang kita lakukan selama tidak melanggar hukum ya tidak usah takut,” tandasnya.

Sementara itu, tokoh Muhammadiyah Trenggalek, Suripto menilai film Pesta Babi merupakan karya dokumenter investigatif yang mengangkat dampak proyek food estate dan perkebunan di Papua Selatan.

Ia menjelaskan, judul Pesta Babi bersifat metaforis untuk menggambarkan perebutan sumber daya alam oleh oligarki, korporasi, dan negara.

“Di mana masyarakat adat hanya bisa melihat ruang hidup mereka dijarah,” ujar Suripto.

Menurut Ketua STAIM Tulungagung tersebut, film itu memperlihatkan bagaimana hutan adat bagi masyarakat Papua bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi bagian dari identitas dan eksistensi mereka.

“Penghancuran hutan adalah penghancuran eksistensi,” tegasnya.

Suripto menambahkan, film tersebut juga menyoroti persoalan krisis ekologis dan konflik agraria yang terjadi di Papua akibat pembangunan berskala besar.

“Film ini layak ditonton sebagai pelajaran dan bahan refleksi untuk masyarakat Trenggalek yang juga mengalami ancaman sumber daya alam dalam konteks berbeda,” pungkasnya.