BISNIS

Tak Ada Usaha Skala Besar, UMKM Trenggalek Jadi Tulang Punggung Utama Tenaga Kerja

×

Tak Ada Usaha Skala Besar, UMKM Trenggalek Jadi Tulang Punggung Utama Tenaga Kerja

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Kepala Komindag Trenggalek bersama Komisi II DPRD saat melakukan pengecekan UMKM di Pasar Pon.
Inti Berita:
• UMKM disebut menjadi sektor utama penyerap tenaga kerja di Trenggalek, dengan kontribusi hampir atau lebih dari 97 persen.
• Dinas Komindag Trenggalek mencatat sekitar 27.000 UMKM ber-NIB per Mei, sementara data lebih lengkap masih menunggu rilis hasil Sensus Ekonomi.

SUARA TRENGGALEKUsaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Trenggalek.

Kontribusinya disebut mencapai lebih dari 97 persen dari total tenaga kerja yang bekerja di berbagai sektor usaha.

Kepala Dinas Komindag Trenggalek, Saniran, mengatakan kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan standar nasional, di mana UMKM secara kumulatif menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.

“Iya, secara rata-rata nasional. Jadi kumulatif nasional itu dari berbagai kabupaten, maka kontribusi UMKM terhadap tenaga kerja itu sekitar 97 persen dari total tenaga kerja yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan, baik UMKM,” ujar Saniran.

Menurutnya, kondisi di Trenggalek juga hampir sama dengan rata-rata nasional. Bahkan, kontribusi UMKM terhadap penyerapan tenaga kerja di daerah tersebut disebut hampir di atas 97 persen.

“Trenggalek sendiri hampir mendekati juga. Iya, rata-rata seperti itu karena apalagi di Trenggalek,” katanya.

Saniran menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi struktur usaha di Trenggalek yang mayoritas masih berada pada skala UMKM.

“Bisnis yang besar yang kecil jadi UMKM. UMKM itu kan usaha mikro, kecil, menengah. Jadi di Trenggalek ini yang besar enggak ada. Jadi standarnya masih di menengah,” jelasnya.

Ia menyebut hampir seluruh tenaga kerja di Trenggalek bekerja pada sektor UMKM.

“Hampir semua Trenggalek kerja di Trenggalek, bahkan hampir di atas 97 persen itu adalah tenaga kerja yang dikerjakan, dipekerjakan oleh UMKM,” ujarnya.

27 Ribu UMKM Ber-NIB

Terkait jumlah UMKM yang tercatat secara administrasi, Saniran mengatakan pihaknya memiliki data UMKM dari berbagai sektor.

Namun, pendataan tersebut masih menitikberatkan pada pelaku usaha yang telah memiliki legalitas berupa Nomor Induk Berusaha (NIB).

“Data kita banyak, tapi kita masih memperhatikan yang sudah punya legalitas. Yang punya legalitas itu ditandai dengan NIB,” katanya.

Berdasarkan data per Mei, terdapat sekitar 27.000 UMKM yang telah memiliki NIB.
“Data per bulan Mei itu sekitar 27.000 UMKM yang ber-NIB,” jelas Saniran.

Ia menambahkan, pihaknya masih menunggu rilis hasil Sensus Ekonomi untuk mendapatkan data yang lebih lengkap.

“Yang ber-NIB nanti ini nunggu rilis Sensus Ekonomi ini nanti ya,” ujarnya.

UMKM di Trenggalek tersebar di berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, industri rumah tangga hingga makanan.

Dari berbagai sektor tersebut, perdagangan disebut menjadi salah satu sektor dengan jumlah pelaku UMKM yang paling banyak.

“Dari berbagai sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri, rumah tangga, makanan, dan sebagainya. Yang paling banyak di sektor perdagangan dan lain-lain,” kata Saniran.