Inti Berita:
• Hasil pemeriksaan BBLKM Surabaya menemukan bakteri Bacillus cereus pada sampel nasi dan E. coli pada semangka dari menu MBG SPPG Tamanan, Trenggalek.
• Sementara itu, hubungan temuan bakteri tersebut dengan keluhan 549 penerima manfaat masih membutuhkan penilaian medis dan pemeriksaan lebih lanjut.
SUARA TRENGGALEK – Hasil pengujian Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya mengungkap adanya kontaminasi bakteri Bacillus cereus pada nasi dan E. coli pada semangka menu Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Tamanan, Trenggalek.
Hasil yang diterima Satgas MBG Trenggalek pada Senin (24/8/2026) ini menjelaskan dugaan penyebab diare pada siswa dan guru, di mana kontaminasi diduga berasal dari ketahanan spora bakteri terhadap pemanasan serta higiene penjamah maupun peralatan masak selama proses pengolahan.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, mengatakan hasil pemeriksaan tersebut diterimanya pada 24 Agustus 2026. Hasil itu tertuang dalam surat pemeriksaan tertanggal 20 Agustus 2026.
“Jadi untuk hasil Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya yang saya terima 24 Agustus 2026 kemarin yang dalam surat tertanggal 20 Agustus 2026,” kata Sunarto, Rabu (26/8/2026).
Sampel makanan yang diperiksa berasal dari menu MBG SPPG Tamanan, meliputi nasi putih, ayam sambal kacang, bayam dan jagung, tahu fantasi, serta semangka.
Dari pemeriksaan tersebut, Sunarto mengatakan ditemukan bakteri Bacillus cereus pada nasi putih.
“Dari yang kami temukan ada permasalahan ada di nasi putihnya, jadi nasi putihnya itu mengandung bacillus cereus,” ujarnya.
Bakteri Ditemukan pada Nasi dan Semangka
Menurut Sunarto, Bacillus cereus merupakan bakteri yang secara alami dapat ditemukan di tanah dan lingkungan. Bakteri tersebut juga dapat berada dalam bentuk spora pada beras.
Spora tersebut dapat bertahan terhadap proses pemanasan tertentu. Karena itu, keberadaan bakteri pada nasi perlu diperhatikan dalam proses pengolahan dan penyajiannya.
“Spora itu ketika membentuk endospora bisa tahan terhadap pemanasan. Jadi meskipun ditanak itu masih ada kemungkinan,” jelasnya.
Ia menambahkan, makanan yang mengandung bakteri tersebut juga perlu segera dikonsumsi setelah proses pemasakan.
“Alternatif yang lain kalau dibiarkan 2 jam endospora itu bisa memberikan gangguan kepada yang menerima, jadi kalau kurang dari 2 jam seharusnya dikonsumsi,” katanya.
Selain Bacillus cereus pada nasi, pemeriksaan laboratorium juga menemukan E. coli pada sampel semangka.
Sunarto mengatakan kontaminasi E. coli dapat terjadi dari berbagai sumber, termasuk penjamah makanan maupun peralatan yang digunakan selama proses pengolahan.
“Kemudian ditemukan lagi dalam buah semangka yang mengandung Escherichia coli (E. coli), hal ini biasanya tertular dari penjamah, atau bahan alat yang digunakan, misalkan air, tangan, bersin, batuk dari penjamah makanan atau bisa jadi pisau yang sebelumnya digunakan memotong bahan lainnya, tanpa dicuci kemudian digunakan memotong semangka,” jelasnya.
Menurut Sunarto, E. coli dapat menyebabkan diare. Temuan tersebut dinilai memiliki kesesuaian dengan keluhan yang dilaporkan sejumlah penerima manfaat MBG.
“Dampak dari bakteri E. coli ini bisa jadi diare dan ini sesuai dengan keluhan dari beberapa murid atau guru yang menerima manfaat MBG,” katanya.
Sunarto mengatakan bahan makanan lain dalam sampel yang diperiksa tidak ditemukan kuman saat masih berada di SPPG.
Namun, ia menjelaskan pemeriksaan terhadap sampel dilakukan setelah adanya keluhan pada hari berikutnya, sehingga bahan makanan tersebut telah berusia sekitar dua hari.
