Inti Berita:
• BRIN dorong standar plug & socket untuk percepat kendaraan listrik roda dua.
• Tantangan utama: infrastruktur minim, baterai mahal, dan range anxiety.
• Standar baru mengacu internasional tapi disesuaikan dengan Indonesia.
• BRIN kembangkan fast charging SONIK R2, isi baterai bisa 20 menit.
Targetnya ekosistem kendaraan listrik nasional lebih terintegrasi dan kompetitif.
SUARA TRENGGALEK – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat perannya dalam mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mendorong standardisasi plug dan socket sebagai komponen penting percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB), khususnya roda dua.
Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rahman Priandana, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat tiga tantangan utama dalam pengembangan kendaraan listrik.
Yakni keterbatasan infrastruktur pengisian daya, tingginya biaya baterai, serta kekhawatiran pengguna terhadap jarak tempuh atau range anxiety.
“Saat ini ada tiga tantangan kendaraan listrik, yakni infrastruktur stasiun daya yang masih sedikit, kedua biaya baterai yang mahal, dan ketiga adanya kekhawatiran berkendara jarak jauh akibat stasiun daya yang terbatas,” jelas
Eka dalam program Kelas Periset BRIN Edisi XIV yang disiarkan melalui YouTube BRIN Indonesia, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, di Indonesia tantangan tersebut semakin kompleks karena masih minimnya investasi pada infrastruktur penukaran baterai maupun pengisian cepat.
Selain itu, model bisnis battery swapping juga menghadapi kendala, mulai dari kebutuhan investasi besar hingga skema kerja sama dengan penyedia listrik.
Eka menegaskan, interoperabilitas menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang kuat.
Tanpa adanya standar plug dan socket yang seragam, pengembangan infrastruktur pengisian daya tidak akan berjalan optimal.
“Interoperabilitas menjadi kunci. Tanpa standar plug dan socket yang seragam, ekosistem pengisian daya tidak akan berkembang optimal,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN menginisiasi pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk plug dan socket pengisian cepat kendaraan listrik roda dua.
Desain yang diusulkan mengacu pada standar internasional IEC 62196-6, dengan penyesuaian karakteristik lokal.
Menariknya, desain fisik plug tersebut terinspirasi dari bentuk perisai lambang Pancasila sebagai simbol identitas nasional sekaligus penegasan karya anak bangsa.
Standardisasi ini diharapkan mampu meningkatkan kompatibilitas antarperangkat, mendorong investasi stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), serta memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Selain itu, produsen kendaraan tetap dapat berinovasi tanpa harus menyeragamkan desain baterai.
BRIN juga telah mengembangkan prototipe stasiun pengisian cepat roda dua bernama SONIK R2 dengan kapasitas hingga 6,6 kW.
Teknologi ini mampu memangkas waktu pengisian baterai secara signifikan, bahkan hingga 20 menit untuk baterai berbasis LiFePO4.
Sistem tersebut dilengkapi fitur keselamatan serta mendukung integrasi dengan sistem manajemen berbasis protokol internasional.
Dalam implementasinya, teknologi ini menggunakan electric vehicle charge controller (EVCC) untuk menjembatani berbagai sistem komunikasi baterai dari beragam produsen.
Saat ini, usulan standar plug dan socket masih dalam tahap pembahasan bersama Badan Standardisasi Nasional (BSN). BRIN juga terus berkoordinasi dengan kementerian, asosiasi industri, dan mitra swasta.
Ke depan, tantangan utama terletak pada penerapan standar nasional secara wajib oleh produsen kendaraan listrik, serta upaya mendorong standar tersebut dapat diadopsi secara global.
Melalui inisiatif ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi energi dan transportasi berkelanjutan berbasis riset dan inovasi, guna mempercepat terwujudnya ekosistem kendaraan listrik nasional yang terintegrasi dan kompetitif.











