Inti Berita:
• Si-Galing merupakan layanan ambulans kemanusiaan yang dikelola Cak Kun secara mandiri dan swadaya tanpa menetapkan tarif kepada pasien.
• Kini Si-Galing memiliki tiga armada, terdiri dari dua ambulans pasien dan satu kendaraan jenazah, serta melayani pengantaran pasien hingga luar daerah.
• Untuk menjaga operasional, Si-Galing menerima bantuan masyarakat secara sukarela, sementara keluarga kurang mampu dibantu mencarikan dukungan donatur.
SUARA TRENGGALEK – Bagi pasien dari keluarga kurang mampu di Kabupaten. Trenggalek, perjalanan menuju rumah sakit rujukan bukan sekadar persoalan jarak.
Biaya transportasi yang membengkak kerap menjadi hambatan untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Kondisi tersebut mendorong Sugeng Kuncahyo atau Cak Kun menjalankan layanan ambulans kemanusiaan Siaga Lingkungan (Si-Galing).
Layanan sosial tersebut dikelola secara mandiri dan swadaya. Cak Kun tidak menetapkan tarif bagi warga yang membutuhkan pertolongan darurat maupun layanan antar-jemput untuk berobat.
Selama bertahun-tahun, Cak Kun mengantar warga kurang mampu ke berbagai fasilitas kesehatan.
Ia ingin memastikan keterbatasan ekonomi tidak memutus harapan pasien untuk mendapatkan pengobatan.
Dampingi Pasien hingga Pengobatan Rutin
Si-Galing tidak hanya melayani kondisi darurat, tetapi juga mendampingi pasien dengan penyakit berat yang membutuhkan pengobatan secara berkala.
Salah satunya Fandi, warga Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan. Ia mengalami luka bakar parah di hampir seluruh tubuh setelah tersengat listrik bertegangan tinggi.
Kondisi tersebut membuat Fandi harus menjalani perawatan medis secara berkelanjutan. Si-Galing kemudian menyediakan transportasi untuk kebutuhan pengobatan rutinnya.
Tim Si-Galing juga mendampingi Sukadi, warga Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek, yang membutuhkan pengawalan medis secara berkala.
“Kami harus mendampingi beliau secara telaten sampai benar-benar sembuh,” kata Cak Kun.
Baru-baru ini, Si-Galing juga menjemput Murjani, warga Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan.
Pasien tersebut mengalami infeksi berat pada bagian wajah dan membutuhkan pemeriksaan spesialis di rumah sakit rujukan.
Antar Pasien hingga Luar Kota
Jangkauan layanan Si-Galing tidak hanya di wilayah Kabupaten Trenggalek. Cak Kun mengatakan timnya telah berulang kali mengantar pasien ke sejumlah kota besar, termasuk Jakarta, Surabaya, Solo hingga Malang.
“Tim kami sudah sangat sering mengantar pasien ke Jakarta, Surabaya, Solo, dan kota-kota lain. Rute ke Malang juga paling sering kami tempuh,” ungkapnya.
Perjalanan antarkota tentu membutuhkan biaya operasional dan bahan bakar. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Cak Kun mengubah komitmennya memberikan layanan gratis.
Si-Galing dibangun dari semangat kemanusiaan, bukan kepentingan komersial. Cak Kun membeli armada pertama menggunakan uang tabungan pribadi.
Ketika kendaraan operasional mengalami kerusakan parah, ia kembali mengeluarkan uang sendiri untuk membeli mobil pengganti agar layanan tetap berjalan.
Seiring waktu, dukungan masyarakat mulai mengalir. Seorang dermawan asal Surabaya memberikan satu unit mobil jenazah.
Kemudian, Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur VII, Novita Hardini, memberikan satu unit ambulans pasien untuk memperkuat armada Si-Galing.
Kini, Si-Galing mengoperasikan tiga unit armada. Dua unit digunakan untuk melayani pengangkutan pasien, sedangkan satu unit khusus mengangkut jenazah.
Tetap Gratis, Donasi Bersifat Sukarela
Bertambahnya armada belum menyelesaikan seluruh kebutuhan operasional. Bahan bakar, perawatan kendaraan, dan perlengkapan medis tetap membutuhkan biaya rutin.
Karena itu, Si-Galing tetap membuka ruang bagi masyarakat yang ingin membantu melalui donasi. Namun, prinsip utama layanan tetap dipertahankan, yakni pasien tidak membayar tarif.
“Jika keluarga pasien ingin membantu, kami hanya menerima bantuan seikhlasnya, dan itu pun sifatnya sangat kondisional,” tegas Cak Kun.
Keluarga pasien yang memiliki kemampuan finansial diperbolehkan memberikan bantuan sukarela untuk mendukung kebutuhan bahan bakar dan operasional. Namun, bantuan tersebut tidak menjadi syarat pelayanan.
Sementara bagi keluarga yang benar-benar tidak mampu, tim Si-Galing justru membantu mencari dukungan donatur agar kondisi ekonomi tidak menghambat pengobatan.
Hanya Mengandalkan Dua Pengemudi
Gerakan sosial tersebut berjalan dengan sumber daya manusia yang terbatas. Saat ini, Si-Galing hanya mengandalkan dua pengemudi aktif, yakni Cak Kun sendiri dan seorang relawan anak yatim yang ia bina.
Keterbatasan personel tidak menyurutkan semangat mereka melayani warga. Keduanya tetap siap menempuh perjalanan jauh hingga luar provinsi.
Bagi keluarga mampu, ambulans mungkin sekadar kendaraan pengantar pasien. Namun bagi keluarga kurang mampu, ambulans gratis dapat menjadi jembatan menuju pengobatan.
Cak Kun memilih terus bergerak di bidang kemanusiaan tanpa menetapkan tarif.
“Saya tidak pernah menetapkan tarif rupiah untuk layanan ambulans kami,” pungkas Cak Kun.
Dari satu kendaraan yang dibeli menggunakan uang pribadi hingga kini mengoperasikan tiga armada, perjuangan Cak Kun membawa pesan sederhana: jangan sampai warga berhenti berobat hanya karena tidak memiliki biaya untuk menuju rumah sakit.











