Inti Berita:
• Kemenag Trenggalek mencatat baru 127 dari 522 Madin atau sekitar 24 persen yang menyelesaikan EMIS hingga tahap BAP.
• Hingga akhir Mei 2026, baru 16 pondok pesantren yang telah menyelesaikan BAP.
• Lembaga yang tidak mengelola EMIS selama dua tahun berturut-turut berisiko dicabut izin operasionalnya.
SUARA TRENGGALEK – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Trenggalek mencatat progres pengisian data lembaga Madrasah Diniyah (Madin) melalui aplikasi Education Management Information System (EMIS) masih tergolong rendah.
Hingga akhir Mei 2026, baru sekitar 24 persen Madin yang menyelesaikan proses pendataan hingga tahap Berita Acara Pendataan (BAP).
Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag Trenggalek, Agus Prayitno, mengatakan pihaknya terus melakukan pendampingan kepada operator EMIS baik di lingkungan pondok pesantren maupun Madrasah Diniyah.
“Hampir tiap hari saya mendampingi EMIS pondok dan Madin. Untuk update, Madin yang sudah BAP 127 dari 522. Lalu data sampai pagi ini untuk pondok menjadi 16 yang sudah BAP,” ujar Agus Prayitno saat dikonfirmasi, Selasa (26/5/2026).
Agus menjelaskan, EMIS merupakan sistem pendataan resmi berbasis web yang dikelola Kementerian Agama RI untuk mengintegrasikan data lembaga pendidikan Islam formal maupun nonformal di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.
Menurutnya, Mei 2026 menjadi batas akhir penyelesaian pendataan hingga tahap BAP. Pendataan tersebut wajib dilakukan setiap semester untuk memastikan data santri dan lembaga tercatat secara resmi dalam sistem nasional.
Ia menegaskan, kelalaian dalam mengelola EMIS dapat berdampak serius terhadap legalitas lembaga.
“Kalau tidak didata, data siswa tidak bisa dipantau secara sistem. Jika operator EMIS Madin maupun pondok dua tahun berturut-turut tidak menggarap EMIS, sistem akan mencabut izin operasionalnya, baik Madin maupun pondok,” tegasnya.
Karena itu, Agus mengimbau seluruh operator Madin dan pondok pesantren segera menyelesaikan proses penginputan data demi keberlangsungan lembaga dan persiapan menuju pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren.
“Tetap semangat para operator. Perjuanganmu tidak akan sia-sia. Allah SWT akan menggantikan yang lebih baik, amiin,” pesannya.
Sementara itu, salah satu operator EMIS sekaligus ustaz di Kecamatan Durenan, Junaid, menilai rendahnya capaian pendataan tidak lepas dari minimnya kesadaran administrasi di sejumlah lembaga.
Menurutnya, sebagian pengelola lembaga lebih fokus menjalankan kegiatan pendidikan dan dakwah dibanding pengelolaan administrasi secara tertib.
“Belum ada kesadaran untuk mau tertib administrasi. Kebanyakan juga kaum mudanya untuk jadi operator juga tidak greget,” ungkap Junaid.
Selain itu, kata dia, masih banyak faktor lain yang menjadi kendala, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia hingga tidak tersedianya operator khusus di sejumlah lembaga.
“Sudah pokoknya ada banyak sisi yang mempengaruhi prosentase pengerjaan EMIS. Kadang lembaga juga tidak memiliki operator dan lain-lain,” tutupnya.











