Inti Berita:
• M. Fairuz Muntaqo (29), lulusan Psikologi UIN Maliki Malang, memilih resign dari pekerjaannya di kampus negeri demi merawat ibunya yang sakit serta menjalankan pesan untuk mengelola lahan di kampung halamannya, Desa Jati, Karangan, Trenggalek.
• Sempat gagal di awal penanaman pada 2020, Fairuz kini mengelola lahan melon seluas 150 ru dengan memanfaatkan metode greenhouse untuk menekan serangan hama dan menghemat penggunaan insektisida/fungisida.
• Fairuz membudidayakan sejumlah varietas premium seperti Sweet Lavender, Skydro, The Blues, dan Sani dengan teknik tanam berjangka (jeda 7 hari) agar masa panen tidak berlangsung bersamaan.
SUARA TRENGGALEK – Hamparan tanaman melon tumbuh rapi di dalam greenhouse di Desa Jati, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek.
Di balik hijaunya tanaman tersebut, tersimpan kisah seorang pemuda yang memilih meninggalkan pekerjaan di Kota Malang untuk pulang ke kampung halaman.
Dia adalah M. Fairuz Muntaqo, pemuda berusia 29 tahun yang kini menekuni usaha pertanian melon.
Sebelum menjadi petani, Fairuz sebenarnya telah bekerja sebagai tenaga perpustakaan di salah satu kampus negeri di Kota Malang.
Namun, kondisi orang tuanya membuat dia harus mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke Trenggalek.
Saat masih bekerja di Malang, ibunya sakit. Fairuz kemudian mengundurkan diri dan pulang ke kampung halaman.
Sesampainya di Trenggalek, dia sempat kebingungan menentukan pekerjaan yang akan dijalani.
“Lahan sawah, ya sudah, rata-rata cuma itu saja. Kalau tidak begitu, ya kerja jadi karyawan di mana-mana,” ujar Fairuz usai merawat tanaman melon di belakang rumahnya, Rabu (16/9/2026).
Di tengah kebingungan tersebut, ada pesan dari sang ibu yang terus teringat.
Ibunya pernah berpesan bahwa terdapat sebidang lahan di belakang rumah. Daripada harus bekerja jauh dari rumah, Fairuz diminta memanfaatkan lahan tersebut.
“Nah, cuma dulu ada wasiat dari Ibu katanya kalau ada lahan sepetak di belakang rumah. Daripada kerja jauh-jauh, mending kerja di belakang rumah,” kenangnya.
Pesan itu semakin membekas setelah ibunya meninggal dunia.
Fairuz kemudian mulai memikirkan apa yang bisa dilakukan dengan lahan tersebut. Dia sempat mempertimbangkan menanam padi atau jagung, tetapi menilai hasil dari kedua komoditas tersebut tidak terlalu besar.
“Pas baru sampai Ibu meninggal, baru kepikiran enaknya ini lahan tak gawe opo yo? Opo tak sawah, kok aku nandur pari, opo mau aku nandur jagung, hasile yo ndak sepiro,” tuturnya.
Dari situlah muncul ide untuk menanam buah. Fairuz melihat buah-buahan memiliki pasar yang cukup luas. Sekitar 2020, setelah pandemi Covid-19, dia akhirnya mencoba terjun ke dunia melon.
“Jadi mending kalau nandur buah, tanam buah bisa ke mana nanti jualnya,” ungkapnya.
Fairuz mengatakan, saat itu dia melihat buah-buahan masih memiliki peluang untuk dijual dengan harga tinggi.
“Jadi terjunlah ke dunia permelonan. Itulah awalnya dulu. Tapi ya enggak semudah itu,” lanjutnya.
Belajar Bertani dari Nol
Memulai usaha pertanian dari nol membuat Fairuz harus banyak belajar. Dia mengaku tidak memiliki pengalaman khusus ketika pertama kali menanam melon.
Pemilihan pupuk hingga perawatan tanaman dilakukan dengan mencoba berbagai cara. Pada penanaman pertama, dia menggunakan varietas melon Intanon.
Dari lahan sekitar 30 ru, Fairuz mampu menghasilkan sekitar 1 ton hingga 1,5 ton melon.
Namun, hasil tersebut belum sepenuhnya memuaskan karena kualitas buah masih belum maksimal.
Kegagalan menjadi bagian dari proses belajar yang harus dilaluinya.
“Dulu itu sekitar tiga kali, ya. Tiga kali panen. Tiga kali panen itu dua kali yang paling parah, dua kali awal,” katanya.
