Inti Berita:
• Pokmaswas Rembeng Raya Trenggalek menargetkan pengembangan taman laut di Pantai Mutiara yang menggabungkan wisata bahari dengan konservasi dan pemulihan ekosistem laut.
SUARA TRENGGALEK – Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Rembeng Raya memiliki cita-cita mengembangkan kawasan taman laut di Pantai Mutiara, Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.
Gagasan tersebut menjadi salah satu target pengembangan konservasi bawah laut sekaligus wisata bahari yang dikelola Pokmaswas Rembeng Raya di kawasan Pantai Mutiara.
Ketua Pokmaswas Rembeng Raya Pantai Mutiara Trenggalek, Kacuk Wibisono, mengatakan pihaknya berharap taman laut tersebut dapat terwujud.
“Kita harapannya di Trenggalek, khususnya di Pantai Mutiara, itu ada taman laut,” terang Kacuk Wibisono, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, konsep taman laut yang direncanakan tidak hanya ditujukan sebagai lokasi wisata bawah laut. Kawasan tersebut juga akan mengedepankan aspek konservasi dan pemulihan ekosistem laut.
Dalam konsep tersebut nantinya akan terdapat kebun bibit karang, rumah ikan, terumbu karang buatan, bioreef cinta, hingga eco reef.
“Kita sudah membidik spot-spot mana yang akan kita jadikan taman laut,” ujarnya.
Sambil mempersiapkan konsep taman laut, Pokmaswas Rembeng Raya juga terus mengembangkan fasilitas wisata bahari di Pantai Mutiara.
Salah satunya rumah apung yang menjadi tempat singgah wisatawan yang ingin menikmati aktivitas snorkeling maupun diving.
Di rumah apung tersebut terdapat Mutiara Diving Center (MDC) yang digunakan sebagai tempat singgah wisatawan, khususnya mereka yang mengikuti aktivitas snorkeling dan diving.
“Di rumah apung itu kita ada Mutiara Diving Center (MDC) sebagai tempat singgah teman-teman yang ingin berwisata khusus dengan snorkeling ataupun diving,” jelas Kacuk.
Selain MDC, terdapat warung apung yang menyediakan sejumlah menu, seperti kopi, mi instan, dan kelapa muda. Fasilitas tersebut juga dilengkapi kolam renang.
“Warung apungnya juga ada kopi, mi instan, kelapa muda, sekaligus ada kolam renangnya,” imbuhnya.
Kacuk mengatakan rumah apung dan warung apung tersebut menjadi salah satu pengembangan baru yang dilakukan pengelola wisata bahari Pantai Mutiara.
Untuk menikmati aktivitas snorkeling, pengelola menyediakan sejumlah pilihan paket dengan harga mulai Rp100 ribu, Rp125 ribu, hingga Rp150 ribu.
Menurut Kacuk, perbedaan harga tersebut disesuaikan dengan titik snorkeling yang dipilih wisatawan.
Aktivitas snorkeling dapat diikuti masyarakat umum. Wisatawan tidak harus memiliki kemampuan berenang yang sangat baik karena aktivitas dilakukan dengan perlengkapan pendukung.
“Kalau untuk snorkeling lebih cenderung ke umum. Misalnya bisa berenang sedikit pun kita bisa untuk snorkeling,” katanya.
Sementara aktivitas diving memiliki ketentuan berbeda. Wisatawan yang ingin melakukan penyelaman diwajibkan memiliki sertifikat diving.
Untuk durasinya, satu tabung oksigen untuk diving rata-rata dapat digunakan sekitar 30 menit.
Bagi penyelam yang sudah terbiasa, durasinya dapat mencapai sekitar 45 menit dalam sekali penyelaman. Sedangkan aktivitas snorkeling berlangsung sekitar satu jam.
Kacuk menegaskan, pengembangan fasilitas wisata bahari tersebut tetap mengedepankan aspek konservasi terumbu karang.
Pokmaswas Rembeng Raya berharap semakin banyak aktivitas wisata yang dikembangkan di Pantai Mutiara dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga ekosistem laut.
“Harapan kita sebagai Pokmaswas tentunya tetap mengedepankan konservasi terumbu karang supaya ekosistem di laut kita juga semakin bagus,” imbuhnya.
Selain menjaga ekosistem laut, pengembangan wisata bahari tersebut diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi pengelola dan masyarakat sekitar.
“Dengan banyaknya aktivitas dan aktivitas yang baru ini bisa menambah atau mendongkrak pendapatan dari kami,” tutupnya.











