BUDAYA

Unik Pasar Jadul Pangupo Jiwo Trenggalek, Belanja Pakai Koin Khusus di Tengah Hutan Pinus

×

Unik Pasar Jadul Pangupo Jiwo Trenggalek, Belanja Pakai Koin Khusus di Tengah Hutan Pinus

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Para pembeli saat bertransaksi di pasar jadul pangupo jiwo.
Inti Berita:
• Pasar Jadul Pangupo Jiwo di Desa Dompyong, Bendungan, menarik ribuan pengunjung berkat suasana hutan pinus yang asri serta penggunaan koin khusus sebagai alat transaksi pengganti rupiah.
​• Tingginya antusiasme masyarakat membuat seluruh dagangan kuliner tradisional ludes dalam waktu singkat, memaksa pengelola menambah jumlah pedagang hingga 30 orang.
​• Pengelola menerapkan aturan ketat lewat SOP, mulai dari kewajiban berbusana tradisional bagi pedagang hingga gerakan bebas sampah plastik demi menjaga kelestarian budaya.

SUARA TRENGGALEK – Pasar Jadul Pangupo Jiwo di belakang Pasar Dompyong, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, menarik perhatian pengunjung.

Pasar yang digelar setiap pasaran Minggu Legi dalam penanggalan Jawa itu menawarkan suasana tradisional, mulai dari bangunan pintu masuk berbahan bambu hingga transaksi menggunakan koin khusus.

Untuk mencapai lokasi pasar, pengunjung harus melewati jalan menurun beberapa puluh meter.

Rerimbunan pohon pinus yang menjulang menyambut mereka sebelum memasuki area pasar. Gapura berbahan anyaman bambu dan dedaunan menjadi penanda pintu masuk.

Di dekatnya, terdapat tempat penukaran uang resmi dengan uang gobog atau koin khusus yang digunakan untuk bertransaksi di dalam pasar.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya pengelola menghadirkan suasana pasar tempo dulu.

Pengunjung tidak dapat langsung menggunakan uang rupiah untuk membeli dagangan, melainkan harus menukarkannya terlebih dahulu.

Beragam kuliner tradisional dijajakan di pasar ini. Pengunjung dapat menemukan cenil, getuk, sompel, tahu lontong, pecel, nasi tiwul, kacang hijau, hingga minuman beras kencur.

Salah satu pengunjung, Rina, warga Desa Winong, Kecamatan Tugu, mengaku datang karena penasaran dengan konsep Pasar Jadul Pangupo Jiwo.

Ia merasa suasana pasar tersebut membawanya seolah kembali ke masa lampau.

“Iya penasaran. Melihat pertama kali pasar jadul kesannya kayak kembali ke masa lalu begitu lo, Mas. Seperti masuk ke ruang waktu, hehehe jadul banget,” ujar Rina, Minggu (11/10/2026).

Rina mengetahui keberadaan pasar tersebut dari temannya yang menjadi salah satu pengurus di Kecamatan Bendungan.

“Tahunya ini kebetulan ada teman yang pengurusnya ini dikasih tahu kalau ada acara. Ternyata memang sesuai sih, Pasar Pangupo Jiwo,” imbuhnya.

Ia berharap pasar tersebut dapat terus dikembangkan, baik dari sisi penataan maupun akses jalan menuju lokasi, agar semakin nyaman bagi pengunjung.

“Mungkin ke depan bisa dikembangkan lagi dan ditata lebih rapi. Serta jalannya lebih diperhatikan,” sarannya.

Pedagang Bertambah, Dagangan Cepat Habis

Penggagas Pasar Jadul Pangupo Jiwo sekaligus mantan Camat Bendungan, Sujatmiko, mengatakan penggunaan alat tukar khusus merupakan bagian dari konsep tradisional yang dirancang sejak awal.

“Konsep tradisional memang sudah digagas dari awal, termasuk alat tukar pembayaran. Jadi tidak menggunakan uang yang berlaku sekarang, melainkan harus tukar koin. Sebenarnya awal mula kami memakai uang gobog,” ujar Sujatmiko.

Namun, karena ketersediaan uang gobog tempo dulu masih terbatas, pengelola untuk sementara menggunakan koin khusus sebagai pengganti.

Pengelola tetap berupaya menyediakan uang gobog agar nuansa tradisional semakin terasa.

“Nanti tetap kami usahakan memesan uang gobog agar kesan tradisionalnya makin terasa,” lanjutnya.

Menurut Sujatmiko, antusiasme masyarakat terlihat sejak penyelenggaraan pertama. Saat itu, sebagian pedagang sempat ragu dagangan mereka akan laku.

Namun, kenyataannya, dagangan justru habis dalam waktu singkat.

“Pertama kali buka jam 07.00 WIB, ternyata jam 08.30 WIB dagangan sudah habis terjual. Sangat ramai,” ungkapnya.

Melihat tingginya minat pengunjung, pengelola menambah jumlah pedagang dan menggandakan porsi dagangan pada penyelenggaraan kedua.

Meski jumlah dagangan ditingkatkan, seluruhnya kembali habis sekitar pukul 08.30 WIB.

Pada penyelenggaraan ketiga, jumlah pedagang kembali ditambah hingga mencapai sekitar 30 orang. Waktu pembukaan juga disesuaikan menjadi pukul 08.00 WIB.

Meski porsi dagangan bertambah, kuliner yang dijual kembali habis sekitar pukul 09.45 WIB.

Sujatmiko menjelaskan, pada awal pembukaan, jumlah pedagang hanya berkisar 10 hingga 12 orang.

Seiring meningkatnya minat masyarakat, jumlah tersebut bertambah menjadi sekitar 30 pedagang, sebagian berasal dari warga setempat.

Pertahankan Konsep Tradisional dan Kebersihan

Selain mengembangkan jumlah pedagang, pengelola juga berupaya menjaga keaslian konsep pasar.

Warga yang ingin berjualan harus mengikuti prosedur operasional standar (SOP), termasuk mengenakan pakaian tradisional dan menjajakan makanan tradisional.

“Masyarakat boleh berdagang, tetapi harus mematuhi SOP. Pedagang wajib mengenakan pakaian tradisional dan makanan yang dijual juga harus makanan tradisional,” tegas Sujatmiko.

Kebersihan lingkungan turut menjadi perhatian. Pengelola menerapkan konsep tanpa plastik untuk mengurangi penggunaan bahan sekali pakai di area pasar.

Evaluasi dilakukan setiap kali penyelenggaraan untuk memperbaiki pelaksanaan berikutnya.

Dengan bertambahnya pedagang dan tingginya minat pengunjung, Pasar Jadul Pangupo Jiwo diharapkan dapat terus berjalan sekaligus menjadi ruang bagi warga untuk memperkenalkan kuliner tradisional.