Inti Berita:
• Sebanyak 77 penerima manfaat (68 siswa dan 9 guru) dari MA Global dan SMP Global di Kecamatan Karangan, Trenggalek, mengalami diare dan sakit perut pada Selasa (15/9/2026).
• Keluhan kesehatan tersebut diduga berkaitan dengan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi pada Senin (14/9/2026) dari SPPG Karangan olahan Yayasan Mulia Hiroku Gakkou.
• Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, menyatakan pihak terkait tengah melakukan audit proses penyediaan makanan dari bahan baku hingga distribusi, serta menguji sampel makanan ke laboratorium di Surabaya.
SUARA TRENGGALEK – Sebanyak 77 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MA dan SMP Global, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, mengeluhkan gangguan kesehatan berupa diare dan sakit perut, Selasa (15/9/2026).
Insiden yang menimpa siswa hingga guru tersebut diduga terjadi usai menyantap menu MBG olahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangan, yang dikelola Yayasan Mulia Hiroku Gakkou, pada Senin (14/9/2026).
Dari 77 penerima manfaat yang mengalami keluhan, sebanyak 34 orang berasal dari MA Global, terdiri atas 27 siswa dan 7 guru. Sementara dari SMP Global terdapat 43 orang, terdiri atas 41 siswa dan 2 guru.
Usai mendengar laporan dari penerima manfaat, Satgas MBG Trenggalek bersama Dinas Kesehatan langsung turun ke lokasi untuk melakukan penanganan serta mengambil sampel makanan untuk di kirim ke laboratorium Surabaya.
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek sekaligus Asisten I Setda Trenggalek, Sunarto mengatakan laporan diterima setelah sejumlah penerima manfaat mengeluhkan diare dan sakit perut.
“Jadi tadi pagi itu ada laporan dari penerima manfaat yang ada di SMP dan MA Global, bahwa ada sebagian muridnya yang terkena keluhan berupa diare, kemudian ada sakit perut, dan lain sebagainya seperti itu,” kata Sunarto.
Menurut Sunarto, dugaan keterkaitan gangguan kesehatan tersebut dengan makanan MBG masih dalam proses penelusuran.
Sebab, menu yang diduga berkaitan dengan keluhan merupakan makanan yang dikonsumsi pada Senin (14/9/2026).
Sementara itu, menu MBG untuk Selasa belum dikonsumsi saat laporan diterima.
“Yang tercatat ada 77 anak ya, 77 anak. Ini diduga dari proses makan MBG yang kemarin. Karena waktu untuk hari ini belum dikonsumsi, seperti itu,” ujarnya.
Setelah laporan diterima, tim Satgas MBG bersama koordinator wilayah (Korwil), Dinas Kesehatan, dan Puskesmas mendatangi lokasi untuk melakukan penelusuran terhadap penerima manfaat.
Sunarto mengatakan penanganan terhadap penerima manfaat yang mengalami keluhan menjadi prioritas.
Tim kemudian melakukan pelacakan terhadap penerima manfaat lainnya untuk mengetahui sebaran keluhan.
“Terus kemudian kita lakukan penelusuran pada penerima manfaat, yaitu sekitar 1.000 sekian. Itu yang masih terdeteksi hanya itu tadi, hanya 77 orang tersebut,” jelasnya.
Menu MBG yang disantap penerima manfaat pada Senin (14/9/2026) terdiri atas ayam bumbu rendang tanpa santan, acar timun dan wortel, tempe goreng, serta melon.
Untuk memastikan kemungkinan penyebab munculnya keluhan, tim akan melakukan pemeriksaan terhadap SPPG sekaligus menelusuri proses penyediaan makanan, mulai dari bahan baku diterima hingga makanan sampai kepada penerima manfaat.
“Nah, di sini nanti kita cari. Untuk kasus seperti ini biasanya kita seperti mirip audit, kita catat nanti proses mulai dari bahan itu datang sampai nanti penerima manfaat,” jelas Sunarto.
Selain pemeriksaan terhadap SPPG, sampel makanan juga akan diambil untuk pemeriksaan laboratorium. Sampel tersebut nantinya dikirim ke Surabaya karena fasilitas pemeriksaannya dinilai lebih lengkap.
“Lab-nya nanti kan diambil, nanti tetap dikirim ke Surabaya yang cukup lengkap ya. Jadi nanti akan dicek beberapa bakteri,” katanya.
Sunarto menjelaskan, laboratorium milik Pemerintah Kabupaten Trenggalek memiliki kemampuan mendeteksi sejumlah parameter, termasuk bakteri E. coli.
Sementara pemeriksaan di Surabaya dapat dilakukan terhadap lebih banyak jenis bakteri sekaligus membantu menelusuri kemungkinan sumber penyebab gangguan kesehatan.
“Kalau di sini lab Pemkab Trenggalek hanya bisa mendeteksi beberapa saja, seperti E. coli. Kalau di Surabaya kan lab-nya lengkap, terus kemudian nanti di sana ada analisis penyebab itu dari mana, seperti itu,” ujarnya.
Satgas MBG Trenggalek juga telah melaporkan insiden tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Sunarto menyebut SPPG yang mengalami insiden berisiko mendapatkan penghentian sementara atau suspend.
Namun, keputusan tersebut masih menunggu perkembangan hasil pemeriksaan dan penelusuran.
“Terus kemudian kita juga tetap melakukan pemeriksaan terhadap SPPG. Dan ini sudah dilaporkan ke BGN Pusat, biasanya akan berisiko terjadinya suspend. Tapi nanti kita tunggu nanti perkembangannya seperti apa,” tegasnya.
Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami 77 penerima manfaat tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan penelusuran lebih lanjut.
Hingga berita ini diterbitkan, Satgas MBG Trenggalek masih belum menyimpulkan bahwa keluhan tersebut disebabkan oleh menu MBG sebelum hasil pemeriksaan laboratorium keluar.











