PERISTIWA

Rawan Longsor Musim Hujan Pasca Kemarau, Kerentanan Lereng dan Langkah Mitigasinya

×

Rawan Longsor Musim Hujan Pasca Kemarau, Kerentanan Lereng dan Langkah Mitigasinya

Sebarkan artikel ini
Hujan
Istimewa.

SUARA TRENGGALEK – ​Kombinasi hujan pasca-kemarau panjang dan hilangnya tutupan vegetasi memicu risiko tanah longsor di kawasan berbukit.

Redaksi mencoba melansir dari berbagai sumber resmi atas imbauan para pakar dalam peningkatan kewaspadaan.

​Mekanisme Pergerakan Tanah Akibat Infiltrasi Air dan Deforestasi

Memasuki musim hujan setelah periode kemarau panjang, wilayah berbukit dan pegunungan di Indonesia menghadapi ancaman serius bencana tanah longsor.

Kajian dari BMKG, Badan Geologi ESDM, BNPB, serta peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) mengonfirmasi bahwa longsor terjadi akibat interaksi faktor alam dan degradasi lingkungan.

​Saat kemarau, permukaan tanah di lereng mengalami kekeringan ekstrem hingga membentuk retakan.

Ketika hujan berintensitas sedang hingga tinggi turun secara terus-menerus, air meresap cepat dan membuat tanah mencapai titik jenuh (saturated).

Peningkatan tekanan air pori menurunkan kuat geser tanah secara drastis, sehingga massa tanah pada lereng curam mudah meluncur down-slope.

​Kondisi ini diperparah oleh hilangnya jaringan akar pohon akibat deforestasi atau alih fungsi lahan di kawasan hulu.

Pakar Hidrologi Hutan UGM, Dr. Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa gundulnya hutan menghilangkan fungsi hidrologis penahan erosi, sehingga air hujan langsung menjadi limpasan permukaan (runoff) yang memicu longsor dan banjir bandang.

​Karakteristik Lereng Rentan dan Pemicu Cuaca Ekstrem

Guru Besar Teknik Geologi UGM, Prof. Dwikorita Karnawati, membeberkan bahwa wilayah pegunungan umumnya tersusun atas tanah lapukan tebal yang gembur di atas lapisan kedap air.

Kondisi tersebut menciptakan bidang gelincir yang sangat licin ketika tersiram hujan deras.

​BMKG turut mengingatkan bahwa setelah hujan berlangsung dalam hitungan minggu, ambang batas kejenuhan tanah akan semakin tipis.

Pada kondisi ini, curah hujan berintensitas sedang pun sudah cukup kuat untuk memicu pergerakan tanah susulan.

​Dampak dari bencana hidrometeorologi ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga merusak pemukiman, memutus akses jalan dan jembatan, melumpuhkan sektor pertanian, serta memicu kerugian ekonomi berkepanjangan bagi warga di daerah rawan.

​Rekomendasi Langkah Mitigasi dan Peringatan Dini

Guna menekan risiko korban dan kerugian material, lembaga kajian resmi merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi strategis:

​Rehabilitasi Vegetasi: Menjaga tutupan hutan dan melakukan penghijauan tanaman berakar dalam di kawasan hulu DAS serta lereng curam.

​Tata Ruang Ketat: Membatasi alih fungsi lahan di Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi.

​Sistem Drainase Terpadu: Membangun Saluran Pembuangan Air (SPA) yang teratur agar air tidak menggenangi bidang lereng.

​Pemantauan Tanda Lapangan: Mewaspadai munculnya retakan tanah baru, tiang/pohon miring, air keruh mendadak, atau rembesan mata air baru.

​Respons Peringatan Dini: Memantau secara berkala pemutakhiran cuaca BMKG dan peta kerentanan gerakan tanah dari Badan Geologi.