PERISTIWA

Masalah Kesehatan Mental Anak Meningkat, Orang Tua Diminta Ciptakan Ruang Emosional Aman

×

Masalah Kesehatan Mental Anak Meningkat, Orang Tua Diminta Ciptakan Ruang Emosional Aman

Sebarkan artikel ini
Gangguan Mental anak gedget
Istimewa

SUARA TRENGGALEK – Orang tua diminta untuk menciptakan ruang yang aman secara emosional bagi anak guna menekan meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental di Indonesia.

Founder Mindset Perempuan Indonesia (MPI), Mella Noviani, menekankan pentingnya perubahan pola asuh agar anak merasa nyaman dan didengar di tengah krisis kesehatan mental yang meluas.

“Sering kali kita fokus pada prestasi anak, tetapi lupa bahwa kebutuhan emosional mereka sama pentingnya. Anak yang tidak didengar, tidak dipahami, atau tumbuh dalam konflik keluarga yang terus-menerus berpotensi mengalami tekanan psikologis sejak dini,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Menurutnya, komunikasi terbuka dalam keluarga menjadi kunci penting agar anak dapat menyampaikan ketakutan tanpa rasa takut dihakimi. Selain itu, peran sekolah dan masyarakat juga dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang suportif.

Mella menilai tekanan akademik yang tinggi dari orang tua dapat memicu kecemasan pada anak. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami kondisi emosional anak serta mengelola konflik keluarga secara sehat.

“Keluarga yang sehat bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga tentang menciptakan hubungan yang aman secara emosional. Anak perlu merasa didengar, dihargai, dan diterima apa adanya,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pemerintah telah menyediakan layanan konseling melalui hotline Sejiwa 119 yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Perubahan besar dalam masyarakat selalu dimulai dari keluarga. Ketika orang tua memiliki kesadaran emosional yang sehat, anak akan tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki ketahanan mental yang lebih kuat,” katanya.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hasil skrining terhadap sekitar tujuh juta anak menunjukkan hampir 10 persen mengalami masalah kesehatan mental.

“Jadi kita screening tahun pertama kan sekitar tujuh jutaan. Angkanya hampir 10 persen,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Ia merinci, sebanyak 4,4 persen anak mengalami gangguan kecemasan dan 4,8 persen lainnya menunjukkan gejala depresi.

“338 ribu itu ada gejala cemas atau anxiety disorder. Nah, 363 ribu atau sekitar 4,8 persen itu lebih parah lagi, punya gejala depresi atau depression disorder,” jelasnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental pada anak masih cukup tinggi dan membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak, terutama keluarga sebagai lingkungan utama pembentukan karakter.