KESEHATAN

Keluarga Jadi Pemegang Kunci Cegah Bullying dan Gangguan Kesehatan Mental Anak

×

Keluarga Jadi Pemegang Kunci Cegah Bullying dan Gangguan Kesehatan Mental Anak

Sebarkan artikel ini
Bullying
Ilustrasi

SUARA TRENGGALEK – Dokter spesialis jiwa RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Yekti Nurhaeni menegaskan bahwa keluarga memegang peran kunci dalam mencegah bullying dan gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja.

Menurutnya, keluarga seharusnya menjadi ruang paling aman sekaligus tempat utama anak menemukan teladan hidup.

dr. Yekti menjelaskan, masa remaja merupakan fase pencarian jati diri. Pada tahap ini, anak membutuhkan figur panutan yang kuat agar tidak salah arah dalam membentuk identitasnya.

“Kalau di keluarga tidak ada role model yang jelas, anak bisa bingung menentukan identitas dirinya. Akhirnya mereka mencari di luar, dan itu berisiko jika lingkungan pergaulannya tidak sehat,” ujarnya.

Ia menyebutkan, remaja cenderung lebih mengutamakan teman sebaya (peer group) dibanding orang tua. Jika keluarga sudah memberikan fondasi yang baik, anak akan lebih kokoh secara mental dan tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif.

“Kalau keluarganya kuat dan menjadi model yang baik, anak itu sudah punya pegangan. Tapi kalau sejak awal tidak ada teladan, dia bisa ikut arus pergaulan yang salah,” jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Yekti mengingatkan agar orang tua tidak bersikap menekan anak dengan tuntutan berlebihan terkait masa depan. Menurutnya, orang tua wajib memberikan kasih sayang dan bimbingan, namun keputusan hidup anak tetap harus dihargai.

“Orang tua harus belajar soal kesehatan mental. Memberi arah itu penting, tapi hidup anak itu milik anak sendiri. Biarkan anak menentukan pilihannya,” tegasnya.

Terkait fenomena remaja yang memilih nongkrong di depan minimarket atau mengekspresikan kecemasan di ruang publik ketimbang datang ke layanan kesehatan jiwa, dr. Yekti menilai hal tersebut dipengaruhi oleh akses dan persepsi.

“Fasilitas kesehatan jiwa memang belum sepenuhnya menjangkau anak-anak dan remaja. Selain itu, mereka cenderung tidak ingin ribet,” katanya.

Meski demikian, ia menilai kesadaran kesehatan mental generasi muda saat ini justru semakin meningkat. Banyak remaja yang datang berkonsultasi dengan pemahaman awal tentang kondisi dirinya, bahkan setelah berkonsultasi secara daring melalui layanan kesehatan digital.

“Sekarang banyak remaja yang sudah sadar, datang ke sini sudah dengan pemahaman kondisi dirinya. Bahkan ada yang sebelumnya konsultasi lewat aplikasi kesehatan lalu diarahkan ke psikiater,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini layanan deteksi dini kesehatan mental remaja sudah tersedia di puskesmas, didukung dinas sosial melalui perlindungan anak, serta peran sekolah melalui UKS dan skrining kesehatan mental.

“Kalau semua unsur ini berjalan dan saling mendukung, masalah kesehatan mental pada anak dan remaja sebenarnya bisa ditangani sejak dini,” pungkas dr. Yekti.

Penulis: RUDI YUNI Editor: JAOHAR