PERISTIWA

Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tahu di Trenggalek Terpaksa Kecilkan Ukuran Produk

×

Harga Kedelai Naik, Pengrajin Tahu di Trenggalek Terpaksa Kecilkan Ukuran Produk

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pedagang tahu menunjukkan produk yang kini dibuat semakin kecil karena dampak harga kedelai.
Inti Berita:
• Kenaikan harga kedelai akibat melemahnya rupiah berdampak pada pengrajin tahu di Trenggalek.
• Produsen tahu memilih mengecilkan ukuran tahu dibanding menaikkan harga jual.
• Harga kedelai naik dari Rp8.500 menjadi Rp10.500 per kilogram.

SUARA TRENGGALEK – Kenaikan harga kedelai yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah mulai berdampak pada pelaku industri rumahan di Kabupaten Trenggalek.

Salah satunya dirasakan pengrajin tahu di Dusun Bakalan, Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan.

Pengusaha tahu rumahan, Masrur, mengaku terpaksa mengurangi ukuran tahu produksinya demi mempertahankan harga jual di pasaran agar tetap terjangkau masyarakat.

“Dulunya dalam satu masakan 14 kilogram, sekarang turun 12 kilogram. Sehingga mempengaruhi ukuran tahu yang sekarang sekitar setengah centimeter,” ujar Masrur, Rabu (20/5/2026).

Dalam menjalankan usahanya, Masrur dibantu tujuh pekerja tetap serta satu pekerja tambahan yang bergantian saat hari libur.

Setiap hari mereka memproduksi tahu mentah dan tahu matang untuk dipasarkan ke sejumlah wilayah.

Masrur mengatakan kebutuhan kedelai untuk produksi mencapai 150 hingga 200 kilogram per hari.

“Saya belinya kedelai langsung banyak di Aloha Trenggalek,” terangnya.

Ia menjelaskan, dalam sekali proses produksi atau satu kali masakan, tahu yang dihasilkan mencapai sekitar 230 biji. Harga jual tahu mentah saat ini tetap dipatok Rp1.000 per biji.

“Sehari bisa sampai 12 kali masakan sehingga tinggal mengalikan dengan 230 biji,” katanya.

Untuk pemasaran, Masrur rutin mengirim hasil produksinya ke Pasar Bandung setiap pukul 01.00 WIB dini hari. Di pasar tersebut, tahu produksinya banyak dibeli pedagang keliling atau ethek, sebutan masyarakat setempat.

Menurutnya, perubahan ukuran tahu sempat memunculkan keluhan dari pelanggan. Namun setelah dijelaskan terkait kenaikan harga bahan baku, konsumen mulai memahami kondisi yang terjadi.

“Pertama ya masih ribet, pembeli juga belum tahu. Tapi lama-lama pembeli menyadari dengan adanya kenaikan baru bisa mengerti,” imbuhnya.

Pria yang telah menekuni usaha tahu sejak 2010 itu berharap pemerintah segera mencari solusi agar harga kedelai kembali stabil.

“Naiknya Rp2 ribu, dulu harganya Rp8.500 sekarang Rp10.500. Sangat memberatkan bagi pengusaha kenaikan ini. Harapannya harga bisa turun lagi,” tandasnya.

Dampak kenaikan harga kedelai juga dirasakan pedagang makanan kecil. Salah satunya Komsiyah, penjual rujak sayur dan nasi pecel di Desa Karanganom, Kecamatan Durenan.

Ia mengaku harus mengurangi porsi tahu matang dalam dagangannya karena ukuran tahu yang dibeli dari produsen kini semakin kecil.

“Mau tidak mau harus kami kurangi pemberian tahu matang untuk rujak mas,” ujarnya.

Selain tahu, ukuran tempe yang dijual di pasaran juga mulai mengecil sehingga turut memengaruhi porsi dagangan nasi pecel yang dijualnya setiap hari.