ADVETORIAL

Jenguk Siswa SD Terdampak MBG di RSUD, Ketua DPRD Trenggalek Sebut Kondisinya Membaik

×

Jenguk Siswa SD Terdampak MBG di RSUD, Ketua DPRD Trenggalek Sebut Kondisinya Membaik

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi (tengah) saat menjenguk pelajar terdampak diduga keracunan MBG.
Inti Berita:
• Ketua DPRD Trenggalek Doding Rahmadi menjenguk siswa SD Integral Luqman Al Hakim yang dirawat di RSUD dr Soedomo setelah mengalami muntah dan diare berulang usai mengonsumsi MBG.
• Kondisi siswa kini berangsur membaik.
• Doding meminta pengawasan terhadap pelaksanaan MBG diperketat dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut.

SUARA TRENGGALEK – Ketua DPRD Trenggalek, Doding Rahmadi menjenguk seorang siswa SD Integral Luqman Al Hakim yang tengah menjalani perawatan di RSUD dr Soedomo Trenggalek setelah diduga mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (13/8/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian sekaligus memastikan langsung kondisi perkembangan kesehatan pelajar yang terdampak tersebut.

Setibanya di rumah sakit, Doding langsung menuju ruang perawatan dan menyapa pelajar tersebut. Siswa tersebut terlihat masih terbaring dibed ruang perawatan dengan kondisi yang terus membaik.

Doding mengatakan, kondisi siswa kelas 5 SD tersebut saat ini sudah berangsur membaik. Keluhan diare masih terjadi, tetapi muntah dan pusing sudah tidak dirasakan lagi. Kondisi nafsu makan juga disebut sudah membaik.

“Alhamdulillah kondisinya sudah bagus, hari ini ada diarenya dua kali Mbak ya? Dua kali tapi pusingnya sudah tidak pusing lagi, muntahnya juga sudah sudah enggak muntah. Terus makan juga sudah bagus,” kata Doding.

Ia berharap hasil pemeriksaan laboratorium segera keluar sehingga dokter dapat menentukan langkah penanganan selanjutnya.

“Mudah-mudahan kalau sesuai dengan keadaan kondisinya, besok kita berharap sudah bisa pulang,” ujarnya.

Doding juga sempat berkomunikasi dengan keluarga yang menjaga siswa tersebut. Menurutnya, harapan keluarga saat ini sederhana, yakni agar kondisi siswa segera pulih.

“Ya, harapannya cepat sembuh gitu aja kan itu. Cepat sembuh,” katanya.

DPRD Minta Pengawasan MBG Diperketat

Doding menegaskan, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar gangguan kesehatan serupa tidak kembali terjadi pada penerima manfaat MBG.

“Ya, kita berharap ini kejadian tidak terulang lagi ya dan ini yang terakhir karena untuk keselamatan anak-anak kita itu yang paling utama dan lini pengawasannya juga harus diperketat,” tegasnya.

Menurut Doding, pemantauan terhadap kondisi di lapangan terus dilakukan bersama berbagai pihak, termasuk Satgas MBG dan Pemerintah Kabupaten Trenggalek.

“Tapi alhamdulillah semua komponen baik itu dari Satgas MBG, dari pemerintah daerah dan teman-teman terus memantau terus. Saya juga terus memantau terus kondisi-kondisi yang ada di lapangan,” ujarnya.

Ia berharap kejadian tersebut menjadi yang terakhir dan pengelolaan dapur MBG ke depan semakin baik.

“Jadi mudah-mudahan semuanya bisa terkendali dan tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan dan kita berharap ini yang terakhir kalinya untuk dapur-dapur harus semakin lebih bagus lagi,” katanya.

Hasil Laboratorium Jadi Penentu Evaluasi

Terkait pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), Doding mengatakan pemenuhan sertifikasi tersebut tidak serta-merta menjamin kejadian serupa tidak terjadi.

“Ya kan tidak menjamin kan gitu, tapi kan yang pentingkan usaha gitu,” ujarnya.

Menurutnya, masih terdapat sejumlah faktor yang perlu dievaluasi. Karena itu, DPRD masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya.

“Jadi kan ada beberapa faktor ya tinggal tunggu saja nanti evaluasinya dari lab itu apa yang menjadi permasalahan kan itu. Kalau kita kan belum bisa mengutarakan apa yang menjadi permasalahannya,” kata Doding.

Ia menilai kelalaian dalam satu bagian proses tetap dapat menjadi faktor yang memicu terjadinya persoalan meskipun persyaratan administrasi dan sertifikasi telah dipenuhi.

“Jadi walaupun sudah usahanya sudah dengan sertifikat-sertifikat itu dipenuhi dan sebagainya, tapi kalau ada kelalaian dari satu pihak dan sebagainya pasti masih bisa saja terjadi,” jelasnya.

“Ya, itu yang ke depan kita tidak harapkan terjadi lagi,” lanjut Doding.

Terkait rencana pemanggilan pengelola SPPG, Doding mengatakan belum ada rencana tersebut. Ia menyebut pihaknya masih menunggu hasil laboratorium dan langkah dari Badan Gizi Nasional (BGN), mengingat layanan SPPG terkait telah dihentikan sementara.

“Ya belum lah. Jadi nanti seperti apa dari BGN karena ini yang sudah dihentikan sementara ya. Nanti hasil lab-nya itu seperti apa? Terus dari Satgas kita karena kita itu ya pusat itu ya dari Satgas itu yang bisa koordinasi,” ujarnya.

Satu Siswa Jalani Perawatan

Sebelumnya, seorang siswa SD Integral Luqman Al Hakim berinisial SA (11), asal Kecamatan Tugu, harus menjalani perawatan di RSUD dr Soedomo setelah mengalami muntah dan diare berulang usai mengonsumsi menu MBG.

SA masuk IGD RSUD dr Soedomo pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB dan kemudian dipindahkan ke ruang perawatan Dahlia sekitar pukul 23.00 WIB.

Selain SA, terdapat satu pasien lain yang sempat mendapatkan penanganan di IGD karena mengalami dehidrasi. Pasien tersebut tidak sampai menjalani rawat inap.

Ada 1 pasien lain, karena dampaknya dehidrasi jadinya perawat di IGD saja dan tidak sampai rawat inap, terus anaknya juga SMP, kalau yang anak SD itu butuh dirawat karena asupan minumnya tidak kencang.

Berdasarkan pendataan terbaru, terdapat 30 penerima manfaat di SD Integral Luqman Al Hakim yang mengalami keluhan setelah mengonsumsi MBG. Jumlah tersebut terdiri dari 20 siswa dan 10 tenaga pendidik.

Sementara di SMPN 1 Trenggalek tercatat 421 penerima manfaat mengalami keluhan. Adapun di SD Islam Lukman Hakim terdapat 20 penerima manfaat yang mengalami keluhan.

Dengan demikian, berdasarkan pendataan sementara yang disampaikan, terdapat 441 penerima manfaat dari dua sekolah yang mengalami keluhan.