OLAHRAGA

Meski Biaya Berangkat Swadaya, 4 Pesilat Perisai Diri Trenggalek Sabet 5 Medali di Ajang International Indonesian Open

×

Meski Biaya Berangkat Swadaya, 4 Pesilat Perisai Diri Trenggalek Sabet 5 Medali di Ajang International Indonesian Open

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Atlet Perisai Diri Trenggalek yang torehan nama di ajang International Indonesian Open
Inti Berita:
• Empat pesilat dari Satria Dirandra Perisai Diri Trenggalek berhasil menyabet tiga medali emas dan dua medali perak pada ajang 4th International Indonesian Open Pencak Silat Championship 2026 di Jakarta.
​• Pesilat muda Hafidzah Aulia Putri (13) menorehkan prestasi gemilang dengan memborong dua medali emas sekaligus dari kategori tanding dan seni.
​• Aisya Madina Maheswari menyumbang satu emas di kelas remaja kategori B tanding, sedangkan Nadhifin Agna Al Hilmiy dan Ammar Bahir Arkana masing-masing mempersembahkan medali perak.

SUARA TRENGGALEK – Empat pesilat Satria Dirandra yang tergabung dalam Perisai Diri Trenggalek berhasil membawa pulang lima medali dari ajang 4th International Indonesian Open Pencak Silat Championship 2026.

Kejuaraan tersebut berlangsung di Taman Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada 14-21 September 2026.

Dalam kejuaraan tersebut, empat atlet asal Trenggalek berhasil meraih tiga medali emas dan dua medali perak.

Manager Official Satria Dirandra Trenggalek, Reny Mintarti, mengatakan kejuaraan tersebut diikuti hampir seluruh perguruan pencak silat di Indonesia serta sejumlah klub silat dari luar negeri.

“Pesertanya dari hampir semua perguruan di Indonesia, terus dari klub-klub silat. Dari luar negeri juga ada beberapa, seperti Malaysia, Spanyol, dan Thailand,” ujar Reny Mintarti saat ditemui bersama empat atlet peraih medali, Rabu (23/9/2026).

Satria Dirandra Trenggalek mengirimkan empat atlet untuk mengikuti lima kategori pertandingan.

Keempatnya yakni Aisya Madina Maheswari (16), Hafidzah Aulia Putri (13), Ammar Bahir Arkana (13), dan Nadhifin Agna Al Hilmiy (15).

Reny yang juga Pengurus Bagian Organisasi Perisai Diri Trenggalek menjelaskan, lima kategori tersebut terdiri atas tiga kategori tanding dan dua kategori seni.

Hafidzah Aulia Putri menjadi salah satu atlet yang mencatatkan prestasi menonjol. Atlet berusia 13 tahun itu mengikuti dua kategori, yakni tanding dan seni, dan berhasil meraih dua medali emas.

“Hafidzah mengikuti dua kategori, yakni tanding dan seni, dan berhasil meraih dua medali emas,” bebernya.

Sementara itu, Aisya Madina Maheswari yang turun di kelas remaja kategori B berhasil meraih medali emas pada nomor tanding.

Dua medali perak masing-masing diraih Nadhifin Agna Al Hilmiy dari kelas pra-remaja kategori E dan Ammar Bahir Arkana pada kategori seni tunggal pra-remaja putra.

Reny mengaku pencapaian tersebut di luar dugaan. Sebab, para atlet hanya memiliki waktu sekitar dua minggu untuk mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan internasional tersebut.

“Berangkat itu hanya modal bismillah dengan latihan yang tidak terlalu lama. Soalnya event ini dibuka pendaftarannya sudah tidak begitu lama. Persiapannya sekitar dua minggu,” ungkapnya.

Menurut Reny, capaian tiga medali emas dan dua medali perak tersebut menjadi pencapaian bagi Satria Dirandra Trenggalek.

Terlebih, ajang tersebut menjadi pengalaman pertama mereka mengikuti kejuaraan International Open.

“Kalau lomba anak-anak sering, tetapi kalau International Open baru kali ini,” bebernya.

Reny berharap pengalaman bertanding di tingkat internasional dapat menjadi motivasi bagi para atlet untuk terus meningkatkan kemampuan.

“Kami berharap dari pencapaian ini anak-anak bisa lebih meningkatkan kemampuannya lagi. Tidak hanya di lokal-lokal saja,” tuturnya.

Selama ini, para atlet lebih banyak mengikuti pertandingan di tingkat lokal maupun nasional.

Karena itu, pengalaman bertanding di Jakarta diharapkan menjadi pijakan untuk menambah jam terbang pada kompetisi yang lebih tinggi.

“Nanti kita juga merambah ke internasional, siapa tahu bisa go dunia,” lanjut Reny.

Untuk latihan rutin, para atlet biasanya berlatih dua kali dalam sepekan ketika tidak menghadapi pertandingan.

Namun, intensitas latihan ditingkatkan menjadi setiap hari ketika akan mengikuti perlombaan.

Kendala yang dihadapi, kata Reny, lebih banyak berkaitan dengan pembagian waktu karena para atlet masih berstatus sebagai pelajar.

“Karena mereka anak-anak sekolah, jadwal latihan mungkin masih terbatas. Harus meluangkan dan membagi waktu antara belajar dan latihan untuk lomba,” jelasnya.

Meski demikian, dukungan orang tua menjadi salah satu faktor penting dalam persiapan para atlet.

Reny menyebut para atlet berangkat dengan swadaya masing-masing, tetapi tetap mendapat dukungan penuh dari orang tua selama mengikuti latihan maupun pertandingan.

Ke depan, Satria Dirandra Trenggalek juga akan mendorong para atlet mengikuti pertandingan dengan level yang lebih tinggi dan kompetisi yang berada dalam jenjang pembinaan IPSI.

Langkah tersebut dilakukan agar pengalaman bertanding para atlet semakin bertambah sekaligus meningkatkan kemampuan mereka menghadapi lawan dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.