“Sayangnya ini kan jadinya kita ketahui kan besoknya. Jadi komplain itu besoknya sehingga bahan makanan itu sudah 2 hari,” ujarnya.
Ia juga menyebut sebelumnya terdapat sampel dari SDI Luqman Al Hakim berupa sate atau dadu ayam dengan bumbu kacang yang ditemukan mengandung Staphylococcus, tetapi sampel tersebut tidak dapat digunakan sebagai ukuran karena sudah berusia dua hari.
“Ya, terdapat bakteri pada dua menu tersebut, sedangkan pada menu lain didalamnya tidak ditemukan kontaminasi,” ungkapnya.
549 Penerima Manfaat Mengalami Keluhan
Kasus tersebut bermula setelah MBG dari SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah didistribusikan pada Selasa (11/8/2026).
Menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, bayam dan jagung, serta buah semangka.
Sehari kemudian, Rabu (12/8/2026), sejumlah penerima manfaat mulai mengalami gangguan pencernaan.
Berdasarkan pendataan Satgas MBG Trenggalek hingga Kamis (13/8/2026), terdapat 549 orang yang mengalami keluhan dari tiga lokasi penerima MBG.
Rinciannya, 493 orang di SMPN 1 Trenggalek yang terdiri atas 474 siswa dan 19 guru, 30 orang di SDI Luqman Al Hakim yang terdiri atas 20 siswa dan 10 tenaga pendidik, serta 26 penerima manfaat Posyandu Kelurahan Tamanan.
Salah satu siswa SDI Luqman Al Hakim berinisial SA (11) bahkan harus menjalani perawatan di RSUD dr. Soedomo Trenggalek.
SA masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 20.00 WIB dan kemudian masuk ruang Dahlia sekitar pukul 23.00 WIB.
Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Soedomo Trenggalek sebelumnya menyebut SA mengalami diare lebih dari 10 kali dan muntah lebih dari tujuh kali hingga mengalami lemas dan dehidrasi.
SA menjalani perawatan selama tiga hari dan diperbolehkan pulang pada Jumat (14/8/2026) sekitar pukul 10.30 WIB. Pasien kemudian dijadwalkan menjalani kontrol pada Selasa (18/8/2026).
Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, Saeroni, sebelumnya menegaskan penyebab gangguan kesehatan tersebut masih membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kalau masalah keracunan dan sebagainya harus ada pemeriksaan lebih lanjut,” kata Saeroni.
SPPG Tamanan Trenggalek Disuspend
Setelah kejadian tersebut, SPPG Tamanan untuk sementara menghentikan pelayanan MBG sambil menunggu pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Sunarto mengatakan Satgas MBG bersama pihak terkait juga telah mendatangi SPPG Tamanan untuk melakukan pembinaan, termasuk berkaitan dengan standar operasional prosedur (SOP).
“Dengan kejadian seperti itu kemarin sudah kami kunjungi SPPG, sudah kami lakukan pembinaan terkait SOP, untuk melakukan assessment bisa dilakukan saat melaksanakan aktivitas, karena di-suspend SPPG-nya, sehingga kami tidak bisa mengetahui tingkat kepatuhan SOP,” jelas Sunarto.
Menurutnya, pemeriksaan terhadap kepatuhan SOP secara langsung di dapur SPPG perlu dilakukan ketika aktivitas produksi berlangsung.
Namun, karena SPPG telah disuspend, assessment terhadap proses operasional saat kejadian tidak dapat dilakukan.
Sunarto menegaskan, hasil pemeriksaan laboratorium tersebut belum serta-merta menjadi dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh keluhan 549 penerima manfaat disebabkan oleh satu jenis bakteri.
Penentuan hubungan antara temuan laboratorium dan kondisi masing-masing penerima manfaat tetap membutuhkan penilaian medis serta pemeriksaan terkait.
Dengan ditemukannya Bacillus cereus pada nasi dan E. coli pada semangka, hasil laboratorium tersebut menjadi bagian dari evaluasi pelaksanaan MBG di SPPG Tamanan, termasuk berkaitan dengan proses pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan.











