SUARA TRENGGALEK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu SPPG di Kabupaten Trenggalek kembali menjadi perhatian dan perbincangan hangat.
Keluhan muncul dari dapur Yayasan Al Mursyid yang berlokasi di Desa Ngetal, Kecamatan Pogalan, terkait dugaan buah tidak layak konsumsi dalam paket makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat.
Seorang warga yang meminta identitasnya disamarkan, sebut saja Sukamti, mengungkapkan bahwa buah jeruk yang diterima dalam paket MBG berbau tidak sedap dan ditemukan ulat di dalamnya.
“Buah jeruk sudah berbau basi, di dalamnya ada ulat,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Tak hanya itu, ia juga menyoroti variasi menu yang dinilai kurang beragam dan cenderung berulang setiap hari.
Menu disebut didominasi tahu, tempe, telur, dan ayam, sementara sayuran kerap berupa tumis jagung, sawi, kubis, serta wortel yang dinilai keras dan kurang layak dimasak.
Menurutnya, keluhan serupa sebenarnya sudah lama dirasakan sejumlah wali murid, namun banyak yang enggan menyampaikan secara terbuka.
“Banyak yang mengeluh, tapi tidak berani angkat bicara,” tambahnya.
Keluhan tersebut memunculkan pertanyaan terkait pengawasan mutu bahan pangan dan evaluasi distribusi MBG di tingkat dapur penyedia, mengingat program ini menyasar anak sekolah yang membutuhkan asupan gizi layak dan aman.
Klarifikasi Korwil SPPG Trenggalek
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Trenggalek, Neo Ordikla, memberikan klarifikasi.
Ia membenarkan bahwa menu yang dipersoalkan berasal dari SPPG Yayasan Al Mursyid dan didistribusikan kepada penerima manfaat pada Kamis, 13 Februari 2026.
“Menu tersebut memang benar dari SPPG Yayasan Al Mursyid Desa Ngetal, Pogalan. Itu termasuk menu kering yang dikirim ke penerima manfaat pada Kamis, 13 Februari 2026,” jelas Neo melalui pesan teks.
Neo menegaskan bahwa pihak SPPG telah melakukan penyortiran saat bahan baku diterima dari pemasok. Namun, karena buah yang dibagikan bukan buah potong, potensi kerusakan di bagian dalam sulit terdeteksi dari luar.
“SPPG sudah menyortir saat barang datang. Karena buah tersebut bukan buah potong, untuk mendeteksi busuknya juga sulit,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya mengaku telah melakukan koordinasi internal dan akan mengevaluasi menu serta rantai pasok bahan baku, khususnya dari pemasok buah.
“Kami telah berkoordinasi dengan tim divisi terkait dan akan mengevaluasi, terutama dari suplayer buah tersebut,” tegasnya.
Atas kejadian itu, Korwil SPPG Trenggalek memastikan evaluasi akan dilakukan guna mencegah kejadian serupa terulang dan menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis agar tetap sesuai standar keamanan dan kelayakan konsumsi.











