Inti Berita:
• RSUD Tipe D Panggul mengusulkan pengadaan CT Scan senilai Rp13 miliar, penambahan genset berkapasitas 500 KVA, serta pembangunan gedung rawat inap dalam pembahasan KUA-PPAS 2027.
• Penguatan sarana, prasarana, dan SDM tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus mengurangi beban rujukan ke RSUD dr. Soedomo Trenggalek.
SUARA TRENGGALEK – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tipe D Panggul terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah selatan Kabupaten Trenggalek.
Dalam pembahasan Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2027 bersama Komisi IV DPRD Trenggalek, manajemen rumah sakit mengusulkan pengadaan alat CT Scan, penambahan kapasitas genset, hingga pengembangan gedung rawat inap.
Direktur RSUD Tipe D Panggul, dr. Rendra Andriawan, mengatakan kebutuhan paling mendesak pada 2027 adalah pengadaan fasilitas Computed Tomography Scan (CT Scan) untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat peran rumah sakit sebagai penyangga layanan kesehatan di wilayah perbatasan.
“Jadi, yang kita butuhkan di tahun 2027 itu adalah CT Scan. Perbandingan nilai klaim medisnya luar biasa,” ujar dr. Rendra, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, penanganan pasien stroke tanpa dukungan CT Scan saat ini hanya menghasilkan klaim layanan sekitar Rp 1,8 juta hingga Rp 2 juta. Apabila telah dilengkapi CT Scan, nilai klaim dapat meningkat menjadi sekitar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta.
Pengadaan alat tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp13 miliar dan akan diusulkan melalui program Instruksi Presiden (Inpres).
Genset Dinilai Belum Mampu Menopang Operasional
Selain alat penunjang medis, RSUD Panggul juga mengusulkan penambahan kapasitas generator set (genset). Pasalnya, rumah sakit yang berada di kawasan perbatasan itu kerap terdampak pemadaman listrik saat hujan deras.
Saat ini, genset yang dimiliki hanya berkapasitas 100 KVA sehingga baru mampu menopang kebutuhan ruang operasi, ICU, dan bank darah.
“Saat ini hanya kita siapkan untuk ruang operasi, ICU, dan bank darah. Kalau mati lampu agak lama, pelayanan medis tidak bisa maksimal,” jelas dr. Rendra.
Berdasarkan perhitungan teknis, rumah sakit membutuhkan genset berkapasitas minimal 500 KVA agar seluruh layanan dapat tetap beroperasi ketika terjadi pemadaman listrik.
“Iya, saat ini kita punya itu kan 100 KVA. Kalau kita menghitung kebutuhannya itu minimal kita harus punya yang 500 KVA,” katanya.
Miliki Dokter Saraf, Pasien Tak Perlu Dirujuk ke Kota
Di sisi pelayanan medis, RSUD Panggul telah memiliki dokter spesialis saraf yang dinilai mampu mengurangi jumlah rujukan pasien ke RSUD dr. Soedomo Trenggalek.
Menurut dr. Rendra, keberadaan poli saraf telah membantu masyarakat di Kecamatan Panggul dan wilayah sekitarnya memperoleh layanan kesehatan lebih dekat.
“Saraf ini kami sudah punya SDM Poli Saraf. Alhamdulillah sudah banyak menyaring pasien-pasien yang di Panggul dan sekitar itu tidak sampai turun ke bawah,” ungkapnya.
Siapkan Pengembangan Gedung Rawat Inap
Selain peningkatan alat kesehatan, RSUD Panggul juga merencanakan pengembangan fisik gedung untuk menambah kapasitas tempat tidur pasien.
Berdasarkan estimasi awal, pembangunan tersebut membutuhkan anggaran sekitar Rp 1,35 miliar.
Untuk merealisasikan rencana itu, pihak rumah sakit mengandalkan pendanaan dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), yang bersumber dari Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya sebesar Rp580 juta serta proyeksi pendapatan berjalan sekitar Rp769 juta.
Melalui pembahasan KUA-PPAS 2027, RSUD Panggul berharap DPRD Kabupaten Trenggalek memberikan dukungan terhadap pengadaan CT Scan, peningkatan kapasitas genset, pembangunan fisik gedung, hingga pemenuhan dokter spesialis dan tenaga kesehatan pendukung.











