Inti Berita:
• KONI Trenggalek hanya mendapat anggaran Rp1 miliar di 2026
• Dana dibagi untuk 35 cabor, pembinaan sekitar Rp550 juta
• Anggaran dinilai sangat tidak cukup, banyak cabor swadaya
• Kebutuhan ideal mencapai Rp4–5 miliar untuk pembinaan dan Porprov
• KONI dorong cabor cari sponsor untuk tambahan pendanaan
SUARA TRENGGALEK – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Trenggalek menilai alokasi anggaran sebesar Rp 1 miliar pada tahun 2026 masih jauh dari cukup untuk mendukung pembinaan atlet dan kegiatan olahraga.
Anggaran tersebut dibagi kepada 35 cabang olah raga yang berada di bawah naungan Koni. Dirasa sangat minim, Ketua Koni Trenggalek berencana mengajukan anggaran yang lebih besar di tahun mendatang.
Ketua KONI Trenggalek, Doding Rahmadi, mengatakan anggaran yang diterima dari pemerintah daerah tersebut sebagian besar digunakan untuk pembinaan cabang olahraga (cabor).
“Dari pemerintah daerah ada anggaran Rp 1 miliar. Itu digunakan untuk pembinaan, yang kami bagi ke 35 cabor. Totalnya sekitar Rp 550 juta untuk pembinaan,” ujarnya.
Selain itu, anggaran juga dialokasikan untuk pemusatan latihan serta kebutuhan operasional sekretariat.
Namun, Doding menegaskan porsi anggaran tersebut masih sangat terbatas dan belum mampu memenuhi kebutuhan pembinaan secara optimal.
“Kalau dibilang cukup, sangat tidak cukup. Pembagian ke masing-masing cabor itu sangat kecil,” tegasnya.
Ia menyebut, keterbatasan anggaran membuat sejumlah cabang olahraga harus mengandalkan swadaya, terutama saat mengikuti kejuaraan tingkat provinsi (Kejurprov).
“Banyak cabor yang akhirnya swadaya untuk ikut kejurprov,” imbuhnya.
Usulan Anggaran Ideal
Untuk mendukung pembinaan yang lebih maksimal, KONI Trenggalek mengusulkan peningkatan anggaran pada tahun mendatang, terutama menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov).
Doding menyebut kebutuhan ideal mencapai Rp 4 hingga Rp 5 miliar. “Kalau ideal, tahun depan sekitar Rp4 sampai Rp 5 miliar. Itu untuk Porprov dan pembinaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengalaman sebelumnya menunjukkan anggaran yang ada kerap habis untuk kebutuhan Porprov, sehingga pembinaan atlet kurang optimal.
“Seperti tahun sebelumnya, anggaran sekitar Rp2 miliar habis untuk Porprov, akhirnya pembinaan kurang,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan ideal pembinaan saja mencapai sekitar Rp2 miliar, sementara kegiatan Porprov juga membutuhkan anggaran serupa.
Dorong Sumber Pendanaan Alternatif
Untuk mengatasi keterbatasan anggaran, KONI mendorong masing-masing cabang olahraga mencari sumber pendanaan tambahan melalui sponsor atau kerja sama pihak lain.
“Kalau ada event, cabor bisa menggandeng sponsor atau pendanaan dari luar. Itu bisa diajukan oleh masing-masing cabor,” pungkasnya.











