BISNIS

Ekonom UI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2027 Capai 5,8-6,5 Persen, UMKM Jadi Bagian Penting

×

Ekonom UI Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 2027 Capai 5,8-6,5 Persen, UMKM Jadi Bagian Penting

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pedagang UMKM saat melayani pembeli dalam kegiatan car Free Day, (dok. Pemkab).

SUARA TRENGGALEK – Ekonom Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Valianti memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 berada di kisaran 5,8 hingga 6,5 persen.

Proyeksi tersebut disampaikan Telisa saat memaparkan kerangka fiskal Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 kepada publik.

Ia menjelaskan, pendapatan negara dalam RAPBN 2027 ditargetkan mencapai 11,8 hingga 12,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Telisa, optimisme Presiden terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan arah kebijakan fiskal yang jelas dan terukur.

“Optimisme Presiden terhadap pertumbuhan ekonomi sangat tinggi dan terarah,” ujar Telisa kepada PRO3 RRI, Jumat, 22 Mei 2026.

Telisa menilai hilirisasi dan industrialisasi menjadi kunci utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pengelolaan sumber daya alam, kata dia, harus dioptimalkan untuk meningkatkan nilai tambah.

Ia juga menekankan perlunya menghentikan kebocoran pendapatan negara. Pendapatan yang selama ini bocor harus kembali dikelola dalam sistem ekonomi nasional untuk memperkuat basis fiskal.

“Pendapatan negara yang bocor harus dikumpulkan kembali agar pertumbuhan maksimal,” ucapnya.

Selain penguatan fiskal, Telisa mengatakan program pemerintah harus memberikan dampak langsung kepada masyarakat. Penciptaan lapangan kerja yang luas dan inklusif menjadi salah satu hal yang dinilai penting.

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga disebut harus menjadi bagian utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, UMKM memiliki peran penting dalam mendorong pemerataan ekonomi hingga lapisan bawah.

Ia menegaskan, pemerintah perlu memberikan perhatian serius terhadap keberlangsungan UMKM agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya dirasakan kelompok tertentu.

“Program pemerintah tidak boleh hanya dinikmati segelintir kelompok,” kata Telisa.

Telisa turut menyoroti pentingnya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam mendukung industri nasional. Menurutnya, pergerakan kurs perlu dijaga agar tidak mengalami fluktuasi yang terlalu tinggi.

Di sisi lain, transparansi anggaran dinilai penting untuk memastikan manfaat kebijakan fiskal benar-benar dirasakan masyarakat.

Telisa menekankan sinergi sektor-sektor prioritas dengan stabilitas fiskal perlu terus dijaga untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027.