Inti Berita:
• Satgas MBG Trenggalek mencatat sementara 549 penerima manfaat diduga terdampak gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG dari SPPG Tamanan.
• Keluhan ditemukan di sejumlah posyandu dan sekolah, termasuk SMPN 1 Trenggalek serta SD Integral Luqman Hakim.
• Satgas kini melakukan pendataan dan investigasi, termasuk mengecek kembali sekolah penerima MBG serta melakukan kunjungan ke SPPG Tamanan bersama sejumlah OPD dan BGN.
SUARA TRENGGALEK – Sebanyak 549 penerima manfaat diduga terdampak gangguan kesehatan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamanan di bawah naungan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah, Kabupaten Trenggalek.
Data tersebut merupakan hasil pendataan sementara dalam rapat koordinasi bersama Satgas MBG Trenggalek serta pihak SPPG serta Koordinator Wilayah SPPG setelah muncul keluhan berupa mual, muntah hingga diare pada penerima manfaat.
Saat di temui awak media usai pelaksanaan rakor, Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto mengatakan kejadian tersebut saat ini dikategorikan sebagai peningkatan kasus gangguan kesehatan.
“Jadi mungkin perlu kita sampaikan ya. Jadi kasus ini adalah istilahnya adalah peningkatan kasus. Peningkatan kasus pada anak-anak,” kata Sunarto, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, penerima manfaat mengonsumsi MBG pada Selasa, kemudian mulai muncul sejumlah keluhan pada Rabu.
“Jadi pada hari Selasa kemarin itu memang memakan makanan MBG ya. Kemudian dari Rabunya yang mulai ada keluhan seperti itu,” ujarnya.
Keluhan Ditemukan di Posyandu dan Sekolah
Berdasarkan pembaruan data Satgas, sebanyak 26 penerima manfaat di Posyandu Tamanan, Kelurahan Tamanan, mengalami keluhan.
Ke-26 penerima manfaat tersebut terdiri dari balita, ibu menyusui, ibu hamil, kader, dan anggota lainnya.
Sunarto merinci, terdapat sembilan balita, tiga ibu hamil, empat ibu menyusui, dua kader, serta delapan anggota lainnya.
Keluhan tersebut ditemukan di lima dari sekitar 10 posyandu yang menerima MBG dari SPPG yang sama.
“Dari SPPG Tamanan yang sama. Jadi dari sekitar 10 posyandu itu yang ada keluhan pada 5 posyandu,” jelasnya.
Sementara di SMPN 1 Trenggalek, terdapat 493 penerima manfaat yang tercatat mengalami keluhan.
“Untuk di SMP 1 saat ini ada update terakhir adalah 493 anak. Di mana yang masih dalam kondisi sakit ada keluhan masih sampai hari ini ada 78,” ujarnya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 41 orang tidak masuk sekolah pada Kamis. Data 493 tersebut terdiri dari 474 siswa dan 19 guru atau tenaga pendidik yang sebelumnya mengalami keluhan.
Selain itu, terdapat 30 penerima manfaat di SD Integral Luqman Hakim yang mengalami kejadian serupa. Jumlah tersebut terdiri dari 20 siswa dan 10 guru atau tenaga pendidik.
“Terus kemudian untuk ada lagi kasus, maksud saya ada kejadian yaitu yang ada di SD Integral Lukman Hakim yaitu ada 30 kejadian, ada siswanya 20, kemudian gurunya atau tenaga pendidiknya ya 10,” kata Sunarto.
Satgas Investigasi Proses Pengolahan Makanan
Psaca insiden tersebut Satgas MBG Trenggalek kemudian melakukan evaluasi terhadap proses pengolahan makanan untuk mengetahui tahapan yang berpotensi menimbulkan keluhan.
“Hasil pertemuan hari ini yang perlu disampaikan, kita sudah mengupas ada proses mana yang dari proses pengolahan makanan itu yang berisiko, berisiko menimbulkan keluhan,” ujarnya.
Hasil analisis tersebut juga telah disampaikan Sunarto kepada pihak SPPG maupun perwakilan Koordinator Wilayah MBG di Kabupaten Trenggalek.
“Sudah kita analisis, sudah kita berikan masukan dan lain sebagainya kepada SPPG maupun kepada perwakilan Korwil MBG yang ada di Kabupaten Trenggalek,” kata Sunarto.
Satgas juga melakukan pengecekan ulang ke seluruh sekolah yang menerima MBG dari SPPG Tamanan. Pengecekan tersebut mencakup tiga TK, enam SD, dan satu SMP.
“Hari ini akan dikunjungi untuk melihat kembali apakah memang di lokasi-lokasi tersebut ada yang ada keluhan apa tidak. Supaya nanti tidak ada yang kelewatan seperti itu. Oleh karena itu hari ini tim terjun ke sana,” jelasnya.
SPPG Tamanan Disuspend Sementara
Investigasi akan dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke SPPG Tamanan pada hari berikutnya.
“Besok kita akan melaksanakan kunjungan ke SPPG secara tim lengkap melibatkan banyak OPD termasuk dari tim BGN,” kata Sunarto.
Menurutnya, kejadian tersebut telah dilaporkan kepada pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dalam waktu kurang dari 24 jam.
“Sudah juga diinformasikan dari perwakilan BGN bahwa hasil kemarin dalam kurang dari 24 jam sudah dilaporkan ke pusat sehingga mendapatkan atensi dari pusat untuk kasus kejadian seperti ini,” ujarnya.
Berikut adalah ringkasan khusus data korban terdampak dugaan keracunan MBG di Trenggalek:
Total Korban Terdampak: 549 Orang
- Berdasarkan Jenis Penerima Manfaat
- Siswa: 494 orang (474 SMP + 20 SD)
- Guru / Tenaga Pendidik: 29 orang (19 SMP + 10 SD)
- Balita: 9 orang
- Ibu Menyusui: 4 orang
- Ibu Hamil: 3 orang
- Kader Posyandu: 2 orang
- Anggota: 8 orang
- Berdasarkan Lokasi kejadian
- SMPN 1 Trenggalek (493 orang):
Siswa: 474 orang
Guru: 19 orang
(Catatan: 78 orang masih dalam kondisi sakit/berkeluhan, 41 orang tidak masuk sekolah) - SD Integral Luqman Hakim (30 orang):
Siswa: 20 orang
Guru: 10 orang
- Posyandu Tamanan (26 orang dari 5 Posyandu):
- Balita: 9 orang
- Anggota lain: 8 orang
- Ibu Menyusui: 4 orang
- Ibu Hamil: 3 orang
- Kader Posyandu: 2 orang











