Inti Berita:
• Bencana kekeringan di Kabupaten Trenggalek meluas hingga berdampak pada 57 desa per 1 Oktober 2026.
• BPBD Jawa Timur menyalurkan bantuan berupa 150 lembar terpal, makanan siap saji, peralatan dapur, dan perlengkapan kelompok rentan untuk membantu warga terdampak.
• Kalaksa BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmono mengonfirmasi air bersih telah didistribusikan ke 51 desa.
SUARA TRENGGALEK – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Trenggalek hingga kini masih berlangsung.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memberikan bantuan untuk mendukung penanganan dampak kekeringan di Kabupaten Trenggalek.
Bantuan tersebut berupa sekitar 150 lembar terpal, makanan siap saji, peralatan dapur, serta sejumlah perlengkapan lainnya untuk mendukung kebutuhan warga terdampak.
Kalaksa BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan bantuan tersebut telah tiba di Trenggalek.
Menurutnya, untuk bantuan terpal dan tandon, BPBD Trenggalek sebelumnya mengajukan kebutuhan tersebut untuk warga yang terdampak kekeringan.
“Di samping terpal ada dukungan logistik seperti makanan siap saji, kemudian peralatan dapur dan kelengkapan yang lain untuk anak-anak, ibu, kelompok rentan dan sebagainya,” terang Triadi Atmono, Kamis (1/10/2026).
Ia menambahkan, bantuan tersebut juga mencakup peralatan yang dapat digunakan untuk menunjang penanganan apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.
Untuk bantuan terpal, jumlah yang diterima BPBD Trenggalek sekitar 150 lembar.
“Kurang lebih 150 terpal,” bebernya.
Triadi menyebut ukuran terpal tersebut diperkirakan sekitar 4 meter x 6 meter. Namun, ia belum memastikan seluruh terpal memiliki ukuran yang sama.
“Kalau ukurannya estimasi antara 4 x 6 kalau tidak salah, atau 3 x berapa begitu untuk ukurannya,” jelasnya.
Sementara untuk bantuan tandon air, Triadi menjelaskan proses pengadaannya masih berlangsung. Tandon tersebut harus melalui proses fabrikasi oleh perusahaan.
Ia mengatakan penyaluran bantuan tandon dan terpal dilakukan berdasarkan kebutuhan desa yang terdampak kekeringan.
“Karena kan fabrikasi. Jadi dari perusahaan maksudnya, penyaluran terpal dan tandon sendiri dari BPBD melakukan,” ujarnya.
Berdasarkan pembaruan data BPBD Trenggalek, wilayah yang terdampak kekeringan saat ini mencapai 57 desa.
Triadi yang juga menjabat sebagai Pj Sekretaris Daerah Trenggalek mengatakan, BPBD Trenggalek telah mendistribusikan bantuan air bersih ke 51 desa.
“Sebagaimana update hari ini, kurang lebih yang terdampak kekeringan kita mencapai 57 desa. Kita kemarin sudah mendistribusikan air bersih di 51 desa,” imbuhnya.
Selain mendistribusikan air bersih, BPBD Trenggalek juga melakukan asesmen untuk menentukan kebutuhan bantuan di masing-masing desa.
Triadi menerangkan, bantuan yang disiapkan meliputi tandon, terpal, dan jeriken. Namun, jumlah bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kondisi serta jumlah warga yang terdampak di setiap desa.
“Desa-desa yang kita lakukan asesmen dan kita berikan bantuan tandon plus terpal dan dirigen. Ini yang kita siapkan,” akuinya.
Menurut Triadi, setiap desa perlu menyampaikan proposal terkait kebutuhan bantuan. Hal itu dilakukan karena jumlah warga terdampak kekeringan di setiap desa berbeda-beda.
“Desa-desa juga harus menyampaikan proposal berkaitan keperluan kebutuhan karena masing-masing desa tidak sama jumlah warga yang terdampak,” katanya.
Disinggung mengenai perkembangan cuaca dan prediksi berakhirnya musim kemarau, Triadi menyampaikan berdasarkan perkiraan BMKG masih terdapat kemungkinan hujan dalam beberapa hari ke depan.
Namun, hujan yang turun diperkirakan belum langsung mengakhiri kondisi kemarau dan kekeringan.
“Kalau menurut estimasi cuaca berdasarkan perkiraan BMKG, sebetulnya sisa dari El Nino itu kan masih ada. Jadi mungkin tiga sampai empat hari ke depan ada hujan, tapi semacam membasahi,” ulasnya.
Dengan kondisi tersebut, Triadi menegaskan penanganan kekeringan masih perlu dilakukan sembari menunggu perubahan kondisi cuaca yang lebih signifikan.











