Inti Berita:
• Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan anggaran sebesar Rp240,20 triliun untuk pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2027.
• Sebesar Rp232,88 triliun (96,95 persen) dialokasikan khusus untuk Program Pemenuhan Gizi Nasional, sedangkan sisanya untuk dukungan manajemen.
• Anggaran MBG tidak hanya dipakai untuk pembelian makanan, tetapi juga penguatan sistem informasi, edukasi, kemitraan, hingga pemantauan tata kelola.
SUARA TRENGGALEK – Badan Gizi Nasional (BGN) mengajukan anggaran sebesar Rp240,20 triliun untuk tahun 2027. Anggaran tersebut disiapkan untuk memastikan keberlanjutan dan optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala BGN Sudaryono menyampaikan usulan tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IX DPR RI yang membahas Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA-K/L) BGN Tahun 2027, Kamis (3/9/2026).
Sudaryono menjelaskan, penyusunan anggaran BGN melalui dua tahap penetapan, yakni Pagu Indikatif dan Pagu Anggaran.
“Pagu Indikatif berdasarkan Surat Bersama Pagu Indikatif sebesar Rp270,20 triliun, sedangkan Pagu Anggaran berdasarkan Surat Bersama Pagu Anggaran sebesar Rp240,20 triliun. Angka Rp240,20 triliun inilah yang menjadi dasar Rencana Kerja dan Anggaran yang kami sampaikan pada hari ini,” ujar Sudaryono.
Dengan demikian, terdapat penyesuaian anggaran sebesar Rp30 triliun dari Pagu Indikatif menjadi Pagu Anggaran.
Anggaran Rp240,20 triliun tersebut menjadi landasan BGN untuk melanjutkan Program Pemenuhan Gizi Nasional pada 2027.
Dari total anggaran tersebut, Rp232,88 triliun atau 96,95 persen dialokasikan untuk Program Pemenuhan Gizi Nasional. Sedangkan Rp7,33 triliun atau 3,05 persen dialokasikan untuk Program Dukungan Manajemen.
Dalam Program Pemenuhan Gizi Nasional, alokasi untuk MBG mencapai Rp232,50 triliun atau 99,84 persen.
Anggaran tersebut mencakup penyediaan makanan bergizi bagi peserta didik, guru, tenaga kependidikan, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Bukan Hanya untuk Penyediaan Makanan
Sudaryono menegaskan, anggaran BGN tidak hanya digunakan untuk penyediaan makanan bergizi.
Anggaran tersebut juga diarahkan untuk memperkuat berbagai komponen pendukung penyelenggaraan program secara menyeluruh.
“Di dalamnya juga terdapat dukungan terhadap sistem informasi, promosi dan edukasi, kerja sama dan kemitraan, pemberdayaan masyarakat, pemantauan dan pengawasan, serta penguatan tata kelola,” kata Sudaryono.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya BGN membangun sistem pemenuhan gizi yang berkelanjutan.
Pelaksanaan MBG diharapkan tidak hanya berorientasi pada penyediaan makanan bagi penerima manfaat, tetapi juga didukung sistem penyelenggaraan program secara menyeluruh.
Target 72,46 Juta Penerima MBG
Pada 2027, BGN menargetkan Program MBG menjangkau 72.464.886 penerima manfaat.
Target tersebut terdiri atas 60.599.777 peserta didik serta 11.865.109 ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Jumlah tersebut berada di atas basis RPJMN 2027 yang menetapkan target penerima manfaat sebesar 64,94 juta orang.
Dengan target tersebut, cakupan penerima MBG diproyeksikan semakin luas pada 2027.
BGN menyatakan anggaran yang disusun akan digunakan untuk memastikan pelaksanaan MBG berjalan optimal.
Penguatan program mencakup sistem informasi, edukasi, kemitraan, pemberdayaan masyarakat, pemantauan, pengawasan, serta tata kelola.