Bagi Fairuz, kegagalan tersebut justru menjadi pengalaman untuk memperbaiki cara bertani.
Setelah sekitar empat tahun menggeluti usaha tersebut, lahan yang dikelolanya kini berkembang hingga sekitar 150 ru.
Dalam setahun, dia bisa melakukan tiga hingga empat kali panen.
Jika memungkinkan dilakukan empat kali panen, siklus tanam dapat dimulai sejak Januari dan berakhir dengan panen berikutnya pada Desember.
Saat ditemui, tanaman melon miliknya berada pada usia sekitar 35 hingga 43 hari setelah tanam (HST).
Fairuz sengaja memberikan jarak waktu penanaman sekitar tujuh hari antara satu tanaman dengan tanaman lainnya. Cara tersebut dilakukan agar waktu panen tidak berlangsung bersamaan.
“Kondisi saat ini kalau dihitung sekitar 43 HST, antara 35 sampai 43 HST. Saya jarak sekitar tujuh harian antara tanaman yang satu dengan yang lain biar enggak bareng panennya,” jelasnya.
Pemuda lulusan Jurusan Psikologi UIN Maliki Malang tersebut menanam sejumlah varietas melon, di antaranya Sweet Lavender, Skydro, dan The Blues.
Dia juga mencoba varietas lain sebagai tanaman selingan.
“Tapi ada satu selingan nyoba-nyoba yaitu Melon Sani,” ungkapnya.
Memilih Greenhouse untuk Menekan Risiko Penyakit
Salah satu alasan Fairuz memilih sistem greenhouse adalah untuk mengurangi risiko serangan penyakit tanaman.
Menurutnya, tanaman melon yang ditanam di lahan terbuka lebih rentan terkena berbagai penyakit pada daun. Beberapa di antaranya trotol, embun tepung, bercak daun, hingga daun keriting.
“Kalau di hamparan, rata-rata banyak penyakit. Bisa trotol, bisa embun tepung, bisa bercak daun, bisa juga kerut, keriting. Macam-macam, ada banyak sekarang penyakitnya itu,” katanya.
Sementara penggunaan greenhouse membuat serangan penyakit tersebut lebih mudah diminimalkan.
Penggunaan insektisida dan fungisida pun dapat ditekan. Fairuz membandingkan frekuensi penyemprotan tanaman di lahan terbuka dengan tanaman yang berada di greenhouse.
Jika di lahan terbuka penyemprotan insektisida atau fungisida dapat dilakukan setiap tiga sampai empat hari, di greenhouse jumlah penyemprotan bisa jauh lebih sedikit.
“Saya pernah nyoba, untuk fungi sama insektisida, pernah satu kali panen itu cuma dua sampai tiga kali nyemprotin saja,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat penggunaan obat tanaman menjadi lebih efisien.
Harga Melon Dinamis
Menjadi petani melon tidak selalu berarti mendapatkan harga tinggi. Fairuz mengatakan harga melon cukup dinamis dan bergantung pada kondisi pasar ketika masa panen tiba.
Saat panen raya, harga melon dapat berada di kisaran Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per kilogram.
Namun, ketika permintaan tinggi sementara jumlah melon yang dipanen sedikit, harga di tingkat tengkulak bisa meningkat hingga sekitar Rp19 ribu per kilogram.
“Harga macam-macam, Mas, variasi. Kalau misalnya pas panen raya ada 8 atau 20 ribu. Tapi kalau ketemu harga yang pas, artinya pada waktu itu kebutuhan banyak sementara panen sedikit, maka itu bisa sampai 19 ribuan,” jelasnya.
Dia menyebut harga melon memang naik turun, tetapi menurutnya pergerakannya tidak sedrastis komoditas cabai.
Untuk melon yang ditanam menggunakan sistem greenhouse, Fairuz mengatakan petani berupaya menjaga harga pada kisaran Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram agar usaha tetap berjalan.
Pasalnya, biaya operasional mulai dari penanaman, pengolahan lahan hingga panen harus diperhitungkan.
Bagi Fairuz, menjadi petani muda bukan sekadar pilihan ketika tidak memiliki pekerjaan lain.
Lahan di belakang rumah yang dahulu menjadi bagian dari pesan sang ibu kini berkembang menjadi ruang baginya untuk belajar, mencoba, gagal, dan kembali menanam.
Dari sebidang lahan tersebut, Fairuz menemukan jalan untuk tetap berdikari di kampung halaman sekaligus mengembangkan pertanian dengan caranya sendiri.











