PERISTIWA

Kasus PMK Mulai Merebak di Trenggalek, Puluhan Sapi Terpapar Sejak Akhir 2025

×

Kasus PMK Mulai Merebak di Trenggalek, Puluhan Sapi Terpapar Sejak Akhir 2025

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Petugas saat melakukan pemeriksaan penyakit mulut dan kuku terhadap hewan ternak.

SUARA TRENGGALEKPenyakit Mulut dan Kuku (PMK) kembali merebak di Kabupaten Trenggalek. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Trenggalek mencatat, penyakit menular tersebut telah menyerang puluhan sapi milik peternak di sejumlah kecamatan sejak akhir tahun 2025.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Trenggalek, drh. Ririn Hari Setiani, mengatakan kasus PMK pertama kali terdeteksi pada Desember 2025 di Desa Siki, Kecamatan Dongko.

“Pada Desember mulai muncul beberapa kasus. Di Desa Siki tercatat ada tujuh ekor sapi milik lima peternak yang terserang PMK,” ujar Ririn, Rabu (21/1/2026).

Dari tujuh ekor sapi tersebut, satu ekor di antaranya merupakan pedhet yang akhirnya mati akibat terpapar PMK.

Memasuki Januari 2026, penyebaran PMK kembali meluas. Disnakkan Trenggalek mencatat terdapat 22 kasus baru yang seluruhnya menyerang sapi potong di sejumlah wilayah.

“Pada Januari, satu kasus kembali muncul di Desa Siki dan saat ini sudah sembuh. Kemudian di Desa Sumurup, Kecamatan Bendungan, terdapat 11 ekor sapi yang masih dalam proses penyembuhan. Sementara di Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek, ada 10 ekor sapi yang juga masih dalam tahap pemulihan,” jelasnya.

Ririn menyebut, penularan PMK diduga kuat berasal dari lalu lintas dan aktivitas jual beli ternak, terutama kambing. Pasalnya, gejala PMK pada kambing cenderung lebih ringan dibandingkan sapi sehingga kerap tidak terdeteksi.

“Setelah ternak dibeli, biasanya ditempatkan dalam satu kandang atau berdekatan dengan ternak lain termasuk sapi, sehingga penularan terjadi,” ungkapnya.

Untuk menekan penyebaran PMK, Disnakkan Trenggalek kembali menggencarkan vaksinasi. Saat ini, dinas masih memiliki sisa stok vaksin PMK dari tahun anggaran 2025 yang diperuntukkan bagi sekitar 600 ekor sapi.

“Vaksinasi sebelumnya sebenarnya sudah cukup merata. Namun karena aktivitas jual beli ternak antar daerah terus berlangsung, vaksinasi ulang memang sudah waktunya dilakukan. Terakhir vaksinasi di Trenggalek dilaksanakan pada Juli 2025,” tegas Ririn.

Ia menambahkan, ketersediaan vaksin PMK dinilai cukup aman karena pemerintah pusat akan menyalurkan vaksin PMK ke Jawa Timur sebanyak 1 juta 510 ribu dosis.

Meski demikian, Ririn mengimbau para pedagang dan peternak agar lebih waspada dalam melakukan transaksi jual beli ternak.

Ia mengakui, meskipun pedagang telah berupaya memilih ternak yang tampak sehat, gejala PMK terkadang baru muncul beberapa hari setelah transaksi dilakukan.

“Kami sarankan ternak yang baru dibeli dikarantina terlebih dahulu selama dua minggu. Jika tidak muncul gejala, baru boleh dicampur dengan ternak lain. Namun jika ada gejala, segera laporkan ke petugas,” imbaunya.

Untuk ternak yang masih menunjukkan gejala PMK, petugas juga melakukan penanganan berupa penyemprotan disinfektan serta pemberian vitamin oral guna mempercepat proses penyembuhan.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.