Inti Berita:
• Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Trenggalek menyebabkan kerusakan jaringan pipa HDPE Perumda Air Minum Tirta Wening di Kecamatan Bendungan (8 inci) dan Watulimo (3 inci).
• Akibat kerusakan tersebut, tekanan air ke pelanggan menurun drastis dan kehilangan air pada jalur utama Ndilem sempat mencapai 40–50 persen.
• Direktur Perumda Tirta Wening, Khoirul Ansori, mengonfirmasi seluruh titik kerusakan pipa di area lahan Perhutani telah berhasil diperbaiki dengan metode pemotongan dan pemasangan repair clamp.
SUARA TRENGGALEK – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Trenggalek tidak hanya membakar lahan, tetapi juga berdampak pada jaringan perpipaan Perumda Air Minum Tirta Wening.
Sedikitnya dua lokasi jaringan pipa milik Perumda Air Minum Tirta Wening terbakar akibat karhutla, yakni di kawasan Ndilem, Kecamatan Bendungan, dan Pasir Putih, Prigi, Kecamatan Watulimo.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Wening Khoirul Ansori mengatakan, pipa yang terbakar di kawasan Ndilem berbahan high-density polyethylene (HDPE) dengan diameter 8 inci. Sementara di Pasir Putih, pipa yang terdampak berdiameter 3 inci.
“Yang pasti karena itu pipanya pipa HDPE, jadi yang di intake Ndilem itu pipa 8 inci. Itu terbakar sehingga air kita banyak yang terbuang,” kata Khoirul.
Kerusakan tersebut berdampak pada distribusi air kepada pelanggan. Aliran air tidak sampai berhenti total, tetapi tekanan jaringan menurun sehingga pasokan yang diterima sejumlah pelanggan ikut berkurang.
“Karena diketahui setelah aliran ke pelanggan berkurang. Akhirnya teman-teman itu berinisiatif untuk mengecek jaringan, jalur itu dicek. Ternyata ditemukan ada pipa yang terbakar di wilayah Ndilem, Kecamatan Bendungan,” ujarnya.
Kondisi serupa terjadi di jaringan pipa kawasan Pasir Putih, Prigi. Pipa berdiameter 3 inci di lokasi tersebut juga terbakar.
“Yang di Prigi pipa 3 inci. Itu juga terbakar, Ya nggak sampai macet, tapi berkurang. Cukup signifikan berkurangnya,” lanjut Khoirul.
Menurut Khoirul, kedua jaringan pipa tersebut berada di kawasan lahan Perhutani yang terdampak kebakaran.
Seluruh kerusakan kini telah ditangani. Perbaikan dilakukan setelah titik kerusakan ditemukan.
“Sudah, sudah tertangani semua. Jadi begitu air mengecil, kemudian kami cek jalur, jaringan pipa kita cek, kita perbaiki hari itu juga,” tegasnya.
Perbaikan tidak dilakukan dengan mengganti pipa dalam bentang panjang. Bagian pipa yang terbakar dipotong dan kemudian disambungkan kembali menggunakan perangkat perbaikan jaringan.
“Ndak, ndak. Satu meter cukup. Kita memasang repair clamp. Pipa kita potong, langsung kita sambung itu,” katanya.
Khoirul mengatakan, dampak kerusakan jaringan bukan hanya berupa kerugian material akibat air yang terbuang.
Gangguan terhadap layanan pelanggan menjadi persoalan yang harus segera dipulihkan karena berkaitan dengan kontinuitas pelayanan.
Pada jaringan pipa 8 inci di Ndilem, kehilangan air sempat mencapai sekitar 40–50 persen.
“Kalau pipa 8 inci itu berkurangnya kurang lebih sampai 40–50 persen jaringan. Jadi kehilangan airnya ya sampai dengan 40 sampai 50 persen. Karena kan terbuang,” ungkapnya.
Penurunan tekanan juga berdampak pada pelanggan yang berada di wilayah dengan elevasi lebih tinggi.
Ketika terjadi kebocoran, tekanan air dalam jaringan ikut turun sehingga kemampuan air untuk mencapai titik pelanggan di lokasi yang lebih tinggi berkurang.
“Air ketika bocor di atas kan tekanan berkurang, lebih banyak yang terbuang. Intinya tekanannya. Kalau airnya mungkin masuk tapi air yang di dalam pipa kan kehilangan tekanan. Sehingga lokasi-lokasi pelanggan yang geografisnya tinggi, kan berkurang,” jelas Khoirul.
Sementara itu, berdasarkan rekap BPBD Kabupaten Trenggalek hingga 22 September 2026, karhutla telah terjadi di 10 kecamatan dengan total 27 kejadian di 27 desa.
Luas lahan yang terbakar mencapai 95 hektare. Seluruh kejadian tersebut tercatat telah berhasil dipadamkan.
Sepuluh kecamatan yang terdampak yakni Karangan, Trenggalek, Panggul, Gandusari, Pogalan, Dongko, Kampak, Watulimo, Durenan, dan Suruh.
Karangan menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 25,25 hektare. Disusul Kecamatan Trenggalek 20 hektare, Gandusari 17 hektare, Panggul 12,15 hektare, Pogalan 10,5 hektare, Durenan 4,5 hektare, Dongko 3 hektare, Kampak 1,5 hektare, Suruh 0,85 hektare, dan Watulimo 0,25 hektare.
Data tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya terjadi pada tutupan lahan.
Infrastruktur pelayanan dasar yang berada di sekitar kawasan terdampak juga dapat mengalami gangguan, termasuk jaringan distribusi air milik Perumda Air Minum Tirta Wening.
Khoirul mengatakan, secara ekonomi kerugian akibat air yang terbuang memang dapat dihitung. Namun, menurut dia, dampak terhadap layanan pelanggan menjadi hal yang lebih utama untuk segera dipulihkan.
“Kalau materinya ya pasti ada kerugian karena air terbuang. Air yang terjual kan itu air terbuang. Tapi tidak signifikan jika dibanding dengan faktor layanan yang akhirnya mengganggu pelayanan, kepercayaan masyarakat pelanggan,” kata dia.











