PERISTIWA

Manfaatkan Air Bendungan Tugu Trenggalek, Sawah 600 Hektar Selamat dari Ancaman Gagal Panen

×

Manfaatkan Air Bendungan Tugu Trenggalek, Sawah 600 Hektar Selamat dari Ancaman Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Ilustrasi
Inti Berita:
• Sekitar 600 hektare lahan padi Musim Tanam (MT) 2 di lima desa Kecamatan Durenan terancam kekeringan pada usia tanam kritis 30–65 hari.
​• Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui Dispertapan berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan BBWS Brantas untuk mengalirkan air dari Bendungan Tugu.
​• Pengahiran dilakukan berkala dengan skema gilir 10 hari dibuka dan 10 hari ditutup dengan debit air mencapai 3 meter kubik per detik.

SUARA TRENGGALEK – Sekitar 600 hektare tanaman padi Musim Tanam (MT) 2 di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, terancam kekeringan.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah melakukan upaya penyelamatan dengan memanfaatkan aliran air dari Bendungan Tugu.

Tanaman padi yang terancam kekeringan tersebar di Desa Durenan, Malasan, Sumbergayam, Pakis, dan Karanganom. Usia tanaman berkisar 30 hingga 65 hari.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi, mengatakan tanaman padi pada usia tersebut membutuhkan ketersediaan air agar dapat terus tumbuh hingga masa panen.

“Jadi, tanaman kita di Desa Durenan yang standing crop-nya usia masih berkisar 30 sampai 65 harian itu terancam kekeringan, termasuk di Desa Malasan, Desa Sumbergayam, Desa Pakis, dan Desa Karanganom,” terang Imam Nurhadi, Senin (7/9/2026).

Untuk menyelamatkan tanaman tersebut, Dispertapan tidak hanya mengandalkan bantuan sumur dan pompa air. Pemerintah juga berupaya membuka aliran air dari Bendungan Tugu.

“Kita berupaya penyelamatan 600 hektare terancam kekurangan air. Musim tanam ini, sehingga jalan satu-satunya itu selain penggunaan bantuan sumur, pompa air, kita berusaha membuka Bendungan Tugu,” jelasnya.

Pembukaan aliran Bendungan Tugu merupakan hasil kesepakatan antara Dinas Pertanian, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, serta pengelola Bendungan Tugu.

Namun, aliran air tidak dibuka secara terus-menerus. Pengaturan dilakukan secara berkala dengan menyesuaikan kebutuhan pengairan persawahan.

“Per 10 hari itu kita buka. Tentu saja aliran melalui utama Ngasinan, ini yang masuk sungai di dekat Sumbergayam. Itu kita lakukan 10 hari,” bebernya.

Dalam sekali pembukaan, debit air dari Bendungan Tugu yang dialirkan mencapai sekitar 3 meter kubik per detik.

“Kita buka 3 meter kubik per detik. Itu nanti 10 hari dibuka, 10 hari ditutup. Insyaallah tiga kali,” imbuhnya.

Hingga saat ini, pembukaan aliran Bendungan Tugu telah dilakukan sebanyak satu kali.

Imam mengatakan aliran tersebut telah mencukupi kebutuhan pengairan untuk tanaman padi yang terancam kekeringan.

“Sudah satu kali dibuka. Alhamdulillah sudah mencukupi untuk luasan tersebut. Sudah tertutup yang Pakis disedot ke arah Desa Pakis,” ujarnya.

Dispertapan Trenggalek berharap pemanfaatan Bendungan Tugu dapat membantu menyelamatkan tanaman padi yang masih dalam masa pertumbuhan.

“Harapannya dengan pembukaan Tugu ini, saya kira pemanfaatannya luar biasa. Standing crop-nya 600 hektare, kita akan panen. Bendungan Tugu dimanfaatkan benar-benar,” ulasnya.

Menurut Imam, pemanfaatan air Bendungan Tugu untuk pertanian juga dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan petani.

“Manfaatnya luar biasa. Kita bisa mengairi pengairan kita dengan biaya yang minim,” bebernya.

Ia menegaskan ketersediaan air menjadi faktor penting bagi tanaman padi MT 2, termasuk pada lahan yang menerapkan program Pertanian Modern – Advanced Agriculture System (PM-AAS).

“Yang dialiri MT 2. Butuh air, PMA-AS butuh air, harus benar-benar tersedia,” tutupnya.