PERISTIWA

Sosok Kapolres Trenggalek AKBP Indra, Pernah Ungkap Sabu 5 Kg

×

Sosok Kapolres Trenggalek AKBP Indra, Pernah Ungkap Sabu 5 Kg

Sebarkan artikel ini

SUARATRENGGALEK.COM – Prosesi serah terima jabatan Kapolres Trenggalek telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 17 Juli 2024 di Mapolda Jatim.

Sedangkan Laporan kesatuan dan apel kesatuan di Mapolres Trenggalek diselenggarakan hari, Kamis (17/7/2024).

Sebelumnya, kepemimpinan Kapolres Trenggalek di jabat AKBP Gathut Bowo Supriyono yang mendapat promosi sebagai Wadirlantas Polda Kepri.

Kemudian digantikan oleh AKBP Indra Ranu Dikarta yang sebelumnya menjabat sebagai Danyon B Pelopor Satbrimob Polda Jatim.

Mari lebih jauh mengenal sosok AKBP Indra Ranu Dikarta, tentang sepak terjangnya di dunia kepolisian dan progres apa yang akan dilakukan sebagai Kapolres Trenggalek.

AKBP Indra sapaan akrab beliau, lahir di Jakarta Selatan 45 tahun yang lalu. Sejak kecil, dirinya sudah berkutat dengan hingar bingar kota Jakarta.

Hingga kemudian lulus dari SMA Negeri 3 Seteabudi Jakarta tahun 1988 dan meneruskan karirnya di Kepolisian.

Usai mengikuti pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2004 dan pendidikan perwira dasar Brimob.

Pria berdarah Sunda yang saat itu masih berpangkat Ipda ditempatkan sebagai Pasipers Sat Brimob Polda Babel dan tahun 2011 bergeser ke Sat III Pelopor Polda Metro Jaya.

Dua tahun berselang menjabat sebagai Kasiops Sat II Pelopor Polri dan tahun 2016 ia dipercaya untuk menjabat sebagai Kapolsek Pondok Aren Polres Tangerang Selatan.

Karirnya terus menanjak dan menjabat sebagai Kapolsek Kebayoran Lama Polres Metro Jaksel. Saat menjabat sebagai Kapolsek ini, beberapa kasus besar sukses diungkapnya.

Berkat tangan dinginnya, AKBP Indra berhasil menangkap pelaku perampokan minimarket, pencurian di kantor media, pembobolan ATM di Tanah Kusir.

Bahkan pengungkapan peredaran 5 kilogram sabu hingga penertiban premanisme yang meresahkan masyarakat.

Atas berbagai prestasinya, tahun 2021 AKBP Indra kemudian ditarik ke Polda Metro Jaya dan ditempatkan sebagai penyidik.

Penyidik pada Ditreskrimum sekaligus persiapan pendidikan Seskoad gelombang 2 Dikreg LXI.

Karir seorang AKBP Indra bisa dikatakan tak jauh dari Reserse dan Brimo. Tahun 2022 adalah tahun pertama ia bertugas di Jawa Timur sebagai Kasubdit 2 Ditresnarkoba Polda Jatim.

Saat menjabat, AKBP Indra merupakan salah satu sosok yang turut berperan dalam pembangunan `Kampung Bebas Narkoba` di seluruh Jawa Timur.

Karirnya terus berlanjut sampai pada tahun 2023, ia dipercaya kembali untuk menjabat sebagai Komandan Bataliyon (Danyon) B Pelopor Satbrimob Polda Jatim.

Untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi yang dimiliki, AKBP Indra pernah mengikuti sejumlah pendidikan pengembangan, diantaranya perwira penyidik tindak pidana terorisme dan pendidikan jabatan inspektur Danki Brimob.

Tak berhenti disitu, ia juga menyelesaikan pendidikan Strata 2 (S2) di salah satu perguruan tinggi bergengsi yakni universitas Indonesia dan lulus tahun 2019.

Melihat sepak terjang dan prestasinya, maka tak heran jika kemudian seorang AKBP Indra Ranu Dikarta mendapat amanah yang lebih besar menjabat sebagai Kapolres Trenggalek. Perjalanan di Bumi Menak Sopal dimulai sejak hari ini.

Dalam apel kesatuan yang dikuti oleh seluruh anggota Polres Trenggalek, AKBP Indra menyatakan siap menjalankan amanah dan melanjutkan dan menyempurnakan berbagai kebijakan sebelumnya.

Juga lebih menfokuskan pada upaya Harkamtibmas, menciptakan Kamtibmas yang senantiasa kondusif serta membangun sinergitas yang kuat dengan TNI, unsur pemerintahan dan elemen masyarakat lainnya. (*)

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.