SUARA TRENGGALEK – Maraknya Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK di awal tahun 2025 berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat.
Kondisi ini membuat tingkat konsumsi masyarakat menurun, bahkan perputaran uang selama momen Ramadan dan Idulfitri 2025 tercatat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menyebutkan bahwa tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat cukup berat sejak awal tahun ini.
Salah satu pemicunya adalah gelombang PHK yang terjadi secara masif di dua bulan pertama 2025.
“Masyarakat mengalami tekanan ekonomi yang cukup berat di awal tahun ini. Salah satu penyebabnya adalah masifnya PHK di dua bulan awal tahun 2025,” ujar Nailul Huda, Jumat (28/3/2025).
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, sepanjang Januari-Februari 2025, tercatat sebanyak 18.610 orang terkena PHK. Angka tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Indeks Keyakinan Konsumen dan Penjualan Eceran Turun
Nailul menjelaskan, masifnya PHK membuat kinerja konsumsi masyarakat melemah. Hal ini tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2025 yang turun 0,4 persen dibandingkan Desember 2024.
“Jika melihat trennya dari 2022-2024, situasi ini cukup anomali. Biasanya terjadi kenaikan IKK pada Januari karena ada optimisme konsumen di awal tahun,” jelasnya.
Penurunan keyakinan konsumen berlanjut hingga Februari 2025. Bahkan, Indeks Penjualan Riil juga mengalami penurunan dari 222 pada Desember 2024 menjadi 211,5 di Januari 2025.
“Kondisi ini menunjukkan konsumen tidak yakin terhadap perekonomian 2025. Akibatnya, daya beli masyarakat terperosok di awal tahun ini,” tambah Nailul.
Perputaran Uang Lebaran Menurun
Kondisi ekonomi yang melemah ini berimbas pada perputaran uang selama Ramadan dan Idulfitri 2025. Nailul menyebutkan, tambahan jumlah uang beredar pada periode tersebut diproyeksikan melemah hingga 16,5 persen dibandingkan Lebaran 2024.
“Tambahan uang beredar hanya sebesar Rp114,37 triliun. Sedangkan pada Ramadan dan Idulfitri 2024, tambahan uang beredar mencapai Rp136,97 triliun,” tutup Nailul Huda.