PERISTIWA

Warga Trenggalek Harus Tau, Makanan Siap Saji Sebaiknya Dikonsumsi Maksimal 4 Jam Setelah Dimasak

×

Warga Trenggalek Harus Tau, Makanan Siap Saji Sebaiknya Dikonsumsi Maksimal 4 Jam Setelah Dimasak

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Petugas BPOM Kediri saat melakukan sidak takjil di Trenggalek.

SUARA TRENGGALEK – Masyarakat Trenggalek diimbau lebih memperhatikan keamanan makanan siap saji, khususnya makanan basah yang banyak dijumpai di warung atau saat acara tertentu.

Makanan jenis ini disarankan dikonsumsi tidak lebih dari empat jam setelah dimasak untuk menghindari risiko kontaminasi bakteri.

Pengawas Farmasi dan Makanan (PFM) Ahli Muda, Sirojjudin Latif menjelaskan bahwa makanan siap saji memiliki batas waktu konsumsi yang relatif singkat apabila dibiarkan pada suhu ruang.

“Kalau pangan siap saji itu standarnya maksimal empat jam sudah harus dikonsumsi setelah dimasak,” ujar Latif.

Ia menambahkan, makanan yang dibiarkan terlalu lama tanpa penutup berpotensi terkontaminasi mikroorganisme maupun serangga seperti lalat yang dapat membawa bakteri.

“Kalau makanan tidak ditutup ada potensi cemaran mikrobiologi atau dari binatang seperti lalat yang hinggap. Itu bisa menyebabkan kontaminasi pada makanan,” jelasnya.

Menurutnya, makanan berkuah seperti soto, bakso, dan jenis makanan basah lainnya sebaiknya dikonsumsi dalam kondisi hangat atau panas. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko berkembangnya bakteri berbahaya.

“Kalau misalnya makanan seperti soto dan sejenisnya, sebaiknya dikonsumsi hangat atau panas untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Latif menjelaskan, jika makanan dibiarkan lebih dari empat jam, terdapat kemungkinan pertumbuhan bakteri yang dapat memicu gangguan kesehatan.

“Bakteri yang berkembang bisa menyebabkan diare, sakit perut, dan gangguan pencernaan lainnya,” ujarnya.

Meski demikian, makanan yang sudah dingin dan dibiarkan lebih dari empat jam masih bisa dikonsumsi kembali dengan syarat dipanaskan terlebih dahulu hingga benar-benar panas.

“Kalau sudah dingin lebih dari empat jam dan ingin dikonsumsi lagi, sebaiknya dipanaskan kembali terlebih dahulu,” pungkasnya.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.