Intinya Sih
• Komisi IV DPRD Trenggalek menyoroti pelayanan poli jantung RSUD yang menangani lebih dari 200 pasien hanya dengan satu dokter spesialis.
• DPRD menilai kondisi tersebut tidak ideal dan berpotensi memengaruhi akurasi diagnosis pasien.
• Dewan meminta RSUD segera menambah dokter spesialis, termasuk melalui kerja sama atau MoU jika belum bisa merekrut ASN.
SUARA TRENGGALEK – Komisi IV DPRD Trenggalek prihatin dengan pelayanan di poli spesialis jantung RSUD dr. Soedomo Trenggalek.
Keprihatinan tersebut disebabkan karena satu dokter spesialis jantung harus menangani 200 pasien lebih dalam sehari kerja.
Bahkan pihaknya mempertanyakan diagnosa yang dihasilkan oleh dokter tersebut, karena dinilai tidak akan maksimal.
Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin menyoroti membludaknya jumlah pasien di poli spesialis jantung RSUD yang dinilai sudah melebihi batas ideal pelayanan.
Menurut Sukarodin, pihaknya menerima banyak keluhan masyarakat terkait pelayanan poli spesialis jantung yang harus menangani lebih dari 200 pasien dalam sehari hanya dengan satu dokter spesialis.
“Ini luar biasa sampai 200 lebih pasiennya. Didiagnosa oleh satu dokter waktunya sore hari pisan,” ujar Sukarodin, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, dokter spesialis tersebut sebelumnya juga harus menjalani pelayanan di Ponorogo sejak pagi hari sebelum melanjutkan praktik di Trenggalek hingga larut malam.
“Paginya di Ponorogo sekitar jam 07.00 lebih sampai jam 08.00 baru dimulai pelayanan sampai jam 01.00 malam bahkan,” ungkapnya.
Kondisi tersebut dinilai memprihatinkan dan tidak boleh terus terjadi karena berpotensi memengaruhi kualitas diagnosis terhadap pasien.
“Ini memprihatinkan saya kira dan ini ndak boleh terjadi tentunya karena seorang dokter itu kalau mendiagnosa 200 lebih ini ndak masuk akal. Bagi kami ini ndak masuk akal,” tegasnya.
Sukarodin menyebut, idealnya satu dokter spesialis maksimal menangani sekitar 40 pasien per hari agar pelayanan tetap optimal.
“Tinggal prinsipnya satu dokter spesialis itu idealnya menangani maksimal 40 pasien,” katanya.
Dengan jumlah pasien mencapai 200 orang, menurutnya setidaknya diperlukan empat dokter spesialis untuk menangani pelayanan di satu poli.
“Kalau tadi ada yang sampai sehari 200 berarti mestinya spesialisnya empat dokter, satu poli saja,” imbuhnya.
Ia pun meminta RSUD segera mengambil langkah konkret untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis tersebut.
Jika belum memungkinkan merekrut ASN, rumah sakit diminta melakukan kerja sama atau MoU dengan tenaga dokter spesialis dari luar daerah.
“Kalau belum bisa cari ASN ya tentu MOU. Dengan cara itu kemudian dibiayai oleh BLUD,” jelas Sukarodin.
Selain itu, Sukarodin juga mendorong adanya koordinasi antara rumah sakit, Dinas Kesehatan, dan BPJS Kesehatan untuk mengatur distribusi pasien agar pelayanan tidak menumpuk pada satu dokter.
“Itu kemudian berikut untuk pasien spesialis yang pasiennya banyak ini mesti berbagi,” ujarnya.
Ia menilai penambahan jumlah dokter spesialis sangat penting agar tingkat akurasi diagnosis lebih baik dibandingkan jika satu dokter dipaksa menangani ratusan pasien dalam sehari.
“Kalau pasiennya itu di atas 40, dokter spesialisnya ya maju dua. Kalau lebih dari 90, ya maju tiga,” ucapnya.
Sukarodin juga meminta RSUD lebih serius menarik minat dokter spesialis agar mau bertugas di Trenggalek, termasuk dengan peningkatan insentif.
“Untuk dokter spesialis jantung dengan bahasa ekstremnya berapapun monggo. Karena kita ada istilah ada gula ada semut,” tandasnya.











