PERISTIWA

Kisah Sopir dan Pramugari Bus di Trenggalek, Lewati Momen Lebaran Tak Kumpul Keluarga

×

Kisah Sopir dan Pramugari Bus di Trenggalek, Lewati Momen Lebaran Tak Kumpul Keluarga

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Nabila, pramugari bus Rosalia Indah jurusan Trenggalek-Merak.

SUARA TRENGGALEK – Di balik ramainya arus mudik Lebaran 2026, ada kisah para awak bus yang tetap bertugas melayani penumpang.

Para kru bus tersebut tetap bertugas meski harus menahan rindu untuk berkumpul bersama keluarga saat hari raya.

Salah satunya disampaikan Rahmat Muttaqin (52), sopir bus Rosalia Indah jurusan Trenggalek-Merak.

Ia mengungkapkan, terjadi peningkatan penumpang sejak sepekan terakhir menjelang Lebaran.

“Kalau dari timur penuh. Dari barat juga masih penuh. Peningkatan sudah terasa sejak seminggu lalu, sebelumnya masih sepi,” ujarnya.

Rahmat yang telah menjadi sopir bus sejak 2004 mengaku sudah terbiasa tidak merayakan Lebaran bersama keluarga di hari H.

Sopir bus yang sudah 22 tahun tidak mudik itu, biasanya baru pulang kampung setelah arus mudik dan balik selesai.

“Kalau Lebaran kadang tidak bisa pulang. Biasanya setelah Lebaran baru pulang ke keluarga,” katanya.

Meski sudah menjadi bagian dari pekerjaan, ia tak menampik rasa rindu kepada keluarga tetap ada.

“Namanya manusia, pasti ada rasa kangen. Tapi ini sudah tugas,” tambahnya.

Hal serupa juga dirasakan Nabila (23), pramugari bus yang baru satu tahun bekerja.

Perempuan asal Yogyakarta ini mengaku harus rela melewatkan momen Lebaran demi melayani penumpang.

“Tahun ini tidak mudik. Kami justru jadi ‘panitia mudik’ karena harus melayani penumpang,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar dalam pekerjaannya adalah harus jauh dari keluarga serta waktu istirahat yang terbatas.

Namun di sisi lain, ia juga mendapatkan pengalaman berharga dari interaksi dengan banyak orang.

“Capek pasti ada, apalagi jauh dari keluarga. Tapi senangnya bisa ketemu banyak orang, itu jadi energi sendiri,” katanya.

Nabila menambahkan, dirinya baru bisa pulang ke kampung halaman setelah arus mudik dan arus balik selesai, sekitar pertengahan April.

Dalam operasionalnya, satu bus hanya diisi oleh satu pramugari dan seorang sopir, dengan kapasitas sekitar 30 penumpang untuk armada yang ia layani.

Kisah para awak bus ini menjadi gambaran bahwa kelancaran arus mudik tidak lepas dari pengorbanan mereka yang tetap bekerja saat masyarakat lain merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga.