Inti Berita:
Hasil uji laboratorium BBLK Surabaya mengonfirmasi adanya kontaminasi bakteri Bacillus cereus pada menu acar dan tempe mendoan dari SPPG Karangan, Trenggalek.
Kontaminasi ini menjadi penyebab 77 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MA dan SMP Global Karangan mengalami keluhan pencernaan.
Sementara itu, sampel makanan lainnya seperti nasi putih dan ayam bumbu rendang dinyatakan aman dari kontaminasi bakteri.
SUARA TRENGGALEK – Hasil pemeriksaan laboratorium sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangan, Kabupaten Trenggalek, ditemukan bakteri Bacillus cereus pada menu acar dan tempe mendoan.
Temuan tersebut berkaitan dengan kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyebabkan 77 penerima manfaat di MA Global dan SMP Global, Kecamatan Karangan, mengalami keluhan sakit perut, mulas, dan diare.
Saat ditemui awak media, Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto mengatakan sampel makanan dari SPPG Karangan telah diperiksa di BBLK Surabaya.
Hasil pemeriksaan tersebut diterima satgas MBG dengan tanggal pemeriksaan tercatat 22 September 2026.
“Dari hasil pemeriksaan itu kita temukan untuk nasi aman, jadi tidak ada bakterinya. Kemudian rendang aman. Nah, kemudian yang ada bakteri yaitu acar,” jelas Sunarto.
Menu yang diperiksa terdiri dari nasi putih, ayam bumbu rendang tanpa santan, acar timun dan wortel, tempe goreng mendoan, serta melon.
Menurut Sunarto, selain pada acar, Bacillus cereus juga ditemukan pada tempe mendoan.
“Dua-duanya adalah Bacillus cereus,” ujarnya, Senin (28/9/2026).
Satgas Masih Cocokkan dengan Kondisi SPPG
Sunarto menjelaskan Bacillus cereus merupakan bakteri yang banyak ditemukan di alam. Bakteri tersebut dapat membentuk spora yang relatif sulit hilang meskipun melalui proses pemanasan.
Terkait temuan pada acar, Sunarto mengatakan makanan tersebut tidak melalui proses pemasakan seperti menu lainnya karena terdapat bahan yang digunakan dalam kondisi mentah.
Sementara tempe mendoan telah melalui proses penggorengan. Karena itu, pihaknya masih perlu mendalami bagaimana bakteri tersebut dapat ditemukan pada makanan tersebut.
“Kemarin untuk semua sampel ini dikirim yang dari SPPG dikirim ke BPLK Surabaya,” katanya.
Satgas MBG Trenggalek berencana melakukan pendalaman terhadap kondisi SPPG Karangan dan mencocokkannya dengan hasil pemeriksaan laboratorium.
“Untuk SPPG Karangan ini secara detail nanti insyaallah hari Rabu akan kita detailkan kembali, kita cocokkan hasil ini dengan yang ada di SPPG tersebut. Kita plenokan nanti ya, baru kemudian mungkin kita bisa mengambil kesimpulan,” jelas Sunarto.
Soroti Proses Pencucian dan Higiene Sanitasi
Menurut Sunarto, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah proses pencucian peralatan.
Ia menyebut potensi masalah dapat terjadi apabila proses pencucian alat tidak dilakukan dengan baik.
Selain itu, peralatan yang digunakan untuk bahan makanan mentah juga seharusnya tidak digunakan kembali untuk makanan yang siap dikonsumsi tanpa proses yang sesuai.
“Ini terjadi biasanya yang pertama pada alat. Pencucian alat yang pertama, pencucian alat yang kurang bagus. Kemudian yang kedua, alat itu digunakan antara makanan, bahan makanan dan makanan yang siap dikonsumsi,” lanjutnya.
Sunarto juga menyoroti ketersediaan sarana dan prasarana serta penerapan higiene sanitasi, termasuk kualitas air yang digunakan untuk mencuci.
Menurutnya, kualitas air juga perlu diperiksa secara berkala. Ia menyebut pemeriksaan kualitas air diwajibkan dilakukan setiap tiga bulan.
Terkait tempe mendoan yang telah melalui proses penggorengan, Sunarto mengatakan kontaminasi masih mungkin terjadi setelah proses tersebut.
Hal itu dapat terjadi apabila makanan terlalu lama berada setelah proses penggorengan, bersentuhan dengan bahan makanan lain, maupun ketika proses penyajian tidak didukung penggunaan alat pelindung diri (APD) secara optimal.
“Terus tempe mendoan ini kan mulai proses penggorengan yang cukup panjang. Tapi kok masih terkena? Masih terkena. Nah, ini bisa terjadi sebenarnya karena terlalu lama,” katanya.
“Dia terlalu lama dari proses penggorengan, terus bisa juga tercemar karena makanan itu bertemu dengan bahan makanan. Atau pada saat penyajian APD tidak digunakan secara optimal,” sambungnya.
Sementara itu, hasil pemeriksaan terhadap melon dinyatakan tidak menunjukkan masalah.
“Untuk melon ini bagus, melonnya tidak ada masalah. Kemungkinan yang mengelola ini juga orangnya bisa berbeda,” ungkap Sunarto.
Higiene Sanitasi Dinilai Belum Optimal
Dari hasil pemeriksaan tersebut, Sunarto mengatakan kondisi higiene dan sanitasi di SPPG Karangan diduga belum optimal.
Hal tersebut dapat berkaitan dengan penerapan standar operasional prosedur (SOP) maupun ketersediaan sarana dan prasarana.
“Kesimpulannya bahwa higienis sanitasinya mungkin belum optimal. Baik dari sisi SOP yang tidak dilaksanakan maupun ketersediaan sarana-prasarana,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kemungkinan terjadinya pencemaran silang dari bahan makanan ke makanan yang siap dikonsumsi.
“Termasuk adalah kemungkinan adanya pencemaran dari bahan makanan ke makanan dan ini juga masih sering kita temukan,” imbuhnya.
77 Penerima Manfaat Mengalami Keluhan
Sebelumnya, sebanyak 77 penerima manfaat MBG di MA Global dan SMP Global, Kecamatan Karangan, dilaporkan mengalami keluhan setelah menyantap menu MBG yang didistribusikan dari SPPG Karangan.
Keluhan tersebut diketahui pada 15 September 2026, sehari setelah makanan dikonsumsi pada 14 September 2026.
Dari 77 orang tersebut, sebanyak 34 orang berasal dari MA Global, terdiri atas 27 siswa dan 7 guru.
Sementara dari SMP Global terdapat 43 orang, terdiri atas 41 siswa dan 2 guru.
Sunarto sebelumnya mengatakan laporan diterima setelah sejumlah penerima manfaat mengeluhkan diare dan sakit perut.
Atas kejadian tersebut, SPPG Karangan mendapatkan sanksi suspend yang efektif mulai 16 September 2026.
Sanksi diberikan setelah puluhan penerima manfaat MBG mengalami keluhan berupa diare dan sakit perut yang diduga berkaitan dengan konsumsi menu MBG dari SPPG Karangan.











