PERISTIWA

Jelang Kemarau, BPBD dan Perhutani Trenggalek Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan

×

Jelang Kemarau, BPBD dan Perhutani Trenggalek Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Petugas saat memadamkan api di hutan, dok. BPBD Trenggalek.
Inti Berita:
• Trenggalek mulai siaga hadapi kemarau dan karhutla 2026
• Tahun 2024, kekeringan sempat melanda 72 desa
• Titik rawan karhutla: Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, dan sekitar Gembleb
• Penyebab utama: pembakaran lahan dan kondisi kering
• BPBD dan Perhutani gencarkan edukasi dan penanaman pohon

SUARA TRENGGALEK – Ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai diantisipasi menjelang musim kemarau 2026 di Kabupaten Trenggalek.

Kesiapsiagaan dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Perhutani melalui berbagai langkah pencegahan.

Kepala Pelaksana BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, mengatakan hingga saat ini belum ada laporan dampak kekeringan. Namun, pengalaman sebelumnya menjadi perhatian serius.

“Hingga hari ini di Trenggalek belum ada laporan terkait kekeringan. Tapi pada 2024 lalu, ada 72 desa di 14 kecamatan yang terdampak,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).

Sebagai langkah antisipasi, BPBD bersama lintas sektor menggalakkan program lingkungan, salah satunya penanaman pohon melalui gerakan net zero karbon di berbagai tingkatan, mulai dari organisasi perangkat daerah hingga desa.

Selain itu, sejumlah inovasi juga mulai diterapkan di wilayah rawan, seperti program sawah hemat air di Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari.

Triadi juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan yang berpotensi memicu kebakaran.

Di sisi lain, Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengungkapkan sejumlah titik rawan kebakaran hutan di Trenggalek, di antaranya kawasan perbukitan Desa Gembleb, Gunung Orak-Arik, dan Gunung Jaas.

Menurutnya, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, sehingga kesiapsiagaan perlu ditingkatkan sebagai respons terhadap perubahan iklim.

“Beberapa titik rawan seperti Gunung Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Jika pembakaran lahan tidak diawasi, api bisa merambat ke hutan,” jelasnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga dinilai rawan karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar, terutama saat angin kencang.

Perhutani bersama BPBD dan instansi terkait terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

Sosialisasi dilakukan melalui pemasangan banner, flyer, hingga kampanye digital.

“Kami terus mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar,” tegas Hermawan.