Inti Berita:
• Pameran Festival Jaranan Terbuka Trenggalek (FJTT) 2026 mengusung konsep baru dengan menonjolkan profil seniman, pengrajin, dan karakter di balik karya, bukan sekadar memajang artefak kuno.
• Tim kurasi pameran, Saga Tanjung, menjelaskan pendekatan ini bertujuan mengikis klaim gaya kedaerahan semata dan memfokuskan identitas pada keunikan tangan para kreator.
• Pameran menampilkan karya inovatif, seperti pecut dari material bambu alami ramah lingkungan buatan Sanggar Kudo Tri Lestari, serta keterlibatan ibu-ibu PKK di Sanggar Mayangsari yang mengubah stigma jaranan agar lebih inklusif.
SUARA TRENGGALEK – Pameran rangkaian Festival Jaranan Terbuka Trenggalek (FJTT) 2026 kali ini tampil beda.
Berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang mendominasi pajangan artefak kuno, pameran tahun ini diajak bergeser untuk mengenal lebih dekat sosok seniman, pengrajin, serta karakter di balik lahirnya setiap karya jaranan.
Pendekatan ini sengaja diusung guna mengajak masyarakat melihat seni jaranan tidak lagi sebatas klaim atau label gaya kedaerahan semata, melainkan dari keunikan tangan para kreatornya.
Geser Perspektif Gaya Daerah ke Identitas Karya Pengrajin
Tim Pameran FJTT 2026, Saga Tanjung, menjelaskan bahwa selama ini publik kerap menggeneralisasi gaya barongan berdasarkan daerah asal, seperti gaya Kediri atau Tulungagung.
Padahal, penamaan tersebut muncul karena populernya karya seniman tertentu yang kemudian dianggap mewakili identitas wilayahnya.
“Di sini kita lebih menekankan kepada pengrajin-pengrajinnya,” ujar Saga.
Melalui riset dan pembukaan kurasi selama kurun waktu satu bulan, tim mengelilingi berbagai sanggar untuk mengangkat cerita-cerita unik di balik layar pembuatan jaranan.
Hadirkan Pecut Bambu Ramah Lingkungan hingga Keterlibatan Ibu-ibu PKK
Dari hasil kurasi, pameran ini menonjolkan temuan unik dari dua sanggar lokal:
Sanggar Kudo Tri Lestari (Jaranan Njampi): Mempertahankan pembuatan pecut dari material bambu alami yang dicari dan diolah secara mandiri sehingga menghasilkan karakter yang unik dan ramah lingkungan.
Sanggar Mayangsari: Mengikis stigma bahwa jaranan identik dengan hal mistis, menyeramkan, dan kaku untuk laki-laki saja.
Keterlibatan ibu-ibu PKK dalam kesenian ini membawa warna baru yang lebih inklusif agar jaranan dapat dinikmati semua kalangan.
“Mereka mengubah perspektif negatif tentang jaranan yang menyeramkan dan hanya bisa dinikmati oleh laki-laki. Mereka hadir dengan warna baru agar bisa dinikmati siapa pun dan lebih inklusif,” terang Saga.
Suguhkan Variasi Eblek Turonggo Yakso yang tak Banyak Diketahui Publik
Saga menuturkan, jika pameran edisi sebelumnya berfokus pada temuan bentuk fisik (artefak) kuno seperti barongan dan eblek tua, tahun ini timnya menyuguhkan ragam variasi bentukan karya.
“Sekarang kita mencoba menghadirkan variasi yang ada, seperti eblek Turonggo Yakso yang ternyata memiliki banyak sekali variasi,” ungkapnya.
Pengunjung Apresiasi Suguhan Elemen Visual dan Edukasi Sejarah
Pendekatan edukatif ini mendapatkan respons positif dari masyarakat. Salah seorang pengunjung, Thalia Silviana, mengapresiasi terobosan ruang pameran tersebut karena menyajikan sisi visual yang jarang terlihat di panggung pertunjukan biasa.
“Menurut saya lumayan menarik karena di sini tidak hanya melihat jaranan sebagai artefak, tradisi, atau pertunjukan. Ada banyak elemen visual yang bisa ditampilkan dan jarang dilihat oleh orang-orang,” kata Thalia.
Thalia juga menyoroti keunikan ritual Jaranan Njampi yang mewajibkan penampil memainkan tiga jenis jaranan secara bersamaan dalam satu kali tanggapan/pentas.
Ia menilai ajang pameran seperti ini sangat efektif menjadi sarana literasi budaya bagi generasi muda.











