Inti Berita:
• Progres pembangunan Bendungan Bagong di Trenggalek untuk paket 1, 2, dan 3 telah mencapai 85 persen, sedangkan akumulasi keseluruhan termasuk paket 4 yang belum terkontrak berada di angka 61 persen.
• Pihak kontraktor PT Brantas Abipraya memperketat penerapan K3L dan SMK3 melalui pemeriksaan fit to work, pengawasan APD, inspeksi rutin, hingga perencanaan simulasi keadaan darurat demi menekan risiko kecelakaan kerja.
SUARA TRENGGALEK – Progres pembangunan Bendungan Bagong di Kabupaten Trenggalek untuk paket pekerjaan 1, 2, dan 3 telah mencapai 85 persen.
Namun, jika dihitung bersama paket 4 yang belum terkontrak, progres keseluruhan proyek tersebut tercatat sebesar 61 persen.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bagong Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, Senna Ananggadipa Adhitama, menjelaskan capaian 85 persen tersebut hanya mencakup tiga paket pekerjaan yang telah terkontrak.
“Kalau terkontrak paket 1, 2, 3 berarti sudah 85 persen. Namun apabila dimasukkan paket 4 belum terkontrak, totalnya 61 persen,” terang Senna saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).
Ia berharap pembangunan Bendungan Bagong nantinya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam pengendalian banjir, layanan irigasi, serta penyediaan air baku.
Sementara itu, SQM PT Brantas Abipraya, Septian Adi Saputra, mengatakan aspek keselamatan dan kesehatan kerja serta lingkungan (K3L) menjadi perhatian dalam setiap tahapan pembangunan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan dan kesiapan kerja atau fit to work, pengawasan penggunaan alat pelindung diri (APD), serta penerapan housekeeping untuk memastikan area kerja tetap aman dan tertata.
“Peningkatan kinerja K3L juga dilakukan melalui rapat tinjauan manajemen dan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3),” ujarnya.
Septian menambahkan, pelaksanaan K3L juga diperkuat melalui audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), pengukuran lingkungan kerja, pelatihan, sosialisasi, hingga perencanaan simulasi keadaan darurat.
Menurutnya, keterlibatan manajemen, tim HSE, pelaksana lapangan, operator, konsultan, dan direksi menjadi bagian penting dalam pengawasan serta evaluasi penerapan keselamatan kerja.
“Lewat usaha ini, keselamatan tidak hanya menjadi bentuk pemenuhan ketentuan, namun juga wujud tanggung jawab bersama guna mencegah risiko, membangun budaya kerja yang aman di setiap tahapan pembangunan Bendungan Bagong,” katanya.
Ia menegaskan penerapan K3L merupakan komitmen perusahaan untuk memastikan pekerjaan konstruksi berjalan dengan mengutamakan keselamatan pekerja dan perlindungan lingkungan.
Berbagai langkah dilakukan, mulai dari pengarahan keselamatan sebelum bekerja, inspeksi rutin, pemeriksaan kelayakan peralatan, analisis risiko pekerjaan, hingga pengawasan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Sebagai informasi, Bendungan Bagong dirancang untuk mendukung pengendalian banjir dengan reduksi banjir sebesar 85,61 hektare.
Selain itu, bendungan ini akan mendukung layanan irigasi seluas 977 hektare dan penyediaan air baku sebesar 153 liter per detik.











