KESEHATAN

Sambil Bawa Tas Kenduri, Lansia di Trenggalek Ini Terbantu Adanya Layanan BPJS Keliling

×

Sambil Bawa Tas Kenduri, Lansia di Trenggalek Ini Terbantu Adanya Layanan BPJS Keliling

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pelayanan BPJS Kesehatan keliling menghampiri para warga di pelosok.
Inti Berita:
• Mbah Sumiati (60), warga Desa Sumbergayam, Trenggalek, merasa terbantu oleh hadirnya BPJS Keliling di balai desanya untuk mengurus pemindahan faskes KIS dari Samarinda tanpa harus pergi jauh ke kota.
​• Petugas BPJS Kesehatan memberikan pengarahan bahwa masyarakat kini cukup menggunakan KTP untuk berobat jika kartu BPJS Kesehatan nonaktif atau sedang dalam proses penyesuaian data.
​• Kepala BPJS Kesehatan Trenggalek, Hari Ristiono, menyebutkan BPJS Keliling digelar dua kali seminggu untuk melayani cek data, pengaktifan kepesertaan, hingga pindah tempat berobat secara langsung (real-time).

SUARA TRENGGALEK – Terik matahari mulai menghangat dari ufuk timur. Lalu lintas kendaraan di jalan raya Trenggalek-Tulungagung tampak lengang.

Di tengah suasana pagi itu, seorang perempuan lanjut usia terlihat menyeberang jalan di depan Kantor Pemerintah Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek.

Perempuan tersebut kemudian berjalan menuju pendopo balai desa. Ia duduk seorang diri sambil menunggu pelayanan yang dibutuhkannya.

Hanya sebuah tas kenduri berwarna merah yang dibawanya. Di dalamnya tersimpan sejumlah dokumen yang diperlukan untuk mengurus fasilitas kesehatan (faskes) kepesertaannya dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Perempuan itu adalah Sumiati (60), warga RT 9 RW 5, Desa Sumbergayam, Kecamatan Durenan, Trenggalek.

Sumiati datang untuk mengurus perubahan faskes melalui layanan BPJS Keliling yang dilakukan BPJS Kesehatan Kabupaten Trenggalek bersama pemerintah desa.

Bagi Sumiati, layanan tersebut cukup berarti. Ia tidak perlu pergi jauh ke kantor BPJS Kesehatan untuk mengurus perubahan data kepesertaannya.

Sumiati diketahui sudah lama merantau ke Samarinda. Namun, setelah suaminya meninggal dunia, ia memilih pulang ke tanah kelahirannya di Trenggalek untuk merawat sang ibu yang kini sudah sakit-sakitan.

“Saya mau pindah fasilitas kesehatan dari Samarinda. Dari sana Era Medika mau pindah ke sini, sekalinya dicek di BPJS saya sudah tidak berlaku lagi,” ujar Sumiati, Selasa (15/9/2026).

Ia menjelaskan, kepesertaan yang dimilikinya merupakan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Saat hendak mendapatkan pelayanan kesehatan, Sumiati mendapat informasi bahwa kartu yang sebelumnya digunakan sudah tidak dapat digunakan seperti sebelumnya.

Namun, petugas BPJS Kesehatan memberikan arahan bahwa Sumiati tetap dapat mengakses pelayanan kesehatan dengan menggunakan kartu tanda penduduk (KTP).

“Tadi dapat arahan dari petugas, kalau berobat menggunakan KTP saja sudah bisa. Jadi kartu BPJS Kesehatan awalnya mau ditarik, tapi cukup disimpan saja,” katanya.

Sumiati pun rela menunggu di pendopo balai desa demi memastikan urusan administrasi kepesertaannya dapat diselesaikan.

Bagi warga seusianya, pelayanan secara langsung seperti BPJS Keliling dinilai membantu, terutama ketika harus mengurus perubahan data yang berkaitan dengan layanan kesehatan.

Layanan Datang ke Desa

Kepala BPJS Kesehatan Trenggalek, Hari Ristiono, mengatakan BPJS Keliling merupakan hasil kolaborasi antara BPJS Kesehatan Kabupaten Trenggalek dengan pemerintah desa setempat.

Layanan tersebut diberikan untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses berbagai kebutuhan administrasi kepesertaan.

Mulai dari pengecekan data, pengaktifan kepesertaan, perubahan tempat berobat, hingga pendaftaran kepesertaan dapat dilakukan melalui layanan tersebut.

“Ini untuk memberikan layanan kepada warga, baik itu cek data, terdeteksi mengaktifkan aktif, pindah tempat berobat, ataupun mau daftar,” beber Hari Ristiono.

