Inti Berita:
• Kompetisi ini menjadi turnamen Free Fire kedua yang digelar di Trenggalek.
• Kendala utama pelaksanaan berada pada kestabilan jaringan internet.
• Seorang pemain berusia 13 tahun berhasil tampil menonjol dan menjadi juara.
SUARA TRENGGALEK – Antusiasme generasi muda terhadap olahraga elektronik (esports) di Kabupaten Trenggalek kembali terlihat dalam gelaran turnamen Garena Free Fire yang sukses mempertemukan puluhan tim dari berbagai wilayah.
Turnamen yang digelar dengan semangat sportivitas tersebut menjadi wadah bagi para pemain untuk mengasah kemampuan sekaligus mempererat komunitas esports yang terus berkembang di Trenggalek.
Ketua Panitia, Zeky Almas Elfreda, mengatakan turnamen kali ini diikuti oleh 24 tim. Tingginya jumlah peserta menunjukkan besarnya minat para pemain untuk berpartisipasi dalam kompetisi esports di daerah.
“Alhamdulillah peserta yang ikut ada 24 tim. Antusias teman-teman cukup tinggi dan itu jadi semangat tersendiri bagi panitia untuk memberikan yang terbaik selama kegiatan berlangsung,” ujar Zeky.
Menurutnya, panitia telah melakukan berbagai persiapan teknis sejak jauh hari untuk memastikan jalannya kompetisi berlangsung lancar dan sesuai standar pertandingan.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggunakan custom room resmi dari Garena Free Fire agar pertandingan berjalan lebih tertata dan memberikan kenyamanan bagi para peserta.
“Persiapannya sudah matang. Kami juga menggunakan custom room resmi dari Garena Free Fire supaya jalannya pertandingan lebih tertata dan peserta bisa bermain dengan nyaman,” tambahnya.
Zeky menjelaskan, turnamen Free Fire tersebut telah digelar sebanyak dua kali. Keberlanjutan kompetisi dinilai penting untuk menjaga geliat komunitas esports sekaligus membuka ruang bagi munculnya talenta-talenta baru di Trenggalek.
Meski demikian, panitia masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pelaksanaan turnamen. Salah satu kendala utama yang ditemui adalah kestabilan jaringan internet yang menjadi faktor penting dalam pertandingan daring.
“Kendala utama memang di jaringan. Karena pertandingan sangat bergantung pada koneksi yang stabil, jadi itu menjadi perhatian kami selama acara berlangsung,” ungkapnya.
Menariknya, turnamen kali ini juga menjadi ajang unjuk kemampuan para pemain muda. Sejumlah tim yang tampil menonjol diisi oleh peserta berusia belia yang mampu bersaing dengan pemain lainnya.
Bahkan, salah satu pemain berusia 13 tahun berhasil menunjukkan performa impresif hingga meraih gelar juara.
Bagi panitia, capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan esports di Trenggalek.
Kehadiran atlet-atlet muda dinilai sebagai potensi besar yang dapat dibina untuk berkompetisi di level yang lebih tinggi pada masa mendatang.
“Semoga ke depannya makin banyak tim yang ikut berpartisipasi di event seperti ini. Kami juga berharap ada regenerasi dari usia muda. Karena sekarang sudah terlihat ada pemain yang masih sangat muda, bahkan ada yang 13 tahun dan mampu jadi juara. Ini tentu menjadi bibit unggul yang sangat bagus untuk jangka panjang perkembangan esports di Trenggalek,” pungkasnya.











