SUARA TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dikenal sebagai “Bumi Menak Sopal” yang memiliki kekayaan budaya khas dengan nuansa agraris dan maritim.
Beragam tradisi yang berkembang di daerah ini mencerminkan kehidupan masyarakat petani dan nelayan yang diwariskan secara turun-temurun.
Kekayaan budaya tersebut terus dilestarikan melalui berbagai kesenian tradisional, upacara adat, serta tradisi lokal yang hingga kini masih dijalankan oleh masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga aktif mempromosikan sekaligus melindungi warisan budaya tersebut, bahkan beberapa di antaranya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Kesenian Tradisional Khas Trenggalek
Trenggalek memiliki sejumlah kesenian tradisional yang kerap ditampilkan dalam berbagai acara budaya, karnaval, maupun ritual desa.
Salah satu kesenian paling ikonik adalah Tari Turonggo Yakso atau jaranan Turonggo Yakso yang berasal dari Kecamatan Dongko.
Berbeda dengan jaranan pada umumnya, tarian ini menggunakan kuda kepang berwujud yaksa atau raksasa yang melambangkan perjuangan ksatria dalam mengusir kejahatan.
Awalnya kesenian ini merupakan bagian dari ritual Baritan atau bersih desa, namun kini juga menjadi media hiburan dan edukasi budaya.
Selain itu, terdapat pula Reog Kendang, yakni variasi reog dengan iringan kendang khas yang sering tampil dalam berbagai pertunjukan seni. Ada juga Wayang Beber, seni pertunjukan wayang gulung yang masih dilestarikan hingga kini.
Kesenian lainnya yang masih berkembang di masyarakat antara lain Tayub, jaranan variasi seperti pegon dan brung, barongan, serta berbagai tari tradisional lokal.
Upacara Adat dan Tradisi Lokal
Selain kesenian, Trenggalek juga dikenal memiliki banyak upacara adat yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan.
Salah satu tradisi yang cukup terkenal adalah Nyadran Dam Bagong atau bersih Dam Bagong yang digelar setiap tahun di Desa Ngantru, Kecamatan Trenggalek.
Tradisi ini ditandai dengan penyembelihan kerbau dan pelemparan kepala kerbau ke dam sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Di Kecamatan Dongko juga terdapat Upacara Adat Baritan, yaitu ritual bersih desa yang menjadi asal-usul lahirnya Tari Turonggo Yakso. Tradisi ini juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Sementara itu, masyarakat pesisir di Kecamatan Watulimo memiliki tradisi Larung Sembonyo atau sedekah laut di Pantai Prigi.
Dalam ritual tersebut, warga melarung sesaji ke laut sebagai bentuk doa untuk keselamatan serta harapan hasil tangkapan yang melimpah.
Tradisi lain yang masih dilestarikan antara lain Ngitung Batih di Kecamatan Dongko yang digelar setiap Tahun Baru Islam, Bersih Belik Sumbergedong, Upacara Longkangan di Teluk Sumbreng, ritual Tiban, hingga Kirab Pusaka.
Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Pada 2024, sejumlah tradisi dari Trenggalek resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Beberapa di antaranya adalah Upacara Adat Baritan dan Nyadran Dam Bagong yang dinilai memiliki nilai historis serta kearifan lokal yang kuat.
Upaya Pelestarian Budaya
Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus melakukan berbagai upaya untuk menjaga kelestarian budaya daerah.
Upaya tersebut antara lain melalui pembinaan pelaku seni, penyelenggaraan karnaval budaya, serta promosi wisata budaya.
Selain tradisi dan kesenian, Trenggalek juga memiliki sejumlah situs cagar budaya seperti Makam Ki Ageng Menak Sopal, tokoh penyebar agama yang menjadi cikal bakal sejarah Trenggalek, serta Prasasti Kampak yang merupakan peninggalan masa Hindu-Buddha.
Keberagaman budaya ini tidak hanya menjadi identitas masyarakat Trenggalek, tetapi juga berpotensi besar sebagai daya tarik wisata daerah.
Tradisi budaya tersebut juga mendukung berkembangnya ekonomi kreatif masyarakat, termasuk kuliner khas seperti nasi gegog dan alen-alen.
Dengan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, budaya Trenggalek diharapkan tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.











