WISATA

Genjot PAD, Bupati Trenggalek Bakal Kembali Poles Wisata Populer

×

Genjot PAD, Bupati Trenggalek Bakal Kembali Poles Wisata Populer

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin.
Inti Berita:
• Pemkab Trenggalek memilih mengembangkan destinasi wisata baru ketimbang hanya fokus pada Pantai Pasir Putih.
• Kawasan Bendungan dan Dilem Wilis disiapkan menjadi ekosistem wisata kopi, susu, hingga glamping.
• Mesin roasting kopi peninggalan Belanda akan dihidupkan kembali sebagai wisata edukasi.

SUARA TRENGGALEKBupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menjelaskan alasan pemerintah daerah memilih mengembangkan sejumlah destinasi wisata baru dibanding hanya berfokus pada kawasan Pantai Pasir Putih yang selama ini menjadi penyumbang pendapatan wisata terbesar.

Menurut Arifin, strategi tersebut dilakukan agar Kabupaten Trenggalek memiliki sumber-sumber pendapatan baru dari sektor pariwisata.

“Kalau yang sudah banyak memberikan pendapatan kita sentuh lagi, maka kita tidak punya keranjang pendapatan baru,” ujar Arifin.

Ia mengibaratkan pengembangan pariwisata seperti diversifikasi investasi. Menurutnya, destinasi wisata perlu diperluas agar wisatawan tidak bosan datang ke tempat yang sama.

“Maka kita membangun di beberapa spot yang selama ini masih kurang menarik,” katanya.

Beberapa kawasan yang mulai disentuh antara lain Pantai Prigi dan Goa Lowo. Pantai Prigi yang dulu sempat menjadi primadona wisata kini kembali dibenahi setelah kalah populer dibanding Pantai Pasir Putih.

Sementara Goa Lowo dinilai mengalami penurunan kunjungan sejak pandemi Covid-19 karena sempat muncul isu kelelawar sebagai penyebar virus.

“Sekarang JLS dibuka malah jarang dikunjungi. Kalau tidak kita sentuh maka akan sepi,” ungkapnya.

Selain kawasan pantai, Pemkab Trenggalek juga menyiapkan pengembangan kawasan Bendungan dan Dilem Wilis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis wisata dan produk lokal.

Salah satu proyek yang disiapkan adalah menghidupkan kembali mesin roasting kopi peninggalan Belanda.

“Target kita mesin kopi peninggalan Belandanya nanti bisa berfungsi lagi. Jadi kita bisa roasting di situ dengan teknologi Belanda,” jelas Arifin.

Menurutnya, wisatawan nantinya tidak hanya menikmati kopi lokal Trenggalek, tetapi juga mendapatkan pengalaman melihat proses roasting kopi ala zaman kolonial.

“Selain kopinya bisa dijual, experience untuk tahu bagaimana dulu zaman Belanda me-roasting kopi itu nanti bisa jadi wisata,” ujarnya.

Tak hanya kopi, kawasan tersebut juga akan dikembangkan sebagai sentra pengolahan susu. Pemkab Trenggalek berencana menghadirkan mesin sterilisasi susu untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Harapannya nanti bisa menjadi big push untuk peternak di sini supaya susunya tidak dikirim keluar kota lagi,” katanya.

Susu hasil peternak lokal nantinya direncanakan diolah dan dikemas oleh pemerintah daerah sebelum disalurkan ke sekolah-sekolah.

Arifin menyebut pengembangan kawasan Dilem Wilis akan terhubung dengan penataan kawasan perkotaan sehingga membentuk satu koridor wisata baru.

Ia juga menyoroti mulai tumbuhnya investasi swasta seperti glamping di kawasan perkebunan kopi yang kini ramai dikunjungi wisatawan.

“Di bawah sudah ada pengusaha yang bikin glamping, di atas kita percantik, nanti traffic-nya pasti muncul,” ucapnya.

Menurut Arifin, pengembangan wisata ini sekaligus menjadi strategi Pemkab Trenggalek meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa membebani masyarakat melalui kenaikan pajak.

“Kalau tidak menaikkan pajak, pendapatannya tambah dari mana? Ya dari aktivitas pengelolaan aset yang kita punya,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Arifin juga memaparkan rencana pembiayaan daerah sebesar Rp70 miliar yang telah disepakati bersama DPRD.

Awalnya, Pemkab Trenggalek memproyeksikan kemampuan pembiayaan mencapai sekitar Rp150 miliar. Namun setelah dihitung berdasarkan debt service ratio, kemampuan daerah hanya berada di angka Rp70 miliar.

Dari total pembiayaan tersebut, sekitar Rp41 miliar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur jalan, sedangkan Rp29 miliar digunakan untuk sektor pariwisata dan revitalisasi kawasan perkotaan.

“Maka kita putuskan menyentuh kawasan perkotaan dan pariwisata karena itu bisa menjadi pengungkit pertumbuhan,” pungkasnya.