BISNIS

Harga Telur Turun, Pakan Naik, Peternak Ayam Petelur di Trenggalek Terjepit

×

Harga Telur Turun, Pakan Naik, Peternak Ayam Petelur di Trenggalek Terjepit

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Peternakan ayam petelur di Trenggalek saat melakukan pengambilan telur di kandang.
Inti Berita:
• Harga telur di Trenggalek turun menjadi Rp24 ribu per kilogram, sementara harga pakan naik.
• Peternak ayam petelur mengaku keuntungan semakin menipis pasca-Lebaran.
• Meski biaya produksi meningkat, peternak tetap mempertahankan kualitas pakan demi menjaga hasil telur.

SUARA TRENGGALEK – Kondisi sulit tengah dialami para peternak ayam petelur di wilayah Kabupaten Trenggalek.

Di tengah kenaikan harga pakan pasca-Lebaran, harga jual telur justru mengalami penurunan sehingga keuntungan peternak semakin menipis.

Defi Sugiarto, peternak ayam petelur asal Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan, mengaku harus memutar otak agar usaha yang dirintis sejak 2012 tetap bertahan.

Saat ini harga telur di tingkat peternak berada di angka Rp24 ribu per kilogram. Harga tersebut turun dibanding kondisi normal yang biasanya berada di kisaran Rp25 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram.

Di sisi lain, biaya produksi justru meningkat akibat kenaikan harga pakan ayam petelur.

Defi menyebut harga pakan standar ukuran 50 kilogram naik dari Rp345 ribu menjadi Rp368 ribu per sak setelah Lebaran.

“Kalau harga telur sekarang turun, sedangkan pakan malah naik. Jadi keuntungan yang didapat peternak semakin sedikit,” ujar Defi, Senin (25/5/2026).

Meski kondisi pasar kurang menguntungkan, Defi mengaku tetap mempertahankan kualitas pakan demi menjaga produktivitas ayam petelurnya.

Ia tidak berani mengurangi takaran pakan karena dikhawatirkan mempengaruhi kualitas maupun jumlah produksi telur.

“Kalau pakan dikurangi nanti pengaruh ke hasil telurnya. Jadi mau tidak mau tetap dikasih sesuai kebutuhan,” katanya.

Saat ini Defi memelihara sekitar 800 ekor ayam petelur. Dari jumlah tersebut, setiap hari ia mampu menghasilkan sekitar 40 kilogram telur.

Hasil produksi telur kemudian dipasarkan ke sejumlah toko dan pertokoan di wilayah Trenggalek.

Menurutnya, permintaan telur sebenarnya mengalami peningkatan. Namun kondisi itu belum mampu menutup tingginya biaya produksi yang harus ditanggung peternak.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan, setiap 100 ekor ayam membutuhkan sekitar 11 kilogram pakan per hari.

Sementara ayam petelur mulai memasuki masa produktif sejak usia lima bulan dan mampu bertahan hingga usia sekitar dua tahun.

Meski dihadapkan pada harga yang tidak stabil, Defi memilih tetap bertahan menjalankan usaha ternaknya.

Ia berharap harga telur kembali membaik agar peternak kecil tetap mampu menjaga keberlangsungan usaha di tengah tingginya biaya produksi.