PERISTIWA

DPR RI Soroti Dugaan Keracunan MBG di Trenggalek, Tak Hanya Pangan, Relawan SPPG Juga Harus Tersertifikasi

×

DPR RI Soroti Dugaan Keracunan MBG di Trenggalek, Tak Hanya Pangan, Relawan SPPG Juga Harus Tersertifikasi

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ompreng MBG saat berada di ruang transif SMP Negeri 1 Trenggalek sebelum dihentikan sementara sehari setelah terjadi gangguan kesehatan.
Inti Berita:
• Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mendorong penguatan sertifikasi pangan dan sertifikasi tenaga dalam pelaksanaan MBG.
• Menurutnya, insiden yang menyebabkan 549 penerima manfaat diduga mengalami gangguan kesehatan harus menjadi bahan evaluasi bagi seluruh dapur MBG, termasuk dalam memastikan standar tenaga yang terlibat dalam pengelolaan makanan.

SUARA TRENGGALEK – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini mendorong penguatan standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Trenggalek, termasuk melalui sertifikasi tenaga yang bekerja di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Hal itu disampaikan Novita menyusul insiden dugaan gangguan kesehatan yang dialami ratusan penerima manfaat MBG dari SPPG Tamanan, Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah, Kabupaten Trenggalek.

Menurut Novita, soal sertifikasi tidak hanya diperlukan untuk produk pangan, tetapi juga bagi tenaga yang terlibat dalam proses pengelolaan makanan.

“Iya, tentu kami dari pusat mendorong sertifikasi pangan juga. Kemudian sertifikasi tenaga juga, tenaga yang ada di masing-masing dapur, baik yang mengelola, mencuci, dan lain sebagainya,” ungkap Novita.

Ia menegaskan, standarisasi tersebut tidak hanya berlaku bagi pelaku UMKM maupun produk yang dihasilkan.

“Itu juga harus tersertifikasi karena standarisasi ini tidak hanya bagi pelaku UMKM, tidak hanya pada produk, loh,” ujarnya.

Sertifikasi Tenaga Pariwisata Juga Didorong

Novita mengatakan, kebutuhan sertifikasi juga berlaku di sektor pariwisata. Ia mencontohkan tenaga pemandu wisata yang juga membutuhkan standarisasi.

“Di dunia pariwisata itu juga ada standarisasi khusus. Bagaimana bisa menjadi guide, tour guide yang memang tersertifikasi,” katanya.

Ia berharap hal tersebut dapat disampaikan kepada pihak terkait di Kabupaten Trenggalek, khususnya sektor pariwisata.

“Nah, ini yang Kabupaten Trenggalek mungkin disampaikan nanti ya ke teman-teman pariwisata atau Dinas Pariwisata,” ujarnya.

Novita menyebut pihaknya mendorong peningkatan sertifikasi bagi tenaga pariwisata pada tahun depan. Hal serupa juga dinilai perlu diterapkan pada tenaga yang bekerja di dapur MBG.

“Kita mengejar tahun depan untuk bisa meningkatkan sertifikasi di tenaga-tenaga pariwisata. Begitu pula juga yang ada di dapur-dapur MBG,” jelasnya.

Menurutnya, insiden yang terjadi di Trenggalek harus menjadi bahan evaluasi bagi dapur MBG lainnya.

“Jadi satu kesalahan tentunya harus menjadi tolok ukur bagi seluruh dapur-dapur MBG yang ada,” tegas Novita.

Ia berharap penguatan sertifikasi dapat dilakukan untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi.

“Dan tentunya agar menghindari kejadian tanpa sertifikasi menjadi petani,” katanya.

549 Penerima Manfaat Diduga Terdampak

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, sebanyak 549 penerima manfaat diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG yang disalurkan SPPG Tamanan di bawah naungan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah.

Data tersebut merupakan hasil pendataan sementara Satgas MBG Trenggalek setelah muncul keluhan berupa mual, muntah hingga diare pada penerima manfaat.

Atas kejadian itu, SPPG Tamanan Trenggalek kemudian mendapat sanksi suspend selama 30 hari setelah muncul insiden dugaan gangguan kesehatan tersebut.

Dari total 549 penerima manfaat yang diduga terdampak, sebanyak 493 orang berasal dari SMPN 1 Trenggalek, 30 orang dari SD Integral Luqman Hakim, serta 26 penerima manfaat dari Posyandu Tamanan yang tersebar di lima posyandu.

Siswa SDI Luqman Hakim Sempat Dirawat

Salah satu penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan adalah siswa SDI Luqman Hakim berinisial SA (11).

SA sebelumnya menjalani perawatan selama tiga hari di RSUD dr. Soedomo Trenggalek setelah mengalami muntah, diare dan dehidrasi. Ia kemudian diperbolehkan pulang pada Jumat (14/8/2026).

Siswa kelas 5 tersebut mengalami diare lebih dari 10 kali dan muntah lebih dari tujuh kali. Kondisi tersebut membuat tubuhnya lemas dan membutuhkan perawatan.

Berikut adalah ringkasan khusus data korban terdampak dugaan keracunan MBG di Trenggalek:

Total Korban Terdampak: 549 Orang

  1. Berdasarkan Jenis Penerima Manfaat
  • Siswa: 494 orang (474 SMP + 20 SD)
  • Guru / Tenaga Pendidik: 29 orang (19 SMP + 10 SD)
  • Balita: 9 orang
  • Ibu Menyusui: 4 orang
  • Ibu Hamil: 3 orang
  • Kader Posyandu: 2 orang
  • Anggota: 8 orang
  1. Berdasarkan Lokasi kejadian
  • SMPN 1 Trenggalek (493 orang):
    Siswa: 474 orang
    Guru: 19 orang
    (Catatan: 78 orang masih dalam kondisi sakit/berkeluhan, 41 orang tidak masuk sekolah)
  • SD Integral Luqman Hakim (30 orang):
    Siswa: 20 orang
    Guru: 10 orang
  1. Posyandu Tamanan (26 orang dari 5 Posyandu):
  • Balita: 9 orang
  • Anggota lain: 8 orang
  • Ibu Menyusui: 4 orang
  • Ibu Hamil: 3 orang
  • Kader Posyandu: 2 orang