Inti Berita:
• Satu dapur MBG di Trenggalek masih disuspend BGN
• Lokasi di Desa Srabah, Bendungan (Yayasan Bamboe Future)
• Kendala utama: belum memenuhi standar sarpras
• Dari 4 dapur yang disetop, 3 sudah kembali beroperasi
SUARA TRENGGALEK – Satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Trenggalek hingga awal Mei 2026 masih belum beroperasi setelah dikenai sanksi suspend oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
SPPG yang masih disetop operasionalnya tersebut berada di Desa Srabah (Suren), Kecamatan Bendungan, yakni milik Yayasan Bamboe Future.
Penyebab belum beroperasi, karena dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut belum memenuhi standar sarana dan prasarana.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto saat dikonfirmasi terkait perkembangan operasional sppg yang terkena suspend mengatakan bahwa saat ini hanya tersisa satu SPPG yang masih dalam status suspend.
“Jumlah yang masih disuspend satu saja, di Kecamatan Bendungan Desa Srabah, Yayasan Bamboe Future,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Ia juga menjelaskan, kendala utama pembukaan kembali dapur tersebut adalah karena proses pemenuhan sarana dan prasarana yang masih berproses.
“Kendalanya di proses pemenuhan sarpras,” jelasnya.
Untuk mencegah kejadian serupa pada dapur MBG lainnya, Sunarto menyampaikan bahwa satgas mbg terus melakukan monitoring dan evaluasi (monev) serta pembinaan secara berkala.
“Upaya pencegahan dengan monev berkala dan pembinaan berkala,” tambahnya.
Sunarto menegaskan, pihaknya bersama BGN terus mendorong pengelola SPPG yang disuspend agar segera memenuhi seluruh persyaratan agar bisa kembali beroperasi.
“Penanganannya bersama BGN, supaya segera memenuhi persyaratan,” tegasnya.
Sebelumnya telah diberitakan, terdapat empat dapur MBG di Trenggalek yang sempat disetop operasionalnya oleh BGN.
Selain Yayasan Bamboe Future di Desa Srabah (Suren), tiga lainnya yakni Yayasan Mulia Hiroku Gakkou di Desa Pogalan, Yayasan Ar Rahman di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, serta Yayasan Al Mursyid di Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan.
Pelanggaran yang ditemukan beragam, mulai dari tidak adanya tenaga ahli gizi hingga belum terpenuhinya standar sarana dan prasarana.
Namun, hingga saat ini tiga dapur lainnya telah kembali beroperasi setelah memenuhi ketentuan, menyisakan satu SPPG yang masih dalam proses perbaikan.