Menurutnya, keberadaan BPJS Keliling diharapkan dapat memangkas jarak yang harus ditempuh masyarakat untuk memperoleh layanan BPJS Kesehatan.

Dengan layanan yang datang langsung ke desa, masyarakat tidak perlu selalu datang ke kantor BPJS Kesehatan di wilayah perkotaan.

“Jadi diharapkan dengan adanya BPJS Keliling ini masyarakat itu tidak perlu jauh untuk bisa mendapatkan layanan dari BPJS Kesehatan,” jelasnya.

Kendati demikian, Hari mengakui layanan BPJS Keliling memiliki keterbatasan waktu. Pelayanan hanya berlangsung hingga maksimal pukul 12.00 WIB.

Namun, menurutnya, program tersebut cukup efektif, terutama bagi masyarakat yang masih membutuhkan pelayanan secara manual dan belum terbiasa menggunakan teknologi.

Kelompok lansia menjadi salah satu masyarakat yang dinilai paling merasakan manfaat keberadaan layanan tersebut.

“Cukup terbantu, ya, bagi para lansia. Sangat terbantu,” jelasnya.

Antusiasme Warga Wilayah Jauh

Hari mengatakan antusiasme masyarakat terhadap BPJS Keliling cukup baik.

Terlebih, antusiasme warga dari sejumlah wilayah yang letaknya jauh dari pusat Kabupaten Trenggalek justru sangat tinggi. Ia menyebut Watulimo, Panggul, hingga Munjungan.

Ketiga wilayah tersebut memiliki jarak yang cukup jauh dari pusat kota sehingga kehadiran layanan keliling menjadi kesempatan bagi warga untuk mendapatkan pelayanan lebih dekat.

“Watulimo, Panggul, kemudian Munjungan itu kan jauh sekali. Sehingga ketika kami membuka BPJS Keliling, warga antusias sekali, baik untuk mengecek, untuk perubahan data, ataupun untuk tanya-tanya terkait kesehatan,” akuinya.

Namun, kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri. BPJS Kesehatan tidak dapat setiap minggu mendatangi seluruh wilayah tersebut karena keterbatasan waktu dan jadwal pelayanan.

Untuk Kabupaten Trenggalek, BPJS Keliling dijadwalkan dua kali dalam sepekan apabila tidak ada kendala atau kegiatan lain.

Desa yang menjadi lokasi pelayanan ditentukan berdasarkan kesepakatan dan koordinasi dengan pemerintah desa.

“BPJS Keliling itu untuk di Trenggalek jadwalnya satu minggu dua kali. Kalau tidak ada kendala, dalam artian tidak ada kegiatan, kami satu minggu dua kali,” terangnya.

Hari mengatakan pihaknya meminta sejumlah desa untuk berkoordinasi agar dapat dijadwalkan sebagai lokasi pelayanan.

Selain mendekatkan layanan, BPJS Keliling juga memungkinkan sejumlah perubahan administrasi dilakukan secara langsung.

Hari menjelaskan, masyarakat tidak perlu menunggu berhari-hari untuk perubahan atau perbaikan data kepesertaan.

“Untuk sebenarnya di BPJS Kesehatan itu enggak usah nunggu hari, hanya beberapa menit. Jadi semua perubahan data, perbaikan data itu real time dikerjakan. Langsung selesai saat itu juga,” jelasnya.

Namun, terdapat perbedaan untuk perubahan fasilitas kesehatan. Jika peserta berpindah tempat berobat dari satu puskesmas ke puskesmas lainnya, perubahan tersebut memang sudah tercatat dalam sistem.

“Akan tetapi, perubahan faskes baru efektif mulai tanggal 1 pada bulan berikutnya,” paparnya.

Bukan Sekadar Administrasi

Menurut Hari, keberadaan BPJS Keliling bukan sekadar pelayanan administratif.

Program tersebut juga menjadi sarana bagi BPJS Kesehatan untuk mendengar masukan masyarakat mengenai pelaksanaan program JKN di Kabupaten Trenggalek.

Hari berharap layanan tersebut dapat terus berjalan sehingga masyarakat yang membutuhkan layanan BPJS Kesehatan dapat memperoleh pelayanan lebih dekat.

“Harapan saya BPJS Keliling akan tetap dilaksanakan. Sebagai upaya kami untuk selalu hadir membantu masyarakat Trenggalek yang sedang membutuhkan layanan terkait BPJS Kesehatan,” imbuhnya.

Ia juga berharap masyarakat dapat memberikan saran dan masukan agar pelaksanaan program BPJS Kesehatan di Kabupaten Trenggalek semakin baik.