PERISTIWA

AMAN Jadi Tagline Baru Polres Trenggalek

×

AMAN Jadi Tagline Baru Polres Trenggalek

Sebarkan artikel ini
AKBP Indra saat menggelar konsolidasi internal bersama seluruh jajaran

SUARATRENGGALEK.COM – Tagline “Aman” menjadi jargon baru jajaran Polres Trenggalek. Sepekan menjabat, Kapolres Trenggalek AKBP Indra Ranu Dikarta tancap gas melakukan konsolidasi internal.

Arahan perdananya kepada para jajaran adalah menekankan bahwa tugas pokok kepolisian yang paling utama adalah pemeliharaan Kamtibmas yang kondusif serta terciptanya ketertiban sosial.

“Kata Aman itu sendiri memiliki makna yang cukup mendalam,” ucap AKBP Indra,” Senin (22/7/2024).

Dimana menurut AKBP Indra, setiap langkah dan upaya yang tergelar harus mampu membawa rasa aman bagi masyarakat. Disisi yang lain, kata “AMAN” ini merupakan akronim dari Agamis, Merakyat, Amanah dan Nasionalis.

Pada setiap kata tersebut memiliki arti dan penjabaran yang cukup luas dan wajib dijalankan oleh setiap anggota Polres Trenggalek.

“Ini adalah doa kita semua agar Trenggalek senantiasa aman, terhindar dari segala marabahaya, tenteram dan sejahtera,” harapnya.

Lebih lanjut AKBP Indra menerangkan, kata agamis sendiri dapat diartikan bahwa setiap anggota Polres Trenggalek harus mampu menjadi suri tauladan dalam peningkatan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Juga agar bisa mendorong individu dan kelompok yang lain untuk berperilaku dan bersikap berdasarkan norma agama sesuai dengan keyakinan masing-masing.

“Pola tindak dan pola pikir dalam bertugas didasarkan nilai-nilai keagamanaan sehingga dapat dilaksanakan dengan ikhlas,” jelasnya menerangkan.

Sedangkan kata merakyat memiliki makna setiap anggota harus bisa membaur, peka terhadap lingkungan, membuka sekat antara polisi dengan masyarakat sehingga bisa lebih memahami tentang apa yang dibutuhkan dan menjadi harapan masyarakat luas.

“Semua yang kita lakukan adalah untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat,” imbuhnya.

Sementara kata amanah, merujuk pada sikap yang tulus, ikhlas dalam melayani masyarakat, melaksanakan tugas pokok sesuai dengan kewenangan yang dimiliki serta menjaga marwah dan kepercayaan yang diberikan.

Terakhir, Nasionalisme adalah bentuk kecintaan kepada bangsa dan negara. Mengedepankan nilai-nilai profesionalitas, integritas, dedikasi dan loyalitas kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demi tercapainya tujuan nasional. Keseluruhan dijalankan dalam koridor tugas, fungsi dan kewenangan sebagaimanan diatur dalam Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Mari laksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, jangan ada pelanggaran sekecil apapun. Demi dan untuk masyarakat, bangsa dan negara, dari Trenggalek untuk Indonesia,” tegas AKBP Indra.

Oleh sebab itu, AKBP Indra meminta agar seluruh anggota khususnya para perwira fokus terhadap tugas pokok dan job discription masing-masing.

Hal ini sangat penting agar dalam menunaikan tugas selaku pelindung, pengayom, pelayanan dan penegak hukum dapat berjalan lebih optimal.

Trenggalek
PERISTIWA

Perhutani Trenggalek Siaga Hadapi Ancaman Kebakaran Hutan, Gunung Orak Arik Jadi Titik Rawan

Inti Berita:
Perhutani dan instansi terkait siaga hadapi kemarau panjang 2026
Puncak kemarau diprediksi terjadi Juli–Agustus
Titik rawan kebakaran: Gunung Orak-Arik, Jaas, dan Gembleb
Pembakaran lahan jadi pemicu utama kebakaran
Antisipasi kekeringan dilakukan dengan penambahan sumber air dan biopori

SUARA TRENGGALEK – Perhutani bersama sejumlah instansi di Kabupaten Trenggalek meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan kekeringan yang diprediksi meningkat saat musim kemarau 2026.

Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, mengatakan langkah antisipasi dilakukan menyusul peringatan adanya fenomena kemarau panjang yang dipengaruhi perubahan iklim global.

“Ini bagian dari kesiapsiagaan perubahan iklim. Kita mendapat arahan langsung, termasuk dari Wakapolri, untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang tahun ini,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut Hermawan, koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama Polres Trenggalek, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, hingga instansi terkait lainnya.

Dalam rapat tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga memaparkan prediksi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.

Sebagai langkah awal, pihaknya akan menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, terutama terkait larangan membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kita lakukan edukasi bersama BPBD, termasuk pemasangan banner, flyer, dan kampanye di media sosial agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar,” jelasnya.

Hermawan mengungkapkan, sejumlah titik rawan kebakaran di Trenggalek telah dipetakan. Di antaranya kawasan Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas, serta wilayah perbukitan di sekitar Desa Gembleb.

Menurutnya, aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat saat persiapan tanam menjadi salah satu pemicu utama kebakaran hutan.

“Biasanya lahan dibersihkan lalu dibakar. Ini yang menjadi pemicu kebakaran, apalagi saat angin kencang api bisa merambat ke kawasan hutan,” ujarnya.

Selain kebakaran, potensi kekeringan juga menjadi perhatian serius. Hermawan menyebut pihaknya telah berkoordinasi untuk mengantisipasi krisis air seperti yang terjadi pada 2024 lalu.

Upaya yang dilakukan antara lain memperbanyak titik penampungan air, termasuk pembuatan biopori serta inventarisasi sumber mata air di kawasan hutan.

“Kita inventarisasi mata air yang ada untuk mendukung daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, seperti wilayah Panggul dan sekitarnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi potensi bencana tersebut.

“Kita harus bahu-membahu agar kejadian kekeringan seperti tahun 2024 tidak terulang,” tegasnya.

Hermawan juga menyoroti potensi kebakaran di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga, khususnya di wilayah Gunung Orak-Arik.

Area tersebut dinilai rawan karena berada di atas lahan perkebunan milik warga yang kerap dibersihkan dengan cara dibakar.

“Yang paling rawan itu di Orak-Arik karena dekat dengan permukiman. Kalau pembakaran di kebun tidak diawasi, apinya bisa merambat ke atas,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Gunung Jaas juga menjadi perhatian karena banyaknya bambu kering yang mudah terbakar.

Ia bahkan menyinggung kasus kebakaran sebelumnya yang diduga dipicu oleh aktivitas manusia.

Dengan berbagai langkah tersebut, Perhutani berharap potensi kebakaran hutan dan kekeringan di Trenggalek dapat ditekan sejak dini.