SUARA TRENGGALEK – Data mengejutkan terjadi pada pemeriksaan kesehatan nasional terbaru, di mana terungkap temuan tentang kondisi kesehatan anak-anak di Indonesia.
Masalah gigi tercatat sebagai gangguan kesehatan paling banyak ditemukan pada pasien anak, disusul penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Temuan tersebut disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam acara Universal Health Coverage (UHC) Awards yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, Selasa (27/1/2026).
“Kalau untuk anak-anak paling banyak masalahnya gigi. Nomor dua (anak-anak) saya agak kaget, hipertensi, tekanan darah tinggi. Kalau orang dewasa itu yang tinggi hipertensi, nomor dua obesitas. Kalau lansia seperti kami, itu paling tinggi gigi dan hipertensi,” ujar Budi.
Budi menegaskan, pemerintah kini lebih menekankan pendekatan pencegahan dibandingkan pengobatan. Menurutnya, deteksi dini kondisi kesehatan masyarakat jauh lebih efektif dan ekonomis dalam meningkatkan kualitas hidup warga.
“Health itu sehat, bukan pengobatan yang sakit. Jadi Pak Presiden juga bilang lebih baik kalau semua rakyat Indonesia itu sehat, jangan sampai sakit. Kalau perlu enggak usah masuk rumah sakit karena itu lebih murah dan kualitas hidupnya juga lebih baik. Itu sebabnya Pak Presiden meluncurkan Cek Kesehatan Gratis,” jelasnya.
Selain pencegahan, pemerintah juga menyiapkan langkah penguatan layanan kesehatan melalui pembangunan fasilitas medis baru.
Budi menyebut, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pembangunan 66 rumah sakit di daerah kabupaten dan kota terpencil serta tertinggal.
“Pak Presiden Prabowo sudah menyuruh saya, yang pertama untuk membangun 66 rumah sakit di kabupaten/kota terpencil dan tertinggal untuk memastikan akses kesehatan terjangkau. Sekarang sudah siap jadi 14 rumah sakit, mudah-mudahan beliau bisa segera meresmikan,” katanya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan capaian cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC) yang telah diraih Indonesia. Bahkan, keberhasilan Indonesia dalam memperluas akses layanan kesehatan disebut menjadi perhatian negara lain.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, mengatakan Indonesia kini menjadi rujukan internasional terkait strategi percepatan jaminan kesehatan nasional.
“Indonesia sekarang menjadi rujukan banyak negara. Kemarin kami di Bangkok itu dibicarakan terus bagaimana strategi Indonesia. Tidak banyak negara yang skemanya satu dan bisa cepat, dalam 10 tahun semua sudah menjadi peserta akses,” ungkap Ghufron.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk mengingatkan seluruh pemerintah daerah agar tidak mengabaikan urusan kesehatan. Ia menegaskan pelayanan kesehatan merupakan pelayanan dasar yang bersifat wajib.
“Menteri Dalam Negeri sudah mengimbau semuanya, masalah kesehatan adalah pelayanan dasar, urusan absolut. Itu wajib, enggak ditawar-tawar,” tegas Ribka.
Ia menambahkan, pemberian penghargaan kepada sejumlah daerah bukan semata-mata prestasi, melainkan pengingat bahwa pemenuhan layanan kesehatan adalah kewajiban negara kepada rakyat.
“Ini sebenarnya kewajiban terhadap rakyat, harus dicover,” pungkasnya.











