Inti Berita:
• Kasus DBD di Kabupaten Trenggalek pada semester pertama 2026 turun menjadi 54 kasus, melanjutkan tren penurunan setelah lonjakan pada 2024.
• Meski demikian, Dinkes PPKB Trenggalek mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah munculnya tempat perkembangbiakan nyamuk.
SUARA TRENGGALEK – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Trenggalek menunjukkan tren penurunan pada semester pertama 2026. Angka tersebut juga linier dalam siklus 3 tahunan.
Hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek mencatat sebanyak 54 kasus DBD, lebih rendah dibandingkan periode yang sama dalam beberapa tahun terakhir.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes PPKB Kabupaten Trenggalek, Andiek Muarifin, mengatakan penurunan tersebut menjadi kabar baik.
Namun demikian, masyarakat diminta tidak lengah karena penyakit DBD memiliki pola siklus yang dapat kembali meningkat setiap tiga hingga lima tahun.
“Alhamdulillah untuk kondisi penyakit DBD atau Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Trenggalek pada awal tahun 2026, data mulai Januari sampai dengan Juni atau semester pertama ini jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya terjadi penurunan,” kata Andiek.
Ia menjelaskan, selama Januari hingga Juni 2026 tercatat 54 penderita DBD di Kabupaten Trenggalek.
Kasus DBD Mengikuti Siklus 3 hingga 5 Tahunan
Andiek menjelaskan, berdasarkan data beberapa tahun terakhir, kasus DBD di Trenggalek menunjukkan pola siklus yang cenderung berulang setiap tiga hingga lima tahun.
Pada 2023, jumlah kasus DBD tercatat sebanyak 129 penderita. Angka tersebut kemudian melonjak drastis pada 2024 hingga mencapai 1.070 kasus, sebelum akhirnya menurun menjadi 539 kasus sepanjang 2025.
“DBD ini memang mengenal siklus antara tiga sampai lima tahun. Kalau kita lihat data mulai 2023 hingga awal 2026 ini, polanya mulai kembali linier. Alhamdulillah tren kasusnya semakin menurun,” ujarnya.
Meski demikian, Dinkes tetap mengingatkan pentingnya meningkatkan kewaspadaan melalui berbagai upaya pencegahan.
“Kita harus tetap meningkatkan kewaspadaan. Upaya promosi kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan, serta kerja sama lintas sektor dan lintas program tetap harus ditingkatkan,” tegasnya.
Wilayah Padat Penduduk Masih Berisiko Tinggi
Terkait sebaran wilayah, Andiek menuturkan seluruh kecamatan di Trenggalek tetap memiliki potensi munculnya kasus DBD.
Namun berdasarkan riwayat kejadian sebelumnya, wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi cenderung menjadi daerah yang paling banyak ditemukan kasus.
“Secara umum semua harus tetap waspada. Tetapi melihat riwayat sebelumnya, saat angka DBD tinggi biasanya terjadi di wilayah yang padat penduduk, seperti Kecamatan Trenggalek dan sekitarnya,” jelasnya.
Selain kawasan perkotaan, masyarakat di wilayah pegunungan juga diminta tidak mengabaikan potensi penyebaran DBD.
Menurut Andiek, keberadaan genangan air pada batok atau wadah penampung getah pinus di kawasan hutan dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
“Daerah pegunungan juga harus tetap waspada karena di sana banyak hutan pinus. Kadang ada batok untuk menampung getah yang berisi genangan air dan itu memungkinkan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” katanya.











