TEKNOLOGI

Aplikasi Kamus Al-Munawwir, Warga Trenggalek Transformasi Dari Buka Jadi Digital

×

Aplikasi Kamus Al-Munawwir, Warga Trenggalek Transformasi Dari Buka Jadi Digital

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ahmad Aly Musyafa, warga Desa Kamulan Trenggalek.
Inti Berita:
• Ahmad Aly Musyafa’ (51), warga Desa Kamulan, Durenan, Trenggalek, membuat aplikasi digital Kamus Al-Munawwir.
• Proses digitalisasi kamus karya KH Ahmad Warson Munawwir itu diselesaikan dalam waktu 13 bulan.
• Musyafa’ mengaku ingin menjaga tradisi berkarya di kalangan santri dan mengembangkan karya ulama ke format digital.

SUARA TRENGGALEK – Semangat berkarya di kalangan santri terus hidup di tengah perkembangan teknologi.

Salah satunya ditunjukkan oleh Ahmad Aly Musyafa’ (51), warga Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, yang berhasil mendigitalisasi Kamus Al-Munawwir karya ulama ternama KH Ahmad Warson Munawwir dalam bentuk aplikasi.

Musyafa’ mengaku membutuhkan waktu sekitar 13 bulan untuk menyelesaikan aplikasi kamus bahasa Arab tersebut. Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap di sela-sela aktivitas sehari-harinya.

“Saya buat 13 bulan. Saya tulis santai, kalau ada pekerjaan saya bekerja, kalau nganggur saya mengetik. Misalkan tidak ada sampingan lainnya bisa cepat lagi,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Kamis (28/5/2026).

Mantan santri Pondok Pesantren Lirboyo Kediri itu mengatakan, motivasinya membuat aplikasi tersebut berangkat dari keyakinan bahwa santri harus terus berkarya dan menjaga keberlanjutan khazanah keilmuan Islam.

Menurutnya, tradisi kepesantrenan selama ini berkembang melalui karya para ulama yang terus dipelajari dan dikembangkan lintas generasi.

“Maka santri harus tetap berkarya semampunya. Kalau tidak mampu menyaingi ulama-ulama yang dulu-dulu ya bisanya menjiplak mengembangkan dari buku ke digital. Kalau bisanya itu ya itu yang kita lakukan,” katanya.

Dalam proses penyusunan aplikasi yang memuat ribuan kosakata dari kamus legendaris tersebut, Musyafa’ mengaku tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi.

Kesibukannya sebagai masyarakat agraris kerap membuat proses pengetikan harus terhenti sementara.

“Ya kadang kita sewaktu panen, itu sudah tidak bisa kontinu mengetik. Tidak bisa, ya harus libur beberapa hari karena kesibukan-kesibukan seperti itu,” ujarnya.

Sebagai bentuk penghormatan kepada penulis asli Kamus Al-Munawwir, Musyafa’ juga berupaya bersilaturahmi dengan keluarga almarhum KH Ahmad Warson Munawwir di Krapyak, Yogyakarta.

Namun, ia belum berkesempatan bertemu langsung dengan ahli waris sang ulama.

Saat berkunjung, ia hanya sempat berziarah ke makam KH Ahmad Warson Munawwir.

Sementara niatnya untuk bertemu Gus Fairuz belum terlaksana karena yang bersangkutan sedang menghadiri kegiatan lain di Kediri.

“Saat itu Gus Fairuz sedang menghadiri acara haul mertua di wilayah Papar, Kediri, sehingga pertemuan tersebut belum bisa terealisasi,” tuturnya.

Ketika ditanya mengenai keunggulan aplikasinya dibanding platform serupa, Musyafa’ memilih merendah. Baginya, setiap aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“Sama saja, kalau aplikasi itu ada plus minusnya. Cuma tinggal niat atau tujuan dari aplikasi itu dibuat untuk apa, itu saja yang membedakan,” katanya.

Saat ini, aplikasi Kamus Al-Munawwir digital tersebut masih digunakan secara terbatas, terutama di lingkungan pesantren dan kalangan yang masih aktif mengajar kitab.

Menurut Musyafa’, tidak semua alumni pesantren masih membutuhkan kamus bahasa Arab setelah kembali ke masyarakat. Pengguna aplikasi mayoritas berasal dari kalangan santri dan pengajar kitab yang masih aktif.

Ia juga mengaku belum melakukan promosi secara luas. Aplikasi tersebut dibiarkan berkembang secara alami dari pengguna ke pengguna.

“Bahasa Jawanya sak mlakune (berjalan mengalir apa adanya). Kami belum begitu berani. Artinya, saya sendiri tidak berusaha memviralkan juga tidak,” ujarnya.

Melalui aplikasi tersebut, Musyafa’ berharap dapat meninggalkan warisan ilmu yang bermanfaat bagi generasi mendatang, sebagaimana para ulama terdahulu yang meninggalkan berbagai karya keilmuan.

“Sebagaimana ulama-ulama terdahulu yang selalu meninggalkan karya berharga bagi generasi penerusnya,” katanya.

Saat ini aplikasi Kamus Al-Munawwir belum tersedia di Google Play Store. Namun masyarakat, santri maupun akademisi dapat mengunduhnya secara gratis melalui tautan Google Drive yang dibagikan melalui blog resmi PC LFNU Trenggalek.

“Masyarakat dapat mengunduh dan menggunakannya secara cuma-cuma tanpa dipungut biaya,” pungkasnya.