BUDAYA

Tradisi Metri Bumi di Trenggalek Digelar, Tanamkan Kesadaran Pentingnya Menjaga Alam

×

Tradisi Metri Bumi di Trenggalek Digelar, Tanamkan Kesadaran Pentingnya Menjaga Alam

Sebarkan artikel ini
Trenggalek
Pelaksanaan tradisi Metri Bumi yang dihadiri Bupati Trenggalek.
Inti Berita:
• Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo menilai tradisi Metri Bumi Trenggalek menjadi bentuk budaya yang menanamkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam.
• Menurutnya, manfaat menjaga alam Trenggalek tidak hanya dirasakan masyarakat setempat, tetapi juga manusia secara umum.
• Sementara Bupati Mochamad Nur Arifin menegaskan kehidupan dan perekonomian Trenggalek sangat bergantung pada kelestarian alam.

SUARA TRENGGALEK – Rektor Universitas Brawijaya (UB), Prof. Widodo, mengapresiasi tradisi Metri Bumi yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Trenggalek sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian alam dan sumber air.

Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat Trenggalek, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlangsungan kehidupan manusia secara umum.

Hal itu disampaikan Prof. Widodo saat menghadiri kegiatan peresmian Laboratorium Living Life di Pantai Kili-Kili, Kecamatan Panggul, Jumat (20/8/2026).

Prof. Widodo menilai komitmen Kabupaten Trenggalek dalam menjaga alam perlu terus dipupuk. Menurutnya, upaya pelestarian lingkungan akan lebih kuat apabila berjalan beriringan dengan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Ini salah satu tradisi, salah satu budaya yang mana budaya ini diperuntukkan bagaimana kita ingat, sadar bahwa hidup kita itu sangat tergantung dari kelestarian bumi itu sendiri. Ini hal yang sangat bagus dan banyak hal program-program kelestarian alam dan seterusnya itu tidak berjalan dengan baik kalau tidak diikuti dengan budaya,” ucapnya.

Metri Bumi Dinilai Bentuk Kepedulian terhadap Alam

Prof. Widodo mengatakan tradisi Metri Bumi menunjukkan adanya pola pikir dan perilaku masyarakat yang telah melekat untuk menjaga kelestarian alam.

“Saya melihat dengan budaya ini menunjukkan bahwa mindset dan juga tentu perilaku yang menyebabkan sebuah tradisi dan budaya ini sudah melekat di tengah masyarakat Trenggalek, yang mana dia paham, peduli untuk melestarikan alam,” imbuhnya.

Ia menilai kebermanfaatan upaya menjaga alam yang dilakukan Trenggalek tidak berhenti di wilayah tersebut.

“Ini tentu menguntungkan tidak hanya di Trenggalek, tetapi tradisi ini menguntungkan manusia secara umum di dunia ini. Karena apa yang dilakukan Trenggalek dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat manusia,” jelas Rektor Universitas Brawijaya itu.

Metri Bumi sendiri merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek. Kegiatan tersebut rutin dilakukan untuk menjaga keberadaan sumber air yang menjadi bagian penting bagi kehidupan makhluk hidup.

Bupati: Kehidupan Masyarakat Bergantung pada Alam

Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengatakan kehidupan masyarakat sangat bergantung pada kemampuan alam dalam menyediakan sumber kehidupan.

Menurutnya, sebagian besar potensi ekonomi Trenggalek masih berbasis pada sumber daya alam, mulai dari pertanian, peternakan hingga perikanan.

“Perlu diingat bahwa masyarakat bisa hidup karena buminya masih memberikan kehidupan. Kalau kita lihat dari potensi hampir semua pendapatan atau dari sisi ekonomi kita, itu didapatkan dari basis alam. Apalagi kita masih berpijak kepada pertanian, peternak dan juga perikanan,” jelasnya.

Ia mencontohkan keberlangsungan sektor perikanan sangat bergantung pada kondisi laut, sementara pertanian membutuhkan ketersediaan air.

“Tidak ada ikan kalau tidak ada laut yang masih terjaga. Kemudian tidak ada sawah yang baik kalau tidak ada air. Tidak ada air kalau tidak ada kawasan Karst atau kawasan hutan yang terjaga, maka itu menjadi satu rangkaian,” lanjutnya.

Menurut Mas Ipin, ketergantungan terhadap alam juga berlanjut pada sektor industri pengolahan hingga pariwisata.

“Kemudian step kedua adalah industri pengolahan. Industri pengolahan pun industri pengolahan dari hasil yang hulu. Kemudian yang ketiga dari hasil akomodasi pariwisata hiburan. Pariwisata kita semua berbasis alam. Kalau alamnya rusak maka Trenggalek juga akan rusak. Maka pendapatan Trenggalek, ekonomi Trenggalek juga akan rusak di situ,” jelasnya.

Karena itu, ia menilai peringatan Hari Jadi Trenggalek juga menjadi momentum untuk mengingat kembali hubungan masyarakat dengan alam.

“Jadi bisa saya simpulkan bahwa rakyat Trenggalek hidup tergantung dengan alam. Maka kalau kita ingin merayakan hari jadi kita, ya yang kita rayakan adalah kebersamaan kita bersama alam,” tutup Mas Ipin.