BUDAYA

Tradisi Kupatan di Trenggalek Sarat Makna, Jadi Agenda Wisata Budaya

×

Tradisi Kupatan di Trenggalek Sarat Makna, Jadi Agenda Wisata Budaya

Sebarkan artikel ini
Hari Raya Ketupat Trenggalek
Pedagang bahan ketupat dari janur saat melayani pembeli.

SUARA TRENGGALEK – Tradisi Kupatan atau Lebaran Ketupat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terus lestari sebagai warisan budaya religius yang sarat makna, khususnya di Kecamatan Durenan.

Tradisi ini digelar sekitar 6-8 hari setelah Idul Fitri atau bertepatan dengan 8 Syawal. Berbeda dengan daerah lain, masyarakat Durenan justru menjadikan Kupatan sebagai momen utama silaturahmi, bahkan lebih meriah dibandingkan Idul Fitri.

Berdasarkan data dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Trenggalek, tradisi Kupatan pertama kali dikenalkan oleh Kyai Abdul Masir atau Mbah Mesir, pendiri Pondok Pesantren Babul Ulum di Durenan.

Awalnya, tradisi ini hanya dilakukan di lingkungan pesantren sebagai penanda selesainya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.

Seiring waktu, Kupatan berkembang menjadi tradisi masyarakat luas dan telah berlangsung selama lebih dari dua abad. Hingga kini, keturunan Mbah Mesir masih menjaga tradisi tersebut, salah satunya melalui pengasuh pondok pesantren setempat.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek juga memberikan dukungan terhadap pelestarian tradisi ini.

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bahkan berencana memasukkan Kupatan sebagai agenda kalender wisata daerah, sekaligus mendorong pengembangan wisata religi dan kuliner.

Secara filosofis, Kupatan memiliki makna mendalam. Istilah “Kupatan” berasal dari bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi ini menjadi simbol saling memaafkan dan kembali ke kesucian setelah menjalankan ibadah Ramadan.

Selain itu, ketupat juga mengandung makna “laku papat”, yakni empat tindakan pasca puasa, meliputi lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Isi ketupat berupa beras putih melambangkan kesucian hati, sementara anyaman janur menggambarkan cahaya nurani.

Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ini antara lain mempererat silaturahmi, gotong royong, pendidikan agama, serta solidaritas sosial. Masyarakat biasanya saling berbagi makanan dan berkumpul bersama keluarga maupun tokoh agama.

Pelaksanaan Kupatan diawali dengan ziarah makam leluhur pada malam hari. Puncak acara ditandai dengan arak-arakan tumpeng ketupat, makan bersama, serta open house di rumah warga dan pesantren.

Tradisi ini juga berdampak pada meningkatnya mobilitas masyarakat. Ribuan warga dari luar daerah datang ke Trenggalek untuk bersilaturahmi, sehingga arus lalu lintas kerap lebih padat dibandingkan saat Idul Fitri.

Melalui pelestarian tradisi Kupatan, masyarakat tidak hanya menjaga budaya lokal, tetapi juga merawat nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun.