Inti Berita:
• RSUD Tipe D Panggul mencatat peningkatan pasien pengguna BPJS hingga mencapai 50 persen.
• Pendapatan rumah sakit tahun 2025 mencapai sekitar Rp5 miliar dari target Rp6 miliar.
• Rumah sakit berencana menambah layanan poli saraf, namun terkendala belum adanya alat CT Scan.
SUARA TRENGGALEK – Penggunaan layanan BPJS Kesehatan di RSUD Tipe D Panggul, Kabupaten Trenggalek, mulai mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Jika sebelumnya didominasi pasien umum, kini komposisinya mulai seimbang dengan pasien BPJS. Bahkan tahun 2025 tercatat pendapatan dari BPJS meningkat mencapai Rp 5 miliar.
Direktur RSUD Tipe D Panggul, dr. Rendra Andriawan mengatakan tren pelayanan rumah sakit saat ini sudah mencapai perbandingan 50:50 antara pasien umum dan pengguna BPJS.
“Kalau BPJS alhamdulillah, dulu trennya masih didominasi pasien umum. Tapi sekarang sudah mulai 50-50 antara BPJS dan umum,” ujar Rendra, Senin (18/5/2026).
Ia menjelaskan, pada tahun sebelumnya kontribusi pendapatan dari layanan BPJS masih relatif kecil, yakni sekitar 20 hingga 30 persen.
“Kalau kemarin BPJS itu hanya sekitar 20-30 persen,” katanya.
Sementara itu, total pendapatan RSUD Panggul sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar Rp5 miliar dari target yang dipatok sebesar Rp6 miliar.
“Pendapatan tahun 2025 kemarin sekitar Rp5 sekian miliar. Targetnya memang Rp6 miliar,” jelasnya.
Dari total pendapatan tersebut, kontribusi layanan BPJS diperkirakan sekitar 20 persen atau lebih dari Rp1 miliar.
“Kalau BPJS saja sekitar 20 persen dari total itu,” imbuhnya.
Terkait pencairan klaim BPJS, Rendra memastikan saat ini proses pembayaran berjalan lancar dan tidak lagi mengalami tunggakan seperti beberapa tahun sebelumnya.
“Sekarang di BPJS alhamdulillah setiap bulan sudah cair. Jadi sebenarnya bukan menunggak, tapi proses bulan berjalan,” tegasnya.
Selain membahas layanan BPJS, RSUD Panggul juga mengevaluasi jenis penyakit yang paling banyak dirujuk dari wilayah selatan Trenggalek.
Saat ini kasus gangguan saraf menjadi salah satu layanan yang paling sering membutuhkan rujukan lanjutan.
“Yang paling banyak dirujuk itu pasien saraf,” ungkap Rendra.
Tingginya kasus tersebut membuat manajemen rumah sakit mempertimbangkan penambahan layanan poli saraf di RSUD Panggul.
“Makanya ada pertimbangan untuk menambah poli saraf,” katanya.
Namun, pengembangan layanan tersebut masih terkendala fasilitas penunjang medis, terutama alat CT Scan yang hingga kini belum dimiliki rumah sakit.
“Kalau pelayanan saraf itu harus ada CT Scan. Nah anggarannya memang lumayan besar,” jelasnya.
Pihak rumah sakit berharap ada dukungan anggaran dari pemerintah daerah maupun pusat agar pelayanan kesehatan saraf di wilayah selatan Trenggalek bisa lebih maksimal.
“Kami berharap mudah-mudahan nanti daerah atau pusat bisa membantu agar pelayanan bisa lebih maksimal,” pungkas Rendra.











