SUARA TRENGGALEK – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek mencatat adanya peningkatan kasus diabetes dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, peningkatan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh bertambahnya jumlah penderita, melainkan juga dipengaruhi oleh semakin masifnya upaya skrining kesehatan yang dilakukan pemerintah.
Kepala Diskesdalduk KB Trenggalek, dr. Sunarto, menjelaskan bahwa peningkatan angka diabetes perlu dilihat secara proporsional.
Langkah Deteksi Dini Kasus Diabetes
Menurutnya, deteksi dini yang semakin luas membuat lebih banyak kasus, termasuk prediabetes, dapat teridentifikasi.
“Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kasus diabetes memang meningkat. Tapi peningkatan ini bisa karena kasusnya bertambah, bisa juga karena skrining yang semakin masif,” ujar dr. Sunarto.
Ia menyebutkan, pemeriksaan diabetes membutuhkan alat khusus yang sebelumnya tidak mudah diakses masyarakat karena faktor biaya.

Program CKG Trenggalek
Namun, melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari pemerintah, alat pemeriksaan gula darah kini tersedia dan dapat diakses oleh masyarakat luas.
“Dengan program CKG, pemerintah menyiapkan alat pemeriksaan gula darah, sehingga siapapun bisa mengakses. Dampaknya, masyarakat jadi tahu apakah dirinya diabetes, prediabetes atau tidak,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Sunarto menekankan bahwa gaya hidup menjadi faktor dominan dalam meningkatnya kasus diabetes.
Faktor Penyebab Pola Makan dan Mager
Pola makan yang tidak sehat serta kurangnya aktivitas fisik berperan besar terhadap gangguan kadar gula darah.
“Pola makan itu faktor utama, yang kedua adalah kurang gerak. Ketika orang malas bergerak, reseptor insulin menjadi tidak peka,” katanya.
Selain itu, kondisi kegemukan atau obesitas juga turut memengaruhi kerja insulin dalam tubuh. Menurutnya, penurunan sensitivitas reseptor insulin akibat kegemukan dapat menyebabkan kadar gula darah tidak terkontrol dalam jangka panjang.
“Kalau kadar gula tidak terkontrol dalam waktu lama, itulah yang disebut diabetes,” tambahnya.
Terkait anggapan bahwa diabetes merupakan penyakit keturunan, dr. Sunarto menegaskan bahwa yang diturunkan bukanlah penyakitnya, melainkan tingkat kerentanan atau risikonya.

Diabetes Bukan Penyakit Turunan
“Bukan penyakitnya yang diturunkan, tapi kerentanannya. Kalau seseorang punya perilaku hidup sehat, insyaallah risiko itu bisa dikurangi,” ujarnya.
Ia mencontohkan, seorang anak dengan orang tua penderita diabetes belum tentu akan mengalami penyakit yang sama jika mampu menjaga pola hidup sehat, meskipun faktor kerentanan tetap ada.
“Jadi, ayahnya diabetes, anaknya belum tentu diabetes kalau pola hidupnya diubah. Tapi memang kerentanannya tetap ada,” pungkasnya.
Dengan semakin luasnya skrining kesehatan dan meningkatnya kesadaran masyarakat, dr. Sunarto berharap kasus diabetes dapat terdeteksi lebih dini sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.